Dear Nolan

Dear Nolan
Cocok



Sepanjang jalan keduanya hanya menikmati lagu yang keluar dari stereo mobil. Tidak ada obrolan yang membuka suara untuk memulai obrolan.


Nesya juga heran kenapa ia kehabisan kata-kata ketika berdekatan dengan Nolan. Tapi satu yang Nesya syukuri, Ada untungnya juga Bu tari sakit jadi seperti dapat lotre. Ia semakin dekat dengan Bang Nolan.


Astaghfirullahaladzim, durhakalah Nesya berbahagia di atas penderitaan Bu tari. Nesya langsung mengelus dadanya berharap niat perbuatannya tidak dicatat para malaikat. Bu Tari orang yang merawatnya di masa kecilnya sebelum dia jadi seperti sekarang.


Nolan melirik sekilas Nesya yang melakukan hal aneh, dia memukul keningnya sendiri.


"Kamu ngapain?" tanya Nolan melihat Nesya yang bertingkah aneh.


Nesya langsung kaget mendengar Nolan mulai berbicara.


"Nggak apa-apa Bang, Nesya tadi berpikir hal buruk jadi sebaiknya Nesya menyesali dengan bilang amit-amit." Neysa berkata jujur.


"Kamu aneh-aneh aja," balas Nolan kembali fokus mengemudi.


Nesya jadi tersipu, entah kenapa perasaan semakin berdebar dekat dengan Nolan begini. Ia membuang pandangan ke kaca jendela mobil. Mendadak Nesya tak berani melihat ke arah kanannya. Nesya merasa itu tidak akan bagus untuk kerja jantung dan otaknya.


Tak lama setelah perjalanan penuh keheningan mereka tiba di panti asuhan tempat biasa Nolan kunjungi.


Kenapa kebersamaan ini cepat sekali berlalu. Guman Nesya bersiap turun dari mobil.


Mereka langsung di sambut anak-anak yang berkerumun mendekati Nolan untuk salim. Nesya tersenyum melihat Nolan yang begitu dekat dengan anak-anak. Anak-anak yang manis, Nesya berharap salah satu mereka atau mereka semua suatu saat nanti di adopsi dan mendapatkan kasih sayang melimpah seperti dirinya.


Bang Nolan pun juga terlihat memasang wajah dan senyum semeringah yang pertama kali Nesya tahu sejak datang lagi ke kota ini.


Bang No, calon imam banget pokoknya.


Nesya tersenyum sendiri seperti orang yang hampir gila.


"Ayo temui Bu Tari," ujar Nolan kembali datar yang membangunkan lamunan Neysa.


Dengan langkah cepat Nesya mengekor Nolan di belakangnya.


Keduanya sampai di kamar Bu tari, terlihat Bu Tari yang tergolek lemas di atas tempat tidur. Dengan sigap Nesya menyalamin Bu tari. Bu tari terlihat begitu pangling melihat Nesya dan menerka-nerka siapa wanita ini.


"Mbak pacarnya Bang No?" tanya Bi Tari.


Maunya sih gitu Bu Tari.


"Bukan, ibu masa nggak ingat Nesya," ujar Nesya pede.


"Nesya?" Bu Tari nampak berpikir.


"Pasti ibu lupa, bila Bu bila. Nabilla waktu kecil aku di panggil."


"Billa anak Bu Serena dan Pak Roni anggota Dewan itu," Bu Tari terlihat bahagia menemukan sosok Nesya dalam ingatan terdalamnya.


"Bang No ingat," tanya Nesya berbunga-bunga seperti pakaian yang di celup softener.


"Ingat," jawab Nolan singkat. Sekarang Nolan mengingat Nesya adalah Billa.


Bocah ini yang dulu selalu sering aku jahili, sekarang dia menjelma jadi ciptaan Tuhan yang cantik. Nolan.


Nesya menghembuskan nafas kasar, basa-basi sedikit bisa nggak sih Bang No, bilang aku tambah cantik atau tambah lemak juga gak apa-apa.


"Kamu kelihatan cocok Bil sama Bang No," celetuk Bu Tari.


"Bu, tari bisa aja," jawab Nesya jadi merona merah.


"Bu Tari salah lihat," ucap Nolan begitu saja.


Deg. Nesya jadi lemas, dirinya seperti kehabisan tempat di hati Bang Nolan.


"Bu Tari sakit apa Bu?" tanya Nesya mengalihkan pembicaraan.


"Kepala Ibu berat sekali Nes, sekarang sering pusing."


"Bu Tari, Nesya periksa ibu dulu," tanya Nesya memegang pergelangan tangan Bu Tari.


"Kamu dokter Bil? Alhamdulillah." tanya Bu Tari.


"Masih calon Bu, doain ya Bu,"


"Semoga kamu jadi dokter yang Amana Billa."


"Amin," jawab Nesya sambil meriksa Bu Tari dengan stetoskop.


"Bu Tari harus banyak istirahat. Tekanan darah ibu naik. Nesya kasih resep obat nanti biar anak-anak yang nembus di apotik."


"Ya, makasih Billa," jawab Bu Tari.


.


.


.


.


.


Next ...