
Hanya butuh 30 menit untuk Nolan tiba di rumah. Keahlian Nolan menunggangi motor dengan kecepatan tinggi tidak diragukan lagi. Meskipun ia mengikuti ketentuan batas kecepatan maksimal yang di perbolehkan di jalan.
Ia berjalan tergesa memasuki rumah yang sudah sepi. Sepertinya penghuni rumah sudah ke kamar masing-masing untuk berisitirahat. Hanya ada beberapa pelayan rumah menyapa mengetahui kedatanganya.
Ia membuka pintu kamarnya, ruangan sudah gelap. Kemana Nesya? apa dia tak membaca pesan, kalau suaminya akan pulang. Nolan yang panik, segera mencari saklar lampu di tembok belakang pintu. Ia selalu saja ketakutan melihat apa yang dimiliki akan sekejap hilang. Nolan bernafas lega melihat ke arah ranjang berlapis sprei pink terdapat undukan tertutup selimut bulu berwarna pink juga. Nolan melempar tasnya ke sofa, dengan cekatan melepas sepatunya. Ia mulai berjalan mendekati ranjang. Ia membuka bagian atas selimut. Nampak wajah Nesya dengan tenangnya tertidur. Ia membelai pipi istrinya pelan. Entah apa yang sudah terjadi pada istrinya seharian di rumah. Ia tak menanyakan kabar karena mendiamkannya. Nolan juga melihat ada makanan yang masih utuh di nampan yang diletakan di meja. Apakah Nesya belum makan sejak tadi? Ia kembali panik.
Ia mengecup lembut bibir istrinya, ia tidak tega membangunkan tidur si istri. Ia membaringkan tubuhnya membelakangi tubuh Nesya. Tangan Nolan melingkar di perut si istri mendekap erat mencari kehangatan dari tubuh halal ini. Ia merindukan saat ini, tentu Nolan tidak akan tahan jika jauh dari Nesya berapa jam saja. Di ciumnya bahu Nesya yang sedikit terbuka.
Nesya mergerjapkan matanya, tak di sangkanya ia tertidur sekilas. Nesya merasakan sesuatu yang hangat dan hembusan nafas di bahunya. Lampu yang di padamkan juga menyala. Dengan setengah sadar ia merasakan kakinya yang berat tertidih sesuatu. Ia melihat tangan melingkar di perutnya. Ia juga merasakan sensasi geli lekuk lehernya. Nesya berbalik dan mengagetkan suaminya yang terpejam menikmati kulit tubuhnya.
"Bang No!" Nesya masih tidak percaya suaminya sudah berada di atas ranjang bersamanya.
"Kamu bangun?" Nolan megusap mata istrinya yang sembab entah karena menangis atau tidur lama, tapi sepertinya istrinya menangis seharian.
"Aku baru aja ketiduran, maaf nggak sambut Abang pulang. Bang No udah makan?" Nesya langsung bangun dari posisi tidur menegakkan tubuhnya.
Buru-buru Nolan menarik Nesya lagi agar merebahkan tubuhnya di sampingnya.
"Sini dulu Nes, kita harus bicara." Nolan malah mempererat pelukannya. Nesya membalas memeluk raga yang ia rindukan ini. Nesya masih tak percaya suaminya jadi lembut lagi, berbeda dengan tadi siang yang hampir membuat gemetar tak karuan.
"Maaf, aku memang salah Bang, aku yang memancing kemarahan Bang No, aku juga yang membuat keluarga Bang No kecewa." Nesya memulai pembicaraan terlebih dulu.
"Baguslah kalau kamu sadar!" ucap Nolan.
"Ih kok gitu ..." Desis Nesya kesal bangun dari pelukan suaminya dan menatap wajah tampan itu. Nolan ikut bangun mendekatkan wajahnya. Rasa takut Nesya kini seakan hilang.
"Maafkan suamimu juga Nes, aku kebawa emosi tadi. Seperti yang aku bilang, aku mencoba maklum kamu nggak dampingin aku waktu pembukaan. Tapi aku nggak bisa lihat kamu dekat-dekat dengan laki-laki lain. Aku serius marah kalau itu."
"Iya, tapi kan keadaannya mendesak. Aku terpaksa nerima tawaran dokter Rakha."
"Lain kali dalam keadaan apapun tetap hubungi dulu suamimu," seru Nolan lagi.
Nesya merangkul lengan suaminya. "Iya, aku juga nggak tahan kalau harus di diemin sama suami."
"Kamu pikir aku bisa apa jauh dari kamu sehari aja!"
"Jadi kita baikan nih!" Nesya mendongak dengan binar di wajahnya.
"Kalau kamu nggak mau juga gak apa-apa, aku marahi kamu lagi." Nolan mencoba bercanda.
"Ih ... sebel!" Nesya mendorong dada suaminya.
"Becanda Sayang!" Nolan menarik Nesya dan memeluknya erat.
Nolan melepaskan pelukannya, ia menangkap wajah istrinya. Dilihatnya mata sembab sang istri di wajah yang kembali ceria dan mengemaskan ini.
Nesya menunduk tak berani melihat wajah suaminya, ia bingung harus berkata. Nesya hanya mengangguk.
"Aku akan temui Mama sekarang dan meminta berhenti membahas masalah ini lagi!"
Nesya meraih tangan suaminya yang berdiri akan keluar kamar. "Jangan Bang No, sangat wajar mereka kesal sama aku. Karena aku udah membuat malu dan kecewa mereka. Please, malam ini aku nggak mau ada keributan lagi gara-gara aku."
Nolan mencium kening Nesya. "Maaf ya Nes, nggak seharusnya aku buat kamu nangis."
"Bang No nggak salah, akupun tak bisa di benarkan dalam hal ini Bang," balas Nesya.
"Ya udah kita nggak usah bahas yang sudah-sudah. Kalau begitu kita buat keributan di kamar aja," balas Nolan berbisik di telinga Nesya.
"Ih ... mulai kan," Nesya jadi merona malu.
"Tapi sebelumnya aku mau tanya, kenapa kamu nggak makan!" Nolan meraih nampan di meja samping ranjangnya.
"Aku nunggu Bang No pulang, aku pikir malam ini aku bakal kayak gelandangan. Perut lapar dan tidur sendirian." Ungkapan jujur Nesya dengan menampakan wajah manja.
Nolan yang tidak tahan melihat wajah lucu Istrinya langsung meriah tengkuk lehernya, mencium bibirnya lembut, menyesap semua rasa disana. Nolan melepaskan ciuman melihat Nesya yang mulai kehabisan oksigen.
"Kamu makan dulu aku nggak mau punya istri kurus, aku mau mandi. Setelah itu suamimu mau menanam sesuatu," goda Nolan lagi pada Nesya.
"Ya udah sana mandi!" teriak Nesya malu, senyum mengembang dari bibirnya setelah berjam-jam lalu hanya berlinang air mata.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC......