Dear Nolan

Dear Nolan
Prolog




Laki – laki berprostur tinggi, menikmati suasana pagi di kota B dengan mengendarai kendaraan roda dua warna biru kesayangannya. Jalanan kota yang masih ramai dengan pengendara yang hendak melakukan aktifitasnya, menambah semangat pacu untuknya melajukan kendaraan saling adu kecepatan dengan pengendara lain.


Hari ini tepat dua bulan ia mulai bisa membiasakan diri tanpa melihat seseorang yang ingin dilihatnya setiap saat. Rasa cinta yang terlarang pada cinta pertamanya yaitu sang kakak ipar memang belum sirna dari pikirannya.


Beruntung sekarang ia juga fokus mengejar skripsi karena menginginkan target lulus tahun ini. Setidaknya waktu yang biasa ia gunakan untuk bergalau terganti dengan menulis didepan layar komputer. Ya, meskipun sangat tidak mungkin ia akan mendapat gelar clamulade, setidaknya ia bisa mendapat gelar sarjana sesuai keinginan keluarganya. Maklum saja Nolan sudah menempuh kuliah selama 6 tahun, bukan karena bodoh atau tak punya keahlian. Selama masa kuliah lebih ia habiskan dengan mengikuti berbagai kegiatan keorganisasian. Di antaranya pasti menjadi orator demo, berdebat menolak rektor terpilih, kegiatan social dan kegiatan lain yang menurutnya terdapat ketidakadilan di dalamnya.


Kini ia sudah di markas yang biasa ia gunakan untuk menghabiskan waktunya akhir-akhir ini. Ia memarkirkan motornya di ujung workshop bengkel miliknya. Bergegas masuk untuk segera ke ruangannya.


“Pagi Bos,” sapa salah satu pekerja yang sedang merapikan peralatan bengkel. Nolan hanya mengangguk sebagai balasan.


Menaiki anak tangga dengan buru-buru, ia sudah tiba di ruangan yang akan ia jadikan tempatnya berkutat dengan komputer dari pagi ini hingga sore, bahkan bisa juga malam.


Deskop dari layar komputernya pun tak pernah berubah, foto sang kakak ipar selalu menjadi semangat tersendiri untuknya melakukan aktifitas. Sedikit bahaya dan nekat memang, tapi sang kakak ipar sudah jauh-jauh pergi meninggalkan kotanya bersama kakaknya. Ini hanya salah satu foto tertinggal dari beberap foto yang sudah ia hapus. Itulah sebabnya ia jadikan tampilan deskop. Lumayan menghibur sejenak, sampai sekarang saja dirinya masih belum bisa melirik wanita manapun.


Bukan tak mau berusaha dan bangkit. Nolan sudah melakukan berbagai cara untuk bisa mengalihkan perasaannya pada sang kakak ipar, bahkan ia pernah nekat menerima acara kencan buta dari temannya sesama mahasiswa. Bukan kesenangan yang ia dapat, malah sang teman kencan mendadak ketakutan kesan pertama bertemu dan bertekad tak ingin lagi bertemu dengannya. Nolan memang jarang bersikap manis pada siapapun.


Ia tipikal orang yang langsung meluapkan apa yang tidak ia sukai dengan kasar tentunya. Ia hanya bisa bersikap manis pada anak-anak. Anak-anak seolah membawa aura baik tersendiri untuknya bisa bersikap manis.


Ketenangannya didalam ruangan yang menjadi tempatnya untuk berjibaku dengan karya tulisnya terganggu. Ketika ia melihat dan mendengar samar-samar suara keributan di workshop lantai bawah. Ruangan kantor Nolan memang tidak kedap suara, bahkan di dinding ruangan dibuat dari kaca hingga ia bisa melihat dan mengamati pekerja maupun pengunjung bengkel yang berkerja di workshop lantai bawah.


Nolan mengamati, nampak ada seoarang perempuan mengenakan hijab yang sedang berdebat dengan salah satu montir di bawah. Perempuan itu nampak ngotot dengan argumennya hingga montir kalah debat dengannya. Nolan menuggu saja, jika montirnya tidak bisa mengatasinya pasti ia akan naik ke atas dan mencari solusi dari permasalahannya.


“Mbak rika? Masuk mba!” perintah Nolan pada karyawannya.


“Bang No, ada mbak-mbak protes sama montir pasang velg mobilnya. Dia tidak mau nambah kekurangannya, dia bilang terlalu mahal tidak sesuai kesepakatan awal. Kita udah ngasih pengertian kalau harganya udah naik sebelumnya,” kata perempuan itu.


“Ya udah. Sebentar aku akan ke bawah” balas Nolan. Sang pekerja admisnistrasi pun meninggalkan ruangan bosnya.


Menghadapi pelanggan yang cerewet itu sudah biasa bagi Nolan, terlebih soeorang wanita atau emak-emak yang baru beli mobil atau baru bisa nyetir. Pasti mereka nggak rela meskipun uangnya selisih berapa ribu saja. Ia turun dan menemui wanita yang nampak dari belakang tadi ketika ia sorot dari atas ruangannya.


.


.


.


.


.


TBC


Jangan lupa like komen vote buat bang No😘😘