Dear Nolan

Dear Nolan
Pizza



Dua mingguan Nesya melewati setelah kejadian di bengkel waktu itu. Nesya sudah kembali normal. Memang ia belum lupa sepenuhnya, tapi setidaknya menghindari Nolan untuk saat ini sudah ia lakukan dengan baik.


Ia masih malu harus bertatap muka lagi dengan Nolan. Hari ini Nesya menginap lagi di rumah Adrian kakaknya karena Aline keponakannya ingin tidur dengan Nesya. Kebetulan jadwal jaga Nesya besok pagi hari.


Nesya mengerak-gerakkan tangan di setir Mobil. Ponselnya bergetar memandang telepon yang akan masuk. Mobil Nesya yang di lengkapi stereo dan layar penghubung ke ponselnya.


Ninda calling .....


Nesya memencet tombol hijau di layar dashboar.


"Apa Mak?"


"Gimana sosor able lip udah bisa lupa belum."


"Dikit, tapi kadang keingat juga."


"Lo sih Nes nekat banget."


"Biarin Mak daripada aku penasaran, kalo gini kan lega meskipun di tolak,"


"Pesona Lo kurang greget, jampi Lo kurang manjur,"


"Asem lo Mak, ya udah aku lagi nyetir. Ini juga udah mau sampai rumah. Nanti aku telepon lagi."


"Oke, tambah jampi Nes. Tapi kalau jodoh nggak akan kemana kok. Kata ustad jodoh itu cerminan diri. Nunggu si Nolan jadi somplak kalian jodoh."


"Asem loh, gini-gini aku udah hijrah woy, jadi wanita Sholehah yang memancarkan aura surga."


"Syukur deh bosen liat Lo pancarin aura kegelapan. Ya udah Assalamu'alaikum ukhti."


"Wa'alaikumusalam," balas Nesya terkekeh melihat ulah Ninda sahabatnya.


Nesya memasukkan halaman rumah kakaknya. Sepertinya sore ini Kakaknya sedang kedatangan tamu. Ada 1 mobil asing dan 2 motor asing yang terparkir di halaman rumahnya.


"Assalamu'alaikum...," salam Nesya pada penghuni rumah.


"Wa'alaikumusalam," sapa beberapa orang yang ada di dalam rumah.


"Kak aku mau ini," Nesya duduk bergabung dengan mahasiswa itu sambil menyomot pizza yang menggiurkan itu.


"Nes, yang belikan aja belum makan kamu mau comot aja," ucap Adrian.


"Siapa suruh buka ini kotak, ya aku tergoda lagian dia beli untuk Kakak sama yang lain."


"Ya udah makan, yang lain ayo makan. Jangan lupa sisain Nolan yang belikan kalian."


Nesya hampir tersedak mendengar nama itu. Ia langsung batal mengigit lagi pizza ketiganya yang tinggal seumprit. Jadi Nolan disini. Nesya jadi galau antara melanjutkan gigitan yang nanggung ini atau menaruhnya tapi mubazir.


Tak lama yang tak ingin ditemui Nesya muncul dari belakang ruang tamu. Sepertinya ia baru keluar dari toilet. Nesya menelan ludahnya kasar dan sisa pizza ditangannya terjatuh di lantai saking kagetnya. Sungguh bisakah Nesya pinjam cincin golbin untuk menghilang. Ia belum siap harus bertemu Nolan lagi.


"No, Nesya yang habiskan pizzanya." Adrian sengaja mengoda Nesya.


"Gak apa-apa Neysa makan lagi aja," balas Nolan yang senang bertemu Nesya lagi


deg deg deg jantung Nesya masih saja berdebar meskipun sudah lama tak bertemu.


"Sori ya, aku sudah kenyang," jawab Nesya ketus tanpa melihat Nolan. Dia harus bisa jaga image. Ia bangkit dari sofa mulai melangkah maju.


"Ya jelas kenyang, habis tiga iris," celetuk Adrian menyindir Nesya.


Nesya yang tadi berjalan pelan seperti putri solo dengan angkuh, langsung berjalan cepat seperti di kejar depcolector mendengar kata Adrian.


Awas aja kak Adrian


Nesya masuk ke dalam kamar di lantai bawah. Kenapa dia harus bertemu Nolan di rumah Kakaknya. Kenapa harus berpas-pasan dengan dirinya yang akan menginap di rumah Kakaknya.


Susah payah Nesya menghindar selama dua minggu tanpa bertemu apalagi komunikasi. Sekarang malah ada di depan mata.


TBC 😘


.