Dear Nolan

Dear Nolan
Diskusi



Hari demi hari berlalu. Persiapan Nolan sudah sembilan puluh persen untuk pembukaan bengkel barunya. Bengkel modern impiannya yang sudah ia gadang-gadang akan menjadi surga percinta otomotif di kotanya akan segera terwujud.


Bengkel baru dengan konsep modern milik Nolan terdiri dari showroom mobil bekas terawat, toko sparepart dan aksesoris mobil, bengkel mesin berat, bengkel variasi dan modifikasi, pencucian mobil cepat modern dengan robitic car wash pertama di kota ini. Biaya operasional pembukaan bengkel yang tak main- main hingga ia harus menghabiskan isi tabungannya bahkan sampai harus mengutang juga. Hal ini membuat Nolan harus serius mengelola dengan baik tempat barunya mencari ladang rejeki. Terlebih sekarang ia tidak sendiri, bukan hanya anak-anak yatim yang harus ia perhatikan, ada istri yang harus di manja dan diberi nafkah lahiriyah bukan hanya batin.


Hari ini Minggu, seluruh anggota keluarga Adiguna berada di rumah. Tak ada aktifitas ke kantor hari ini.


"Pembukaan bengkel jadi besok lusa?" tanya Nesya memeluk leher dari belakang suaminya. Nolan duduk manis di sofa depan layar TV melihat desain ulang tempat kerja barunya.


Nolan menarik tangan Nesya agar mendekat ke arahnya. "Ya Sayang, biar cepat balik modal," meraih kepala Nesya mengecup sekilas kening istrinya.


"Tunggu aku datang ya Bang baru mulai acara buka pitanya."


"Kamu ada jadwal operasi?" tanya Nolan.


"Bedah ringan kok, kemungkinan sejam udah selesai. Lagipula operasinya mulainya pagi buta."


"Ya udah," ucap Nolan.


Ia mematikan layar TV. Menatap sesuatu yang lebih enak di perhatikan sekarang.


Nesya membelai pipi suaminya yang terlampau manis itu. "Mudahan berkah ya Bang, semua berjalan seperti yang kita inginkan."


"Amiin!" balas Nolan. Giliran Nesya mencium pipi suaminya singkat.


Nolan bangun dari sofa. "Oh ya Nes, aku mau culik Arzen, mungkin nggak lama lagi keluarga Bang Davin kembali ke ibukota."


"Aku ikut." Nesya merangkul lengan suaminya.


Mengetuk pintu kamar sebelah kamarnya, tak juga mendapat sahutan. Nolan tak putus asa mengetuk kamar kakaknya yang masih belum terbuka. Nggak mungkin kan mereka masih tidur? ini sudah jam sepuluh pagi, malahan sudah menjelang jam 11.


Abang tercinta akhirnya membukakan pintu dengan keadaan rambut acak-acakan, mana keluar hanya memakai kolor, warna merah pula. Nolan nggak mau berpikir mesum, terserah apa yang dilakukan abangnya di dalam kamar. Nolan langsung memberi kode pada Nesya agar mengalihkan pandangannya ke arah manapun asal jangan melihat manusia yang ada didepannya.


"Masih pagi udah berisik No!" sentak Davin.


"Lihat jam woy! Udah mau adzan Zuhur Bang!" balas Nolan.


"Ya ... iya, mau apa?" tanya Davin lagi.


"Mau pinjem Arzen," balas Nolan.


"Ya udah ambil, dia bangun denger kamu ketok-ketok," ucap Davin. Nolan langsung melangkah masuk ke dalam kamar.


Tangan Davin menghalangi Nolan yang akan masuk. "Nesya aja yang ambil, maminya masih nyusuin."


"Oke, kamu yang ambil Nes." Nolan meraih tangan Nesya agar segera masuk mengambil Arzen.


Nesya keluar dengan bayi mungil umur empat bulan itu. Nolan yang gemas meraih keponakan kecilnya dari tangan istrinya. Keduanya meminta izin membawa Arzen ke ruang keluarga dekat balkon.


Nesya memperhatikan suaminya yang begitu lihai membuat mimik muka lucu yang membuat Arzen tertawa. Sosok yang sangat berbeda ketika berhadapan dengan orang dewasa. Arzen bayi yang tenang dan mau di ajak siapa saja, untung Nesya sudah membawa ASI perah yang di berikan Abel. Ketika Arzen menangis ia langsung memberi ASI dalam dot itu.


"Arzen ... disini sama uncle nggak boleh ikut ke ibukota," canda Nolan pada bayi yang sekarang ia beri dot.


"Maaf," ucapnya memasang wajah manja.


"Untuk apa?" tanya Nolan.


"Bang No, mau nerima keputusan Nesya untuk nunda punya anak."


Nolan mengenggam tangan Nesya. "Keputusan kita." Nolan menenangkan istrinya merubah wajah masam.


"Tetep aku yang mulai, padahal Bang No pasti sudah mau punya baby-baby lucu kayak Arzen."


"Siapa bilang? Aku maunya kalau punya anak mirip aku bukan mirip Arzen nanti di kira anak Bang Davin." Lontaran candaan Nolan berharap Nesya tidak terus merasa bersalah.


Nesya mendorong suaminya, "Oke aku ngalah, tapi sifatnya harus mirip aku, jangan kaku dan flat kayak bapaknya."


Tangisan Arzen, membuat keduanya kembali fokus menenangkan Arzen.


Diwaktu yang sama dan sudut ruangan yang berbeda. Mama Mitha mengulas senyum bahagia melihat anak dan menantunya bermain dengan Arzen di ruang keluarga. Rasanya ia tak sabar juga melihat anak bungsunya itu segera memiliki bayi. Mama Mitha kembali ke kamar mengambil sesuatu yang belum sempat ia berikan pada Nesya.


Mama Mitha menghampiri Nolan dan Nesya dengan bahagia usai membawa dari kamar kotak berbentuk kubus berlapis brudu. Isi kotak itu adalah gelang bulat emas putih dengan bermata berlian di atasnya. Gelang yang sama dengan yang Mama Mitha pernah berikan pada menantu pertamanya Abelia.


Saat Mama Mitha hendak mendekat menuju balkon, samar-samar ia mendengar Nesya yang membahas masalah anak. Langkahnya pun terhenti tanpa ada maksud menguping. Ia ingin mendengar percakapan anak menantunya itu.


"Bang No, sekali lagi aku tanya. Bang No nggak keberatan kan aku nggak mau hamil dulu!" Nesya menatap suaminya dengan tatapan memelas.


Tangan mengenggam lagi tangan istri tercinta. "Sama sekali nggak Sayang," balas Nolan dengan nada tegas.


Mama Mitha yang mendengar dengan baik di telinganya merasa geram, senyum yang terulas indah sejak tadi. Berubah jadi erangan gigi yang kesal ingin menghakimi seseorang. Ia melangkah menyingkirkan gorden menghampiri kedua orang di ruangan penuh oksigen itu.


"TEGA KAMU Nes!" bentak Mama Mitha dengan suara keras.


Nesya langsung berdiri menoleh ke arah Mama Mitha yang tidak seperti biasanya. Nesya menelan ludah kasar melihat raut wajah Mama Mitha yang biasa terlihat anggun dan elegan berubah menjadi kaku menahan emosi.


.


.


.


.


.


.


.


TBC.....


Makasih dear masih setia nyimak kisah NoNes, mungkin kisah Bang no dan Nesya nggak akan sepanjang jalan kenangan. Ei akan usahakan up tiap hari paling lambat 3 hari, kisah rumah tangga Nolan dan Nesya.😘😘😘