
Setelah tahu siapa ayah kandungnya, tak terlalu banyak pengaruh untuk kehidupan Nesya. Meskipun bundanya sudah membuka semuanya setelah ia dewasa. Ia mengingat pesan Bunda Serena, cukup saja ia tahu dan tak akan pernah membahas masalah ini lagi.
Nesya berusaha memahami trauma yang di alami bundanya. Tidak mudah memang bisa melupakan masa lalu yang kelam. Nesya juga tidak berharap apapun, setidaknya ia tahu silsilah dirinya sekarang.
Untuk saat ini, Nesya tidak terlalu memikirkan masalah ayah kandungnya. Ia hanya ingin kembali fokus memikirkan rencana menambah keluarga baru bersama suaminya.
"Udah siap?" tanya Nolan. Nesya terbangun dari lamunannya didepan kaca.
"Bang, sorry. Udah siap," jawab Nesya meraih perlengkapan kerjanya.
Pagi-pagi sekali Nesya memang harus pergi ke rumah sakit untuk menemani dokter seniornya melakukan tindakan operasi.
Tangan Nolan meraih tangan istrinya, entah kenapa akhir-akhir ini dirinya ingin selalu di dekat Nesya.
"Sudah mau berangkat," sapa Pak Hendrawan pada anak dan menantunya saat menuruni tangga.
Nesya dan Nolan menghampiri Pak Hendrawan yang sedang bersantai di sofa dekat tangga.
"Ya Pa," balas Nolan meraih punggung tangan papanya. Begitu pula yang dilakukan Nesya.
"Nes No, ada yang mau papa sampaikkan, Papa belum ketemu kalian karena kalian pulang malam."
"Memangnya ada apa Pa?" tanya Nolan.
"Begini Nak, nanti malam Pak Raharja ingin mengajak keluarga kita makan malam bersama. Papa minta kalian luangkan waktu nanti malam," tutur Pak Hendrawan dengan semangat.
Nolan melihat ke arah Nesya meminta persetujuan. Nesya menganguk, baginya bertemu lagi dengan Pak Raharja tidak mempengaruhi apapun. Meskipun Nesya tahu ada ikatan darah di antara mereka, Nesya tetap menganggap pria yang ternyata adalah ayah kandungnya itu, orang asing yang menjadi partner bisnis mertuanya.
"Ya Pa," jawab Nolan.
"Kalian jangan sampai terlambat, Pak Raharja terus mengingatkan supaya kalian datang," sambung Pak Hendrawan.
"Iya Pa," balas Nolan.
Setelah puas mendapat jawaban dari anak dan menantunya. Pak Hendrawan mengizinkan keduanya pergi.
...****************...
Nolan menyadari, semenjak tahu ayah biologisnya, istrinya jauh lebih diam dari biasanya. Selalu saja ada tingkah aneh yang dibuat istrinya sebelum memulai hari mereka.
Sekarang hanya keheningan di dalam mobil, Nolan melirik sekilas ke arah istrinya yang memilih bengong melihat keluar jendela mobil.
Ada sedikit raut kesedihan meskipun istrinya selalu saja berkata dia baik-baik saja. Nolan pun juga sudah berjanji kalau tidak akan membahas masalah ini lagi dengan Nesya.
"Nes, kenapa aku tiba-tiba kepingin masakan resto Jepang yang pernah kita makan berdua, sama Aline juga," ucap Nolan memecah keheningan. Ia lebih memilih membicarakan topik lain dan keinginan anehnya.
"Serius?" tanya Nesya heran.
Suaminya itu lidahnya Nusantara sekali. Nesya tahu suaminya pecinta kuliner Nusantara kaki lima. Tidak mungkinkan nggak ada petir atau badai lidah suami jadi belok.
"Pengen makan yang mana, Oku, suzshi, okuzona?"
"Terserah pokoknya yang namanya mirip tokoh kartun itu," balas Nolan.
"Boleh-boleh, kebetulan lama nggak resto masakan Jepang."
"Dari semalam Sayang, sampai tergiang-ngiang. Nggak tahu kenapa bisa begitu! Aku kena karma mungkin, pernah ejek makanannya. Sekarang pengen makan lagi."
"Makanya jangan suka hina rejeki, sekarang jadi suka kan," ejek Nesya.
"Bukan begitu, aku tuh suka makanan yang wajar aja Nes, sesuai dengan lidah orang negeri ini," balas Nolan.
Suasana pagi yang sempat hening kembali dipenuhi cerita penuh canda tawa pasangan suami istri ini. Sampai tak terasa mobil Nolan sudah di tiba di lobby rumah sakit.
"Nanti siang aku jemput ya, kamu turun pasien kamu udah nunggu," ucap Nolan.
"Ya, Kiss mana?" balas Nesya memajukan bibirnya.
"Kaca mobil kita gelap, nggak juga kelihatan dari luar. Kalau ada yang protes tinggal kita lempar buku nikah."
Nolan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat istrinya. Satu kecupan singkat mendarat di bibir Nesya.
"Yang lain?" Nesya menunjuk kening dan pipinya, karena jika tidak di arahkan suaminya ini sangat tidak romantis untuk penyemangat memulai hari ini.
Kenapa istrinya mendadak manja dan lebay, daripada Nesya terus mengoceh yang tidak jelas. Nolan langsung mencium pipi kiri dan pipi kanan, berlanjut naik mencium lama kening Nesya.
"I love you," balas Nesya mengkerlipkan mata dengan senyum-senyum manis.
"Ya, cepat kamu turun. Pasien kamu udah di ruang operasi!"
"Ya ... Iya suamiku sabar, sekali-kali romantis-romantisan di sebelum kerja," Nesya memonyongkan bibirnya khas orang ngambek. Ia membuka pintu bersiap turun.
"Nes," Nolan memanggil Nesya yang sudah keluar mobil.
"Apa?" Nesya menoleh berbinar, sepertinnya suaminy ingin memberi kata penyemangat meskipun nggak bisa romantis.
"Cek ban sebelah kamu, kurang angin nggak!" seru Nolan.
Jederrr! Ya, begitulah suaminya tak bisa hanya sekedar buat kata romantis untuk semangat pagi. Untung Cinta, batin Nesya.
"Nggak!" balas Nesya asal, langsung berjalan ke dalam lobby rumah sakit.
...****************...
Siang ini usai menjemput istrinya dari rumah sakit. Nolan langsung memajukan kendaraan menuju resto masakan Jepang yang ada di salah satu Mall. Mereka ke restu Jepang yang sudah disepakati tadi pagi.
"Tapi ingat Ya Bang, makannya tetap harus di jaga meskipun makanan Jepang. Nanti kita makan yang makanan tinggi asam folat!" seru Nesya.
"Siap ini Dokter, pasiennya menurut saja," balas Nolan.
Nesya tersenyum menepuk-nepuk punggung suaminya. Suaminya begitu disiplin bulan ini untuk mengikuti panduan makanan sehat untuk penunjang program kehamilannya. Kadang Nesya saja tak tega dengan menu makan suaminya, tapi suaminya begitu menurut dan mengikuti semua arahan Nesya.
"Oh ya Nes, besok jadwal kita kontrol lagi, obat yang dirumah juga hampir habis," sambung Nolan.
Nesya menepuk jidatnya, "Aku sampai lupa Bang, padahal hari - hari di rumah sakit."
"Mudahan besok ada perubahan ya Bang untuk usaha kita bulan ini." Nesya melihat ke arah suaminya lekat-lekat.
"Amin! Mudahan ada perubahan dan keinginan kita segera dikabulkan oleh Allah."
"Amin!" Nesya mengucapkan dengan semangat karena suaminya yang begitu optimis akan kesembuhannya untuk harapan besar.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC ....
Terimakasih dearku Masih nunggu update bang No yang suka ngaret......
400 like dong biar Ei gesit Up lagi 😘 😘