
Nolan dan Nesya sudah kembali ke meja jamuan makan malam. Meskipun keduanya datang secara bersamaan tidak bergantian. Nesya mendadak salah tingkah di serang mendadak lagi oleh Nolan. Bagaimana tidak? siapa yang sangka akan secepat ini, jadian dan langsung berikrar akan melamar di depan ayahnya.
Nolan juga mendadak jadi gugup, untuk pertama kalinya ia akan berbicara serius masalah perempuan.
"Maaf Om," ucap Nolan sedikit gugup.
Dengan secepat kilat pandangan Pak Doni beralih ke arah Nolan. Melihat tatapan Pak Doni nyali Nolan menjadi menciut, kenapa tatapan calon mertua lebih seram dari tatapan polisi pengamanan bentrokan demo.
"Ada apa No," tanya Pak Doni. Dan sekarang semua mata tertuju pada kedua orang itu.
"Om, sebenarnya saya sudah lama dekat dengan Nesya dan kita sudah sering jalan bersama." Penuturan Nolan.
"Oh ya! kenapa kamu nggak pernah nemuin Om," ucap Pak Doni merubah raut wajah aneh.
"Bukan begitu Om, selama ini saya minta ijin dan antar jemput Nesya di rumah Pak Adrian. Waktu jemput di rumah Om, mungkin kebetulan Om tidak di rumah." Nolan mencoba meluruskan pada pria berumur enam puluhan itu.
"Pak Toni jangan kuatir, Nolan bukan orang yang suka bawa anak orang sembarangan." Pak Hendrawan membela Nolan.
"Seberapa lama kalian dekat," tanya Pak Doni.
"Udah hampir dua tiga bulanan ini," balas Nolan sambil menyeka keringat yang mulai timbul di dahinya karena gugup.
"Dua tiga bulan! Selama itu! Bahkan selama itu kamu nggak pernah nemuin Om!" Pak Doni mendadak sanggar.
"Mas, kan Nolan udah bilang. Kalau mereka jalan bersama ijin dengan Adrian. Kalaupun waktu di rumah kita sedang tidak ada." Serena sang istri berusaha memberi pengertian.
Nesya hanya bisa diam meskipun dia gadis lincah, sudah menjadi kebiasaan ketika orang tua berbicara Nesya jadi pendengar yang baik.
"Maaf No. Selama ini, Om memang membatasi Nesya bergaul dengan lawan jenis. Kita tahu sendiri, bagaimana kehidupan di ibukota. Jadi Om sedikit terkejut Nesya dekat dengan seseorang." Penuturan Pak Doni.
"Om mungkin ini memang bukan waktu yang tepat dan diluar rencana. Tapi di hadapan Om, Tante, dan kedua orangtua saya. Saya ingin minta ijin dan bilang kalau ingin menjalani hubungan yang lebih serius dengan Nesya."
Suasana mendadak hening, kedua orang tua Nolan bahkan tak percaya anaknya bisa bersikap semanis itu pada seseorang yang baru di temui.
"Pak Doni, anak saya tidak pernah mengenalkan perempuan pada orang tuanya. Ini untuk pertama kali saya melihat Nesya bisa meluluhkan putraku. Kalau saya sebagai orang tua sangat menyetujui hubungan anak kita. Bagaimana dengan Pak Doni." Pak Hendrawan sangat semeringah, ternyata di luar pemikirannya. Anaknya sudah jatuh hati sendiri pada Nesya.
"Nesya, kamu bahagia dengan Nolan?" tanya Pak Doni. Nesya hanya bisa mengangguk malu dan mengukir senyum manis.
Untuk pertama kalinya Nolan melihat Nesya, begitu kalem di hadapan orang tuanya.
"Ya No, kita setuju kalian menjalani hubungan. Tapi kalau masalah hubungan yang lebih serius sebaiknya kalian berdua pikirkan dulu. Nolan masih mahasiswa, Nesya juga belum selesai koas. Kalian bedua masih muda untuk membina rumah tangga." Penjabaran Pak Doni yang punya sedikit keraguan.
"Saya akan selesaikan kuliah saya Om, saya juga akan buktikan keseriusan saya pada Nesya. Saya juga lebih senang kalau kita bisa saling mengenal dan memahami masing-masing tapi dalam ikatan yang halal." Penuturan Nolan.
"No, iya Om mengerti. Kamu siapkan saja diri kamu, selesaikan dulu apa yang harus kamu lakukan. Jika nanti sudah ada waktu yang tepat kamu bisa datang lagi pada Om untuk melamar Nesya." Pak Doni berucap dan menepuk punggung Pak Hendrawan.
Nolan dan Nesya sama-sama tersenyum lega mendapatkan ijin dan restu dari kedua orang tuanya.
"Nak, kenapa ini? kenapa kau buru-buru sekali. Nesya tidak akan kemana-mana." Pak Hendrawan tertawa sambil merangkul pundak Nolan.
"Pak Hendra, tadinya kita makan malam untuk nostalgia dan membahas bisnis. Siapa sangka kita malah membicarakan masa depan anak-anak kita." Pak Doni berbicara lebih santai dengan senyum yang terus mengembang.
"Saya juga sangat terkejut, putraku sangat susah sekali mengenal orang apalagi wanita. Siapa sangka sekali jatuh cinta dia langsung tertuju putri orang hebat dan tak perlu di ragukan lagi." Lagi-lagi Pak Hendrawan memuji dengan tertawa puas.
Kedua pria paruh baya nampak bahagia dengan acara tambahan makam malam kali ini. Sedangkan Nolan dan yang lain memilih menikmati sisa makanannya di atas meja.
.
.
.
.
.
.
TBC