
Sudah dua minggu terakhir Nesya mempunyai kebiasaan baru di dapur. Ia sendiri yang membuat menu sarapan dan makan siang untuk suaminya. Meskipun Nesya tak pandai-pandai sekali memasak, ia bersyukur menu makanan sehat mudah untuk di buat dan memerlukan bumbu yang rumit. Tapi terkadang jika ia harus buru-buru ke rumah sakit, terpaksa menu makan siang untuk suami, ia pesan pada catering makanan sehat.
Seperti di hari minggu pagi ini, ia sudah di dapur untuk membuat menu sarapan untuk suaminya. Ia membuat susu almond dan oetmeal bertoping buah strawberry dan kacang-kacangan kering. Menu biji-bijian sangat bagus sebagai menu sarapan seseorang yang menjalani program kehamilan. Nesya sudah seperti ahli gizi pribadi suaminya saja. Ia memantau menu sarapan hingga makan malam.
Begitulah hati manusia yang gampang terbolak-balik. Nesya yang dulu ingin menunda kehamilan, sekarang malah begitu bersemangat membantu suaminya menjalami terapi program kehamilan. Bagaimana tidak, suaminya yang kaku begitu penurut dan sabar menghadapi istri dan ahli gizi dadakannya.
Dengan nampan yang sudh berada di tangannya, ia bersiap membangunkan suaminya yang tidur lagi usai sholat subuh.
Sesampai di kamar. Benar! suamiku masih tidur. Hari minggu memang selalu di manfaatkan untuk tidur lebih lama. Nesya menaruh nampan di meja, ia hanya membawa susu almond.
"Abang! Bangun!" Nesya mengerakkan tubuh suaminya.
Nolan mengerjapkan matazz mendengar suara ribut yang memanggil-manggil namanya.
"Hari minggu Sayang, kita bisa bangun siang," guman suaminya masih di bawa selimut.
"Ih ... sarapan dulu yuk." Nesya masih memaksa.
"Iya Sayang, iya!" Nolan bangun dan mengambil posisi duduk.
Nesya menyodorkan gelas bening berisi susu almond hangat. Nolan menurut dan meneguk habis isi dalam gelas. Jujur, Nolan tidak terlalu suka minum susu di pagi hari atau kapan
pun, demi Nesya yang sudah bersemangat menjalani kehamilan. Nolan menuruti semua prosedur dari dokter yang sudah di arahkan Nesya.
"Oke, pasienku yang penurut," canda Nesya. Ia menghadiahi suaminya morning kiss di pipi.
Melihat suaminya yang begitu antusias menjalankan program kehamilan yang ia arahkan. Nesya sangat yakin, atas ijin yang Maha Kuasa, produksi dan kualitas benih cinta suaminya akan normal dalam waktu dekat. Tak perlu menunggu hingga 3 sampai 9 bulan sesuai prediksi dokter kandungan.
"Mau sarapan disini atau di luar?" tanya Nesya.
"Aku mandi dulu Nes," jawab Nolan.
"Kita berenang aja Bang, gimana?" ajak Nesya. Ia sudah memikirkan hal ini sejak semalam. Ia lama sekali tidak bercanda sambil main - main air di kolam renang, kan seru seperti dirinya ala-ala honeymoon dulu. Ini akan meningkatkan hormon bahagia suaminya.
"Malas Sayang, enak juga nge-gym, nanti kita di lihatin sama ART-ART," balas Nolan.
Nesya tahu suaminya tidak suka umbar kemesraan di depan orang atau area terbuka.
"Please. Sebentar aja." Nesya memelas memasang wajah manis.
"Ya udah, tapi jangan lama-lama, aku nggak mau kamu dilihatin basah - basah sama pelayanan laki-laki," balas Nolan mengalah.
"Ya suamiku Sayang. Aku ganti baju dulu." Nesya mencium pipi suaminya dan berlalu menuju lemari pakaian.
...****************...
"Hitungan ketiga mulai ya," seru Nesya yang sudah lengkap dengan pakaian renang muslimahnya.
"Oke," seru Nolan mengambil posisi setengah jongkok untuk bersiap masuk ke air.
"Satu ... dua ... tiga!"
Byuuurr ....
Dua orang melompat ke dalam kolam renang untuk baradu kecepatan berenang. Nesya cukup sadar kalau dirinya tidak akan mampu melawan tubuh jangkung suaminya meskipun memakai gaya apapun. Tapi bukan masalah siapa yang menang atau siapa yang kalah, Nesya mengajak suaminya beradu renang untuk melakukan olahraga ringan yang menyenangkan. Hal tersebut bisa meningkatkan hormon testosteron yang bagus untuk program kehamilan. Di bandingkan dengan olahraga yang banyak mengangkat beban seperti gym.
Nolan sudah hampir berbalik di ujung sisi kolam renang semula mereka melompat. Sedangkan istrinya masih jauh tertinggal di belakangnya. Nolan tertawa dan masuk kembali ke dalam air menyambut Nesya yang hampir menyentuh tepi kolam. Belum sempat meraih tepi kolam, tangan besar melingkar di perutnya. Nesya tersentak kaget dan menaikan kepala ke permukaan air.
Dilihatnya suaminya dengan wajah senyum-senyum meledek.
"Kalah kan, siapa suruh nantangin suami," ucap Nolan dengan nada mengejek, Nolan mengesekkan hidungnya di hidung Nesya.
"Badan Abang ketinggian," ledak Nesya.
Nolan terkekeh, "Kamu yang kurang lincah Sayang." Hal sederhana seperti ini memang jarang ia lakukan setelah pulang berbulan madu. Ternyata untuk pertama kali, Nolan merasakan hal menyenangkan berenang di kolam renang rumah. Sepertinya, ia sudah tidak perduli lagi bermesraan di kolam renang dilihat penghuni rumahnya.
"Sekali lagi, tapi kita taruhan," balas Nesya mengalungkan tangan di leher suaminya.
"Kalau aku menang nanti malam Bang No pijitin aku sampai tertidur,"
"Boleh. Kalo Aku yang menang, jatah nanti malam double ya!" goda Nolan sambil mecium pipi istrinya.
"Bang No, nakal ya!" Nesya melepaskan pelukannya dan menyirami suaminya dengan air.
Nolan meraih tangan Nesya dan mengajaknya lagi kembali ke tepi kolam.
"Mulai ya, siap!" Kali ini Nolan yang menghitung dengan posisi jongkok. "Satu, dua, tiga!"
Keduanya pun masuk kembali ke dalam air mengulangi hal yang sama. Hasilnya pun tak jauh beda, Nolan yang memenangkan adu renang ini.
"Jadi nggak sabar nunggu malam!" goda Nolan ketika istrinya sampai di tepi kolam.
Nesya memukul dada suaminya yang tertawa lepas. Sebegitu senangnya suaminya di ajak lomba renang saja. Nesya yakin hormon bahagia bisa menekan tingkat stress hingga produksi spermatozoa bisa berkualitas.
Sementara di sisi ruangan yang berbeda, wanita paruh bayah duduk di sofa yang menghadap ke taman air. Ia menikmati teh ditangannya. Mama Mitha tersenyum melihat kedua orang yang ada di kolam renang. Ia sudah lama rasanya tidak melihat Nolan sebahagia itu. Ia yakin Nesya memang jodoh yang terbaik untuk putranya. Ia hanya bisa berharap segera dapat menimang cucu.
"Mau kemana?" tanya Mama Mitha pada pelayan yang membawa nampan.
"Dari kamar Den Nolan Nyonya, suruh bawakan bubur ini sama istrinya untuk sarapan Den Nolan," jawab pelayan perempuan berumur 40-an itu.
Mama Mitha berdiri, ia melihat isi mangkok di atas nampan yang berisi bubur gandum dan buah - buahan kering. Ia sedikit heran, tumben putranya mau makan bubur gandum. Mama Mitha juga melihat ada 2 capsul di atas tisu.
"Itu pil apa?" tanya Mama Mitha heran menunjuk yang di maksud.
"Saya nggak tau nya' udah ada di nampan," jawabnya lagi.
Mama Mitha jadi penasaran, mau menanyakan langsung ke yang bersangkutan, ia malah nanti jadi pengangu pasangan suami istri yang lagi asyik-asyiknya berenang.
Mama minta mengambil ponsel dan memotret pil itu, ia mencium ada yang mencurigakan. Ia merasa ada yang di sembunyikan putra dan menantunya. Berbekal foto capsul itu, Mama Mitha akan mencari tahu sendiri jawabannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.......
Ini udah part ke 100? Ei juga ngga nyangkaπ€
Melebihi kerangka yang Ei buat?π
Kalian udah bosan belum?π¬
Sepertinya kisah Bang No dan Nenes, masih akan berlanjut beberapa part lagi karena masih ada beberapa hal yang belum sampai ke tujuanπ.
Makasih ya Dear, reader terloph loph yang udah setia nunggu kisah remehan dari Eiπππ Ei terhura....
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote πππ