Dear Nolan

Dear Nolan
Project Mengambil Hati Mertua



Dengan sikap anggun bak pelayan restoran hotel bintang lima. Nesya dengan jantung yang berdegup kencang menyapa Papa mertua yang lagi serius-seriusnya membaca.


"Pa, Nesya bikinkan Papa teh buat teman baca," ucap Nesya meletakan nampan di meja yang berada didepan Papa mertua.


Papa mertua mengangkat kepala melihat sekilas dengan tatapan mata setajam pisau MasterChef. Nesya hanya bisa menunduk, seperti rencananya gagal total.


"Kamu nggak ada kerjaan lain Nes! Kan banyak pelayan yang di bayar untuk mengantar teh."


Deg. Nesya merasakan pedasnya mulut mertua yang lebih pedasnya dari cabe yang sedang mahal di pasaran.


"Nggak apa-apa Pa, lagipula Nesya ingin ngobrol dengan Papa. Ada yang mau Nesya tanyakan." Nesya masih bersikap tenang, kini ia malah duduk di kursi sebelah papa mertua. Nesya masih maju tak gentar, ia tak akan menyerah menghadapi mertuanya ini.


Papa mertua seperti mulai terusik ketenangan menghadapi menantu yang berisik seperti Nesya. Pak Hendrawan menutup bukunya dan melihat tatapan aneh ke arah Nesya. Nesya tidak bisa menjelaskan dengan detail tatapan aneh itu antara tatapan jijik atau kesal. Nesya hanya menunduk, apa dia sePD itu dengan papa mertuanya.


"Kamu mau tanya apa? Tanya harga batubara, atau mau diskusi masalah akibat merosotnya harga batubara di pasar!" ucap Papa mertua ketus, yang tidak ada manis-manisnya menurut Nesya.


Nesya menelan ludahnya kasar. Ternyata tak semudah itu bidadari mengobrol dengan Papa mertua yang satu ini. Nesya benar-benar tidak menyangka papa mertua seserius itu. Padahal niat awal Nesya mengobrol santuy sambil menyeruput teh.


"Kok kamu diam Nes, kamu mau tanya apa? Atau mau nanya perkembangan lahan kelapa sawit, yang semakin di lirik karena akan di jadikan bahan bakar alternatif!"


Ucapan Papa mertua semakin keras dan menyudutkan Nesya. Ia tidak tahu menahu masalah bisnis perkebunan meskipun. Apalagi sumber daya mineral, itu bukan ranahnya. Meskipun ia hidup di lingkungannya keluarga pengusaha batubara, sungguh ia hanya tahu cara membedah dan menjahit luka kecelakaan atau pasca operasi.


Seperti menemukan ide dan pencerahan, Nesya mengingat petuah dari sang Bunda.


"Nggak Pa, Nesya hanya mau minta kiat-kiat dari Papa?" Nesya berusaha tetap tenang.


"Kiat apa?" Pak Hendrawan mulai melirik Nesya. Tidak gampang putus asa juga menantunya satu ini.


"Semua orang kan tahu siapa Pak Hendrawan Adiguna, pengusaha konstruksi pertambangan yang sukses dan baik hati. Nesya butuh kiat dari Papa dong, Gimana bisa sesukses Papa dan menghasilkan anak-anak yang luar biasa dan penurut pula."


"Oh itu," Pak Hendrawan mulai tertarik berbicara dengan Nesya.


Nesya masih mengingat nasehat bundanya. Pengusaha yang angkuh akan luluh jika kita sanjung di setinggi langit. Terlebih lagi kita sanjung akan atas keberhasilannya mengurus anak-anaknya. Nesya duduk tegak karena Papa mertua mulai akan berbicara. Meskipun Nesya jadi seperti penjilat tak apalah demi bisa ngobrol dengan papa mertua.


"Jadi Nes, pengusaha seperti papa tidak langsung bisa seperti sekarang, banyak rintangan yang di hadapi. Meskipun dasar keturunan kita sudah garis pengusaha yang kaya tetap saja tanpa usaha dan kegigihan dari tangan dingin Papa, Adiguna gruop tidak mungkin bisa berkembang dan menguasai kebutuhan pertambangan di kota ini dan di daerah lain."


Nesya hanya menjadi pendengar yang baik ketika Papa mertua dengan wajah kaku mulai bercerita silsilah keluarga Adiguna yang terhormat dari zaman kolonial, serta sejarah perusahaan Adiguna dan harta gono-gininya yang mungkin bisa diwariskan tujuh turunan dan delapan tikungan.


"Nes, seandainya Nolan tidak punya trauma psikologi, mungkin suamimu itu juga akan jadi calon petinggi perusahaan Adiguna gruop seperti kakaknya. Sayang mimpi itu tidak bisa Papa wujudkan. Sekarang satu anak hendrawan Adiguna yang melenceng dari jalur keluarganya." Pak Hendrawan mulai berdecak kesal.


"Pa, kenapa Papa harus menyayangkan Bang No yang tidak bisa mengurus perusahaan. Justru Papa harus bangga jika satu anak Papa itu berbeda dari kebanyakan keluarga yang lain. Dia memilih jalannya sendiri dengan usahanya yang ia rintis sendiri dan terbilang sukses, meskipun hasilnya jauh dari perusahaan milik keluarga papa. Bahkan bang No sudah sering di wawancara media sebagai barometer pengusaha muda di bidang otomotif. Bang No juga punya hati yang besar karena trauma psikologinya, dia di percaya jadi orator demo membela yang tidak benar, pengalanh danah di setiap aksi sosial, ia jadi pengayom dan penyayang anak-anak yatim. Nesya yakin sikap Bang No yang seperti itu tak lepas dari didikan tegas tangan dingin Papa dan juga kelembutan Mama." Nesya harus libatkan kata menyanjung ketika berbicara dengan Papa mertua, untuk saat ini hanya itu siasat yang bisa ia pakai.


Pak Hendrawan tersenyum lebar pada Nesya merasa bangga. Disisi lain ada anaknya yang membanggakan dirinya dengan sukses menjadi pemimpin perusahaan milik keluarga Adiguna. Tapi disisi lain ia dibuat sadar ada anaknya yang sukses di hati semua orang karena sikap royal dan rasa simpati sosialnya. Tentu saja karena didikannya lah anak-anaknya jadi anak yang membanggakan. Pak Hendrawan jadi merasa tersanjung di atas angin dengan pujian yang di lontarkan Nesya. Selama ini ia hanya merasa bangga dengan Davin, tapi ternyata putra keduanya punya penilaian sendiri di mata orang di luar sana. Tambah terhormat lah Pak Hendrawan.


"Begitulah Nes! Kalau kita dari keturunan yang jelas beda dengan ...," kata Pak Hendrawan terputus setelah kedatangan Mama Mitha.


"Nesya lagi ngobrol sama Papa." Mama Mertua ikut duduk di samping Nesya. Ada sedikit berbeda pemandangan di depannya Bu Mitha. Ia senang Pak Hendrawan yang mengobrol dengan menantunya, seperti yang ia tahu, suaminya masih bersikap cuek pada Nesya.


"Ya Ma, tapi sepertinya udah malam. Nesya mau pamit nyusul Bang No di atas."


"Ya Nes susul suamimu, Papa berharap kamu segera di beri keturunan, yang juga membanggakan keluarga Adiguna," ucap Pak Hendrawan.


Nesya tersenyum getir ketika Papa mertua membahas masalah anak. Sepertinya lebih baik ia segera menyusul suaminya. Terlebih Mama mertua yang mengamini dengan semangat mendengar kata anak. Nesya berpamitan menuju lantai atas, ia melirik sekilas Papa mertua yang meminum cangkir teh buatannya. Meskipun hanya sekedar mengobrol dan belum bisa mengakrabkan diri, Nesya sudah merasa senang. Setidaknya projectnya berhasil sedikit demi sedikit merebut hati Papa mertua untuk bicara dengan dirinya. Langkah selanjutnya akan Nesya pikirkan nanti.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC .....


jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote dear😘