
Nolan menyematkan jari-jari tangannya dengan sela jari istrinya. Ia mengandeng Nesya dengan erat seolah mereka berdua pasangan yang tak bisa dipisahkan meskipun ada badai Katrina. Nolan sedikit kesal dengan papanya yang meminta Nesya bergabung dengan rekan bisnis laki-lakinya.
Memang ia tak di sebutkan oleh pelayan, boleh menemani Nesya atau tidak. Tapi Nolan tak peduli! Ia akan terus bersama istrinya selama bersama dengan laki-laki itu. Ia tak akan membiarkan mata jahil memandangi istrinya, apalagi sampai mengoda istrinya. Ia akan memberi pelajaran pria itu, tak peduli kerjasama bisnis Papanya batal atau rugi jutaan dollar.
"Kalian sudah datang, kemarilah Nak." Pak Hendrawan berdiri, ia mempersilakan Nesya dan Nolan duduk di sampingnya.
Nesya hampir tidak percaya, Papa mertua begitu ramah padanya. Sungguh ini momen langkah, ia menyesal tidak membawa kamera ponsel untuk mengabadikan momen ini.
Nolan masih memandang tak suka ke arah pria tampan rekan Papanya. Bagaimana tidak pria itu terus memandangi istrinya semenjak mereka datang.
Sedangkan Nesya hanya menunduk anggun, ia tak mengerti apa maksud dan tujuannya papa mertua mengajak bergabung di tempat ini untuk pembahasan bisnis.
"Nak, ini Pak Bimantara Raharja. Rekan bisnis baru Papa," seru Pak Hendrawan.
Nolan dan Nesya mengangguk kepala memberi hormat. Nolan mengepalkan tangan berusaha menahan kesal tatapan pria dewasa di depanya tak luput dari Nesya sedikit pun.
Mata Nesya kembali bertemu dengan pria dewasa yang sempat membuat hatinya gundah gulana. Tapi ia kembali bersikap netral menepis pikiran anehnya itu.
"Pak Bimantara, ini adalah putra bungsuku Nolan dan menantu kesayanganku Nesya," terang Pak Hendrawan.
Nesya merasa apakah gendang telinganya bermasalah, ia langsung melirik ke arah papa mertua. Ia tidak salah dengar 'kan ucapan Papa mertua. Sejak kapan ia jadi menantu kesayangan? mungkin terhitung hari ini, Nesya akan mencatat ini hari sebagai hari bersejarah dirinya menjadi menantu keluarga Adiguna.
"Pak Hendra, meski belum lama kenal, entah mengapa saya merasa dekat dengan keluarga bapak. Mulai sekarang panggil saja saya, panggilan akrab Bimo," ucap santai Pria dewasa itu.
Mata Nesya langsung membulat, jantungnya mendadak berdebar kencang. Nama itu? Bukankah nama itu yang pernah di ceritakan Kakaknya? Apa mungkin? Tidak! ada banyak ribuan nama Bimo? Tapi jika memang iya, apa orang didepannya adalah? Apakah secepat itu keinginan bisa terwujud? TIDAK! Ia tak boleh berprepsi tanpa bukti. Kenapa ia merasa begitu dekat pria itu? ribuan pertanyaan menghujam kepala Nesya.
"Maaf Pa, Nesya mau permisi. Nesya merasa sedikit pusing." Nesya bangkit dari kursi tanpa persetujuan.
Dengan wajah pucatnya ia berlari menaiki tangga. Ia tak mampu harus bertahan di bawah. Perasaannya kini selimuti ribuan pertanyaan.
Nolan juga mengerti nama itu begitu berpengaruh untuk istrinya. Ia langsung bergegas menyusul Nesya. Meskipun ini begitu kebetulan, istrinya pasti tidak baik-baik saja dengan keadaan ini. Pasalnya memang ada yang aneh sejak Istrinya bertemu pria itu.
Nolan langsung menghampiri memeluk Nesya. Didekapnya istri tercintanya yang sekarang terseduh di pelukannya. Ia tak tahu apa yang dirasakan Nesya. Tapi ia mengerti, namanya yang disebutkan teman bisnis Papanya, cukup menguncang jiwa istrinya.
"Bang, besok aku mau ketemu Bunda, hanya Bunda yang bisa menjelaskan semuanya!" ucap Nesya sesegukan di dada suaminya.
"Ya Sayang! Apapun yang terbaik untuk kamu," Nolan mengusap sayang kepala istrinya yang terlapisi kerudung.
Nolan mulai mengerti sekarang, kenapa Pak Bimantara ingin bertemu Nesya. Apakah mungkin dia merasa terikat dengan Nesya?Apakah benar pak Bimantara adalah Bimo yang di maksud pak Adrian? Apakah mungkin mereka punya hubungan darah? Nolan menggelengkan kepalanya. Ia tak mau menyimpulkan sendiri. Benar kata Istrinya, sekarang hanya bunda Serena lah yang bisa memberi kejelasan.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC....
Ei Up lagiππ
jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote π loph u dear π