Dear Nolan

Dear Nolan
Nasib Gadis Belia



Gadis belia rambut lurus yang memakai seragam putih abu-abu berjalan sempoyongan usai meneguk jus kemasan yang diberikan sahabatnya. Badannya mendadak lemas dan panas di sekujur tubuhnya.


Bagaimana ia bisa pulang, sedangkan tubuhnya begitu lemah untuk berjalan ke halte. Inilah akibatnya jika ia nekat mengerjakan tugas tambahan di perpustakaan. Kekasihnya juga pulang terlebih dahulu karena harus mengikuti bimbel untuk ujian akhir Nasional.


Sebenarnya apa isi minumannya, hanya jus kemasan biasa, tapi kenapa kepalanya medadak pusing, badannya panas dan kini tubuhnya berkeringat.


Ada sesuatu hal aneh yang ia rasakan, ia terus merapatkan kedua kakinya untuk menutup sesuatu di pangkal paha yang terasa aneh. Dengan menahan rasa aneh itu ia berjalan keluar gerbang sekolah menuju halte di depan sekolah.


Belum sempat menyeberang menuju halte, mobil mewah berhenti tepat didepannya. Tangannya di tarik paksa masuk ke dalam mobil. Tubuhnya yang lama tak mampu melawan siapa yang memaksanya masuk.


"Siapa kalian! Lepaskan aku biarkan aku pulang!" teriaknya sekuat tenaga sambil menahan kedutan hebat di antara kedua pahanya.


kedua orang bertubuh besar itu tak menjawab, hanya menahan tangan wanita muda itu agar berhenti meronta.


Panas! hanya itu yang bisa ia rasakan. Rasa aneh ini membuatnya gila. Tapi harus menahan semuanya diantara kedua pria besar yang menculiknya kini.


Mobil berhenti, ia di paksa masuk ke sebuah rumah, hawanya sangat sejuk, wanita itu bisa merasakan ini hunian di tepi pantai.


"Dia udah semakin kacau Bos, segera eksekusi!" ucapan dari pria badan besar yang samar terdengar di telinga gadis belia ini.


"Kalian bisa pergi, pacar pria lakn*t itu harus menanggung juga akibatnya," balas pria lain yang ada di rumah itu terdengar dengan samar.


Derap langkak kaki pria besar itu terdengar menjauh. Gadis itu merasakan samar kini tinggal berdua dengan orang baru di dalam rumah.


"Serena, kamu cantik juga ya kalau lagi seperti ini," kata pria itu samar.


Tubuh lemah dan panas Serena hanya bisa mengikuti kemana saja di seret pria itu. Ia merasa tubuhnya terbaring di atas ranjang. Ia semakin merapatkan kedua kaki karena sesuatu yang aneh ini terus menyiksanya.


"Panas, tolong beri aku air dan bawa aku pergi dari sini!"


"Tenang cantik! Sebentar lagi kau akan mendapatkan apa yang kamu butuhkan sekarang!"


Mata Serena mengerjap, entah apa yang terjadi. Ia merasa perasaan cemasnya sebelum tidurnya hilang berganti tubuhnya yang sangat remuk dan nyeri di bagian inti. Ia mencoba bangun meskipun kepalanya sedikit pusing. Ia melihat dirinya yang hanya tertutup selimut tanpa pakaian sehelaipun.


Ia mencoba mengingat tapi gagal, tubuh terlalu lemah untuk bangkit.


Ia hanya melihat sekeliling tempat yang sangat asing, sebuah kamar begitu besar dengan perabot yang mewah. Tapi ia hanya seseorang diri disini.


"Kamu sudah bangun! Gimana, puas?" tanya seseorang yang sangat di kenalinya.


Ia adalah Bimo murid brandal di sekolah, karena dia dari keluarga kaya raya semua orang dibeli dengan uang untuk jadi patuh dengannya.


"Apa yang kamu lakukan Bim!" Serena menutup tubuhnya erat-erat dengan selimut.


"Melakukan apa yang kamu inginkan cantik!" Bimo mendekati Serena di atas tempat tidur.


"Kamu udah perk*sa aku Bim! Kamu udah merampas masa depan aku!"


"Siapa yang perk*sa kamu! Kamu yang datang sendiri minta dijamah!" Bentaknya lebih galak.


"Aku akan lapor polisi! Aku akan laporkan pembuat bejat kamu!" Isak tangisnya pecah.


Bukannnya menciut, Bimo malah tertawa terbahak-bahak, "Apakah ada yang percaya kalau kamu di perk*sa."


Bimo melempar handycam© yang sudah terputar video dimana Serena begitu mendamba tubuhnya di jamah. Serena melihat jelas dirinya begitu melepas baju untuk seseorang pria yang asing untuknya.


Serena semakin terisak, masa depannya kini benar-benar akan hancur.


"Kamu pasti jebak aku! Kamu sengaja jebak aku Bim!" Serena terus memukul Bimo dengan bantal.


"Seren! Perbuatan aku nggak sebanding dengan perbuatan Adrian yang buat Wulan meninggal!" bentak pria itu.


"Tega kamu Bim! Iblis kamu! Adrian juga di jebak!"


"Serena aku nggak peduli! Biar Adrian merasakan, gimana rasanya melihat orang yang dicintai dinodai!"


"Jahat kamu Bim, kenapa harus aku! Kenapa kamu melakukan disaat aku tak sadarkan diri dan memanfaatkan keadaan!" Serena meraung penuh amarah. Air matanya tak berhenti bercucuran.


"Oh ... Jadi kamu mau aku melakukan secara sadar! Baik! Ayo kita lakukan sekali lagi!"


"Jangan Bim!" Sekuat apapun tenaganya berontak, ia tetap bukan tandingan pria ini.


Serena harus pasrah tubuhnya kembali di paksa melayani pria itu dalam keadaan sadar.


Serena membuka mata dan mendapati dirinya yang sekarang sudah berada di zona waktu yang berbeda.


"Setelah ujian kelulusan, Bimo dan keluarganya pindah ke Negeri Jiran, nama keluarga mereka juga mulai redup setelah meninggalkan kota ini."


"Setelah itu pula, mama baru menyadari kalau sudah hamil lima bulan!" Bunda Serena kembali terisak mengingat masa lalu yang sudah ingin ia kubur dalam-dalam.


"Bunda tidak mau mengingat semua itu," ucap Serena lirih tak menahan isak tangisnya.


Nesya mendekat memeluk bundanya, hatinya menjadi tersayat mendengar cerita dari ibunya. Dirinya adalah anak hasil korban perkos*an kenakalan remaja di masa itu.


"Nes, kamu ingin tahu siapa ayahmu Kan, dialah ayahmu Nak. Bimantara Raharja, dulu dia anak pengusaha yang bernama Pak Raharja, yang sekarang ada di negeri Jiran."


"Maafkan bunda Nak, yang hanya bisa memberi kenangan buruk ini. makanya bunda selalu simpan rapat-rapat tentang ini!"


Nesya kembali mencerna setiap perkataan bundanya. Jadi benar, pria dewasa yang di temuinya kemarin di rumah mertuanya adalah ayah kandungnya.


Antara senang dan sedih mengetahui kebenarannya, setidaknya sekarang ia merasa lega sudah tahu siapa ayah kandungnya meskipun masa lalunya bersama sang Bunda begitu kelam.


"Bunda, Nesya sudah bertemu ayah kandungnya," seru Nolan yang juga cukup terkejut mendengar ayah biologis istrinya.


Serena membulatkan mata.


"Benar Nak?" Serena melepaskan pelukan Nesya memandangi putrinya meminta penjelasan. Nesya mengangguk membenarkan ucapan suaminya.


"Nesya hanya ingin tahu seperti keinginan Nesya sejak awal, setelah ini tidak akan ada yang berubah Bun. Semuanya akan sama seperti biasanya," ucap Nesya.


"Bunda nggak pernah mau lagi bertemu orang itu! Bunda juga berharap dia tidak tahu kalau bunda punya anak dari dia."


"Bunda sudah bahagia miliki kamu Nes, bagi bunda ini lebih dari cukup, meksipun bunda terlambat untuk bersama kamu," Bunda Serena memeluk Nesya lagi penuh kasih sayang.


"Terima Kasih dan maaf Bun, udah mau berbagi kisah yang sudah Bunda kubur dalam-dalam."


"Ya Nak, Bunda berharap kamu jangan terlalu berharap lebih dengan ayah kandungmu Nak, cukup jadikan dia sebagai orang yang sudah membuat kamu ada untuk Bunda," ujar Serena.


"Ya Bun, Nesya mengerti," balas Nesya mencoba memahami trauma mendalam yang dirasakan bundanya.


Sekarang tak ada lagi tanda tanya dalam diri Nesya selama ini. Ia bukanlah anak yang terlahir dari batu seperti kiasannya dari kecil. Ia sudah mengetahui siapa ayah kandungnya, tapi sungguh ia tidak pernah berharap lebih meskipun tahu siapa ayah kandungnya. Ia hanya cukup tahu sudah membuatnya tenang menjalani kehidupannya ke depan.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC.........


Hai dear Ei Cambek setelah berhari-hari bertapa dari gunung Hatori .....


Ei akan lanjutankan kisah Bang No, kalian masih stay disini ya


#MaksaNih