
Nolan masih menahan kepala Istrinya dilengannya. Ia membaringkan lagi tubuh Nesya pelan usai menerima pertolongan dengan alat bantu nafas dari dokter keluarga Adiguna. Dokter itu melepaskan selang oksigen dari hidung Nesya.
Nolan membelai kepala Nesya yang masih belum sadarkan diri.
"Kenapa dia belum sadar!" sentak Nolan pada pria muda yang di percaya sebagai dokter keluarga Adiguna itu.
"Mungkin sebentar lagi No, denyut nadinya sudah mulai normal," seru dokter itu.
"Tenang No." Mama Mitha mengusap punggung putranya.
Nolan merasakan tangan istrinya dalam genggamannya bergerak. Ia mengalihkan wajah ke arah Nesya yang mulai mengerakkan kepalanya.
Nesya menyentuh kepalanya, ia mulai membuka matanya perlahan. Ia sedikit terkejut saat membuka mata, ia sudah dikelilingi banyak orang. Ia pun menoleh ke kanan ke kiri mencari suaminya.
"Sayang, Alhamdulillah kamu sudah sadar." Nolan mencium kening Nesya berkali-kali.
Nesya mencoba bangun karena dikerumuni seperti saat ini membuatnya tak nyaman.
"Ada apa Bang? Kenapa semuanya disini." Nesya mencoba mengingat kejadian terakhir sebelum dia tak sadarkan diri.
Nesya melihat ke sudut kiri nampak Papa mertuanya yang juga ikut berdiri di antara orang yang mengerumuninya. Barulah Nesya ingat terakhir kali ia sadar, dirinya dan suaminya bertengkar dengan papa mertua.
"Tadi kamu pingsan Sayang, syukur sekarang kamu sudah sadar," seru Nolan.
"Ya Nes, sebaiknya kamu istirahat dulu." Mama Mitha ke sisi kanan ikut mengusap punggung Nesya. Nesya membalas dengan senyum dan anggukan.
"Maaf sebaiknya kita bubar supaya Nesya bisa istirahat." Seru dokter muda yang bernama Danu itu.
"Baiklah semuanya, ayo kita keluar," seru pak Hendarawan.
Dua pelayan, Mama Mitha dan Pak Hendrawan berjalan keluar kamar. Tapi sebelum sampai ke pintu, Pak Hendrawan berbalik menghampiri Nesya.
"Nes, Papa minta maaf," ucap Pak Hendrawan singkat, padat dan langsung pergi begitu saja.
Bagaimana Nesya tidak terkejut Nesya, Papa mertua yang selalu acuh tak acuh merasa bersalah juga atas ucapannya. Apa perlu Nesya pingsan terus untuk bisa mengambil hati bertanya. Nolan menepuk pundak Nesya karena istri tercinta bengong setelah kepergian papanya.
"Nes, saya boleh tanya? Kapan terakhir menstruasi?" tanya dokter Danu pada Nesya.
Nesya mencoba mengingat kapan terakhir ia kedatangan tamu bulanannya itu.
"Sekitar sebulan lebih dua minggu," jawab Nolan.
"Suami yang hapal nih kayaknya!" sindir dokter Danu.
"Ya, itu awal kita program kehamilan dok," balas Nolan.
"Jadi kalian promil? Saya nggak perlu kasih obat? Kayaknya besok kak Nesya perlu ke dokter obgyn. Saya kasih surat rujukannya ya." dokter Danu meraih tasnya menulis sesuatu di selembar kertas
"Apa secepat itu dok?" tanya Nesya heran. Sepengetahuannya dalam kedokteran, obat penyubur kandungan akan mencapai kualitas terbaik di 3 sampai 6 bulan, sedangkan program kehamilannya baru berjalan dua bulan.
"Tidak menutup kemungkinan Nes, manusia hanya bisa mengira-ngira. Tapi tetap saja, terlepas iya atau tidak itu kuasa Illahi."
"Oke, Dok. Besok saya akan memastikan di dokter kandungan," balas Nesya antara senang dan cemas.
Nolan hanya bisa tersenyum bahagia tanpa berkata apa-apa. Ia terlalu senang jika memang dirinya benar berhasil menghamili istrinya.
...****************...
Pagi ini, keadaan Nesya sudah jauh lebih membaik. Ia juga sudah menyiapkan kopi untuk suaminya. Lagi asik-asiknya menikmati teh hangat, Nesya mendengar suara suaminya yang muntah-muntah dari balik pintu kamar mandi. Nesya heran, dia yang semalam pingsan, kenapa suaminya yang masuk angin. Terpaksa Nesya menaruh teh hangat di meja dan bergegas menghampiri suaminya di kamar mandi.
Tok ... tok ... tok ... tak ada jawaban.
"Abang! Buka dulu pintunya." Teriak Nesya.
Nesya membuka handle pintu, "Eh, copot! Sekalinya nggak di kunci dari tadi tahu gitu dibuka!" Sempat-sempatnya Nesya mengomel.
"Lovelyku," Nesya terkejut mendapati suaminya yang ganteng, cool dan tinggi tertunduk pucat dengan kepala yang di sandarkan di wastafel. Nesya langsung mengangkat tubuh jangkung suaminya yang sudah lemah itu. Meskipun berat, Nesya berusaha memapah tubuh suaminya keluar kamar mandi menuju ranjang.
"Aku kenapa Nes, baru tadi minum kopi rasanya perut aku udah bergejolak ingin muntah."
"Bisa dari makanan, atau kondisi tubuh yang butuh istirahat! Nanti aku tambah dosis obatnya supaya mualnya hilang," jawab Nesya.
"Tapi ini udah baikan, aku ganti baju dulu. Aku harus antar kamu ke dokter kandungan."
Nesya menarik tangan suaminya yang berdiri. "Kalau masih sakit jangan dipaksa Bang, besok kan masih ada waktu."
"Nggak! Kalau bisa sekarang kenapa harus besok!" bantah Nolan mendadak jadi sembuh karena semangatnya bergelora tak sabar menunggu kabar bahagia.
"Tapi harus janji satu hal," ucap Nesya lirih.
"Apa?"
"Apapun nanti hasilnya kita tidak boleh kecewa, kita sudah berusaha! masalah berhasil atau tidaknya itu hanya Allah yang memberi jalan."
Nolan memegangi kedua pipi Nesya. Ia mengecup kening istrinya.
"Ya sayang. Jika hasilnya nanti tidak sesuai harapan. Aku akan berusaha lebih keras lagi."
"Ya bang, waktu kita masih panjang," balas Nesya.
"Terimakasih Nes, sudah menjadi istriku yang selalu sabar."
"Ya Bang, kita lanjutkan nanti malam ya romantis-romantisannya. Sekarang bersiap ke RS." Nolan mengangguk dan menuruti perintah Nesya.
Usai bersiap, mereka berpamitan pada mama Mitha yang terlihat begitu antusias, Mama Mitha begitu bersemangat mendengar Nesya dan Nolan akan memeriksa diri ke dokter kandungan karena usulan Dokter Danu.
"Mama yakin kamu lagi hamil dan Nolan yang ngidam," ucap Mama Mitha. Beliau tahu kalau kondisi Nolan memang tak sehat karena muntah - muntah saat pagi.
"Memang bisa begitu ya Ma, suaminya bisa ngidam?" tanya Nolan heran.
Nesya mengangkat bahu menunjukkan ia juga tak tahu, karena selama ini, ia belum mengetahui istilah kedokteran tentang suami ngidam. Ia hanya mengetahui morning sickness yang di alami ibu hamil di trimester pertama kehamilan.
"Iya itu bisa jadi. Gejala kehamilan tiap orang berbeda-beda," balas Mama Mitha.
"Kita pamit dulu ya Ma, kita minta doa aja supaya hasilnya sesuai dengan harapan kita."
"Ya Nes, Amin." Mama Mitha berhambur memeluk Nesya begitu bahagia.
.
.
.
.
.
TBC ......