
Nesya masih menunduk, berusaha mencerna semua fakta mengejutkan tentang dirinya yang ia ketahui hari ini.
"Kak, kasih aku waktu. Bisa kah kalian tinggalkan aku sendiri." Nesya akhirnya bersuara.
Bu Tari berdiri, disusul Adrian mengekor di belakang Bu Tari. Mereka menyadari sangat membutuhkan waktu sendiri saat ini. Nolan hendak bangkit tapi Nesya meraih tangannya hingga ia berhenti.
"Bang No bisa tinggal sebentar," ucap Nesya.
Nolan pun duduk bersimpuh di hadapan Nesya. Ia menghapus air mata Nesya yang keluar.
"Udah Sayang, kamu jangan nangis lagi." Nolan menyeka buliran yang tak berhenti menetes dari mata Nesya.
"Bang No sekarang tahu sendiri kan. Bagaimana masa lalu aku," ucap Nesya.
"Terus kenapa dengan masa lalu kamu Nes," balas Nesya.
"Apa Bang No nggak berpikir, kita akhiri saja semua ini bang No, aku hanyalah anak haram yang lahir dari hubungan di luar nikah." Nesya kembali sesegukan, tak bisa menahan air matanya.
"Tidak ada namanya anak haram Nes. Yang haram, perbuatan orang-orang bejat itu." Nolan berucap lirih berusaha menguatkan Nesya.
"Bukankah ini akan jadi hal memalukan untuk Bang No nantinya."
"Kamu berlian Nes, bodoh jika kamu berpikir aku akan mundur hanya karena tahu masa lalu kamu."
"Aku hanya takut, apa yang aku impikan hancur gitu aja," ucap Nesya.
"Semua itu nggak merubah perasaan aku ke kamu Nes. Kenyataan kamu anak siapa nggak merubah apapun. Kamu tetap Nesya, wanita yang aku inginkan menemani hari-hariku nanti."
Nesya sedikit bisa menarik bibirnya tersipu.
"Idih .... gombal." Nesya mendorong tubuh Nolan. Nesya merasa ada sedikit air di tengah kobaran api amarah dalam dirinya.
Nolan bisa bernafas lega hanya melihat Nesya yang kembali ke jiwanya.
"Nes, kamu wanita luar biasa yang pernah aku temui, cuma kamu yang bisa buat aku setenang ini. Senyum kamu yang selalu ingin aku lihat setiap malam. Bukan hanya aku, semua orang yang mengenal kamu, pasti tahu kamu orang yang luar biasa. Membawa keceriaan untuk semua orang."
"Aku binggung harus apa sekarang." Nesya Kembali menangis mengingat ibunya.
"Nes yang dikatakan Pak Adrian benar, setiap orang punya sisi kelam dalam masa lalunya. Kamu lebih baik pulang dan mencoba menerima garis takdir yang ditentukan Allah."
"Entahlah Bang No, apapun alasannya aku masih belum bisa terima semuanya."
"Nesya, kamu dan tante Seren sama-sama wanita. Kamu tentu ngerti bagaimana rasanya jika ada di posisi tante Seren. Lagipuloa tante Seren pasti sudah menyesali semuanya dan ingin memperbaiki lagi dengan kamu."
"Bang No, bagaimana dengan keluarga Bang No."
Saat kondisi seperti ini, Nesya hanya merasakan nyaman bila berbicara dengan kekasihnya.
"Makasih Bang No, selalu ada untuk aku," ujar Nesya.
Nolan tersenyum dan megenggam kedua tangan Nesya. Ia juga merasakan sakit bila melihat Nesyanya yang menangis seperti tadi. Apakah ini yang namanya begitu mencintai? Jika ia, Nolan benar-benar di taraf cinta kadar tinggi dengan Nesya saat ini.
"Nes ...." Adrian tiba-tiba masuk ke ruang tamu. Nolan dan Nesya melepaskan pegangan tangan dan mata meraka beralih ke arah Adrian.
"Ayah telepon, katanya Seren pingsan. Please Nes kita pulang, jangan hukum Seren lagi dengan semakin merasa bersalah."
Ada sedikit panik di hati Nesya, tapi ia masih enggan bertemu dengan ibunya. Nesya hanya diam tak memberi jawaban.
Adrian mendekat pada Nesya dan memegangi kedua lengannya.
"Nes, Seren pernah bilang sama aku. Satu hal paling di sesali dalam hidupnya, waktu dia ninggalkan kamu di panti ini. Hidupnya di penuhi rasa ketakutan, kamu akan benci dia setelah tahu sebenarnya."
Nesya kembali menintihkan air bening dari ujung matanya.
"Satu lagi Nes yang dia ceritakan sama aku, hal paling bahagia dalam hidup Seren. Ketika pertama kalinya kamu panggil dia Bunda," tegas Adrian.
Nesya jadi melemah, memori kebersamaannya dengan sang ibu kandung terputar di kepalanya. Pantas saja, kedua orang tua angkatnya dulu begitu menyayanginya seperti anak kandung mereka sendiri.
Nesya menghembus nafasnya kasar. "Ya udah Kak, kita pulang dan lihat keadaan Bunda."
Adrian memeluk Nesya mendengar ucapannya. Ia lega sekarang, mungkin Nesya mulai berpikir dewasa dan menerima semua kenyataan tentang dirinya.
.
.
.
.
.
.
.
TBC....