
Suasana malam mendadak hening karena haru menjadi semakin lengkap karena di luar mobil nampak hujan rintik mulai jatuh di atas kaca depan. Nesya mengecilkan AC mobil agar tidak terlalu dingin.
"Makasih Bang No, udah nolong aku. seandainya aku hanya mengharapkan Kak Adrian pasti aku masih hujan - hujanan dengan mobil nyungsep di parit."
Nolan melihat ke arah Nesya. "Sama-sama Nes, aku juga seneng bisa nolong kamu."
"Lanjutin ceritanya, aku jadi penasaran," ucap Nesya.
"Nesya, bukan hanya itu alasan aku, aku punya alasan lain. Aku juga mau kamu tahu kenapa aku belum bisa menerima kamu."
"Ya .... tapi jangan terlalu pede aja bro," ucap Nesya sok angkuh lagi setelah pembahasan Alika berakhir.
"Setelah sekian lama, untuk pertama kalinya aku merasakan yang namanya mencintai seseorang. Dia datang dalam kehidupan aku tiba-tiba. Mengaduk perasaan aku, membuat aku merasakan gimana rasanya ingin memiliki. Tapi itu jalan takdir, aku mencintai wanita yang sama dengan yang di cintai kakakku. Dan sekarang yang menjadi istrinya. Sakit memang tapi itulah takdir."
"Maksud Bang No, Bang No pernah cinta sama Kak Abel?" tanya Nesya kaget. Nolan mengangguk.
Nesya mengingat lagi wajah Abel. Di pikirannya sudah teringat wajah Abel yang cantik, manis, imut agak sedikit kebule-bulean gitu wajahnya. Memang wajah Kak Abel menjual banget. Pantas Bang Nolan sama kakaknya suka.
Tapi tunggu bukannya dia terlalu kurus ya untuk ukuran standar cewek seksi. Montok juga Aku. Badan kerempeng gitu dipeluk mana empuk Bro.
"Nesya ....," Panggil Nolan yang mengagetkan lamunan Nesya tentang Abel.
"Ya ...,"
"Kita bertemu lagi setelah dewasa, kita belum lama mengenal sifat masing-masing. Aku hanya takut kalau kita bersama kamu nggak bisa terima sikap aku yang prosesif sama segala hal, karena aku nggak mau lagi kehilangan orang yang aku sayang dan cintai."
"Bang No, jadi Bang No pikir aku bakalan seperti Kak Abel." Tutur Nesya.Nolan hanya diam.
"Aku hanya takut kamu hanya singgah dan akan ninggalin aku. Itu sebabnya aku berpikir lebih baik aku nggak usah memulai hubungan dulu."
"Kenapa Bang No bisa berpikir seperti itu, setiap orang punya caranya sendiri untuk mencintai seseorang."
"Dan cara aku mungkin akan berbeda dengan pasangan lain. Aku bukan tipe romantis yang selalu perhatian dan mengungkapkan rasa cinta pada pasangannya. Tapi aku lebih memilih mencintai pasangan aku dengan sikap prosesif menjadi penjaga, pelindung dan selalu ada untuknya."
Jangan ditanya semerinding apa Neysa sekarang mendengar kata-kata mutiara Nolan. Ia berasa akan menjalin hubungan dengan iron man yang keras diluar tapi jadi Hero di dalam.
"Jadi bagaimana hubungan kita ini," tanya Nesya tak sabar. Lagi-lagi tak bisa menahan diri. Pennyataan Nolan masih abu-abu di mata Neysa.
"Kalau kamu mengizinkan, aku pengen mengenal kamu lebih jauh, kalau kamu nggak keberatan aku juga ingin kamu kenal aku lebih jauh,"
"Hmmm ...," jawab Neysa merasa harus jual mahal dulu. Padahal dalam hatinya Nesya sudah bersalto-salto kegirangan.
"Oke setuju," jawab Nesya. Nolan langsung berbinar mendengar ucapan Nesya.
Setelah kesepakatan bersama, yang ada dalam mobil hanya ada senyum malu-malu keduanya.
"Udah sampai," jawab Nolan.
"Aku turun, jaga mobil aku ya." Nesya hendak membuka pintu.
Tapi Nolan mencegahya. Ia memberikan jaket denim pada pundak Nesya. "Di luar masih hujan."
Sweet banget Boleh pingsan sekarang nggak sih. Nesya. Pakai jaket begini berasa kaya di peluk.
Nesya turun dari mobil menunggu Nolan yang akan pergi.
Sampai kamar Nesya dengan wajah berseri-seri membayangkan hubungannya dengan Nolan yang sudah membaik. Nesya memeluk dan sesekali mencium jaket denim milik Nolan.
Pesan Wa masuk. Dengan semangat Nesya membuka ponsel.
Yg harus dihindari
Nes, sori tadi jaket aku bau, aku lupa belum aku cuci empat hari.
Dengan spontan Nesya melempar jaket Nolan ke keranjang pakaian kotornya.
Asem! tenyata cinta nggak cuma buat mata buta. Tapi lubang hidung juga nggak fungsi. Umpat Neysa.
.
.
.
.
.
TBC....
jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote dear 😘😘😘