Dear Nolan

Dear Nolan
Menjelang Akad Nikah



Nesya bangun lebih pagi subuh ini. Ia hanya bisa tidur beberapa jam saja. Perasaan gugup, tegang, cemas berkumpul jadi satu di pikiran dan dadanya. Ia tidak pernah merasa segugup ini sebelumnya. Sebentar lagi ia akan menjadi istri, Nesya tak pernah menyangka dirinya akan menikah di usianya yang baru 21 tahun. Ia pikir ia akan menikah di usia 30an setelah menyelesaikan cita-citanya sebagai dokter spesialis anak. Itu bukan pengamatan yang asal, pasalnya rekan sejawat Nesya rata-rata menikah di usia di atas 27 tahun.


Tapi Kembali lagi pada kehendaki yang maha Kuasa, jodoh, maut, rejeki ada di tangan Allah. Ia bertemu jodohnya dalam waktu yang cepat.


Usai mandi membersihkan diri dan menjalankan kewajiban subuh, ia bersiap menunggu tim MUA sis Anggi datang. Belum selesai terlintas di pikirannya, pintu kamarnya di gedor kencang.


Nesya meraih bathrobe panjang untuk menutupi tubuhnya. Ia juga memakai turban untuk untuk menutupi rambutnya karena akan di rias.


Nesya membuka pintu, ada empat orang wanita dari tim make up dari Sis Anggi. Nesya mulai di make up sejak pagi karena acara akad nikah akad dilaksanakan pukul 10.00.


Make up yang di pakai Nesya untuk kali ini natural glam karena acara akad nikah yang dilaksanakan pagi hari dan juga tempat acara yang dominan bunga-bunga berwarna biru.


Setelah dua jam di makeup, Nesya melihat bayangan di cermin. Ia terlihat sangat anggun kalau begini.


"Cantik banget, calon suaminya pasti pangling," kata mbak-mbak perias yang memoles-moles wajahnya tadi.


Ya, ampun aku pengantin beneran. Nesya menutup wajahnya malu.


Nesya pun langsung dibantu mengenakan kebaya modern panjang berwarna putih, yang berhiaskan penuh Payet dari dada hingga ke perut. Bawahannya ia mengunakan rok sepan putih yang di hiasi juga dengan Payet kristal. Tantanan kepala Nesya memakai kerudung warna putih yang di hiasi mahkota kecil di puncak kepalanya dan rangkaian bunga melati segar yang menjuntai sampai ke perutnya.


"Pengantin sudah siap! ini sudah jam setengah sembilan kita harus segera ke lokasi acara." Kru dari WO masuk memberi informasi.


"Udah siap pengantin kita," kata mbak perias itu.


Tak lama kemudiannya sis Anggi dan Bunda Serena masuk juga ke dalam kamar Nesya.


"Nesye, cucok, cucok," ucap sis Anggi dengan gaya gemulainya.


Nesya hanya bisa geleng-geleng, ia hanya bisa menarik dan mengeluarkan nafas untuk melepaskan ketegangan.


"Anak Bunda cantik banget!" Serena memeluk Nesya. Nesya membalas memeluk ibunya itu.


Serena menatap wajah Nesya, menangkap menggunakan kedua tangannya. Bulir air menetes dari matanya membahasi pipinya yang sudah di make menor.


"Sayang, persaan baru kemarin bunda bersama kamu, tapi sekarang kamu sudah akan menikah. Dan meninggalkan bunda." Serena menepis ujung air yang menetes dari matanya.


Nesya menghapus air mata bundanya. "Bun please jangan nangis, make up bunda udah cetar nih." Hibur Nesya, meskipun tahu itu make up waterproof yang nggak akan luntur meskipun di siram air seember.


Serena tertawa kecil mendengar ucapan Nesya.


"Makasih bunda, udah melahirkan Nesya ke dunia ini, sekarang bunda yang akan ngantar Nesya untuk menikah dengan laki pilihan aku." Nesya berusaha tidak mengeluarkan air mata. Tapi air mata itu menetes begitu saja tanpa permisi.


"Makasih Sayang sudah hadir di hidup Bunda. Setelah kamu menikah serung-sering temui bunda ya." Bukannya tenang Bunda Serena malah semakin kencang menangis.


Nesya menahan tidak menangis, ia harus menghentikan aksi tanagis menangis sebelum pernikahan ini. Ia takut make upnya selama dua jam akan meleber dan sia-sia.


"Bunda, pasti Nesya akan sering nemuin bunda, Nesya kan di kota sini sini aja Bun." Nesya mengerti perasaan bundanya.


Serena mulai tenang.


"Ya mbak, Serena menganguk dan mengajak Nesya turun."


Dibantu asisten tim Anggi yang memegangi gaun ekor Nesya, Ia menuruni tangga dengan anggun dan mendapat pujian cantik dari para keluarga yang berkumpul.


"Gugup nggak Nes?" tanya Adrian yang membukakan pintu mobil untuk Nesya.


"Banget Kak, doain ya." Nesya meremas lengan Kakaknya.


"Ya, sekarang gugupnya Nes, nanti malam enaknya," cetuk Adrian. Nesya langsung refleks meninju lengan kakaknya, kemudian masuk ke dalam mobil.


Mobil pengantin Roll Ro*cye yang di tumpangi Nesya berjalan menuju lokasi acara di hotel platinam.


...****************...


Ditempat yang berbeda Nolan merasa sangat tegang. Tangan terus mengengam tangan sang mama yang menemani dalam mobil pengantin. Ternyata menjelang pernikahan jauh lebih menegangkan dari apapun yang ia lakukan selama ini.


"No, kamu keringat terus." Mama Mitha mengelap dengan tisu dahi anaknya yang muncul keringat.


"Ya Ma, aku gugup banget. Takut salah sebut, takut bikin malu, tiba-tiba langsung bleng aja!"


"Itu wajar Nak, namanya juga kamu mau nikah, kamu akan menerima tanggung jawab besar sebagai suami menjaga anak orang." Nasehat Bu Mitha.


"Ya Mama benar, makasih ya Ma, udah menerima wanita pilihanku dengan tangan terbuka. Nesya wanita yang baik, lucu, Sholeha, meskipun dia anaknya sedikit pecicilan," canda Nolan.


Pak Hendrawan yang berada di sebelah kiri Nolan hendak membalas perkataan Nolan, tapi Bu Mitha langsung memberi kode mengedip mata agar suaminya itu tidak bicara hal yang akan merusak hati bahagia putranya.


"Jangan tegang Nak, sebentar lagi kau akan memiliki wanita pilihan itu," ucap Pak Hendrawan lebih lembut dari yang ingin di ucapkan.


"Terimakasih Pa." Nolan memeluk Papanya.


.


.


.


.


.


.


TBC.....


Nih bocoran 1000 hape sovenir resepsi Nolan Nesya.