
Beberapa menit sebelumnya di ruang tamu keluarga Adiguna. Pria dewasa bernama Bimantara Raharja menjadi tak berkonsentrasi mendengar penjelasan rekan bisnisnya Pak Hendrawan. Kunjungannya kali ini ke rumah rekan bisnisnya membuatnya memikirkan hal yang lain. Tatapan mata yang selalu menganggu pikirannya, tiba-tiba muncul dan terlihat nyata ada di depannya.
Siapa gadis itu? Apa dia anak Pak Hendrawan? Sepengetahuannya Pak Hendrawan hanya punya dua anak laki-laki.
"Maaf Pak Hendra," sela Bimantara saat Pak Hendrawan membicarakan rencana perusahaan ke depan.
"Ya Pak," jawab Pak Hendrawan, langsung berhenti spontan membicarakan bisnis.
"Pak Hendra, siapa gadis yang tadi menyambut saya, apa dia anak Pak Hendra?" tanya pria itu.
Pak Hendrawan jadi sedikit kesal, kenapa penjelasanya yang begitu panjang dan lebar. Berakhir dengan pertanyaan yang menanyakan menantunya yang tidak terlalu penting itu. Bisnis tetaplah bisnis. Meskipun pertanyaannya melenceng, membuat partner merasa bahagia adalah kunci dari keberhasilan kerjasama.
"Dia menantuku Pak, dia istri dari putra bungsuku. Mereka baru menikah beberapa bulan lalu. Kita buat pesta pernikahan termegah Sepanjang tahun di kota ini." Pak Hendrawan bercerita dengan bangga.
"Ya! Kita belum bekerjasama, saya tidak hadir ke pernikahan mereka. Aku kira dia belum menikah. Dia terlihat masih muda," balas Bimantara.
"Memang mereka menikah diusia muda Pak. Putraku baru berumur dua puluh tiga, sedangkan menantuku baru berumur dua puluh satu," jelas Pak Hendrawan. Ia terus mengembangkan tawa ringan meskipun bahasan mereka sudah jauh melenceng.
Sejenak pria itu terdiam, ia kembali teringat kejadian 22 tahun silam.
"Pak Hendra, apa keluarga menantumu ada di kota ini?" tanya pria itu lagi. Ia tidak peduli lagi jika pertanyaannya terlalu mengulik persoalan pribadi rekannya.
Pak Hendrawan cukup tersentak mendengar pertanyaan rekan bisnisnya. Apakah jika ia jujur! Bisnis akan tetap berjalan? Pasalnya, masa lalu menantunya tidaklah berkelas dan tidak jelas asal muasalnya.
"Tidak Pak, menantuku anak yatim piatu yang dibesarkan sepuluh tahun di panti asuhan. Tapi dia di adopsi oleh keluarga kaya dan terhormat di kota ini. Keluarga Pak Doni Bagaskoro." Pak Hendrawan memilih Jujur agar ceritanya terdengar lebih dramatis.
"Bagaskoro? Ayah Adrian!" Raut wajah pria dewasa ini berubah menjadi kaku. Mendadak ia merasa nyeri, mendengar gadis itu dibesarkan di panti asuhan.
"Ya betul Pak! Adrian adalah putra sulung Pak Doni," jawab Pak Hendrawan. Pria baya itu semakin pasrah partner bisnisnya malah seperti petugas sensus yang megabsen anggota keluarganya.
Pikiran Pak Hendrawan mulai tak tenang. Permintaan rekan bisnisnya mulai di luar kewajaran. Ia memang sedikit alergi dengan Nesya menantunya. Tapi bagaimana pun Nesya adalah menantu dan istri tercinta putra kesayangannya. Ia tak senekat itu, sampai membiarkan mata jahil mengangumi anak menantunya. Pak Hendrawan sangat tahu sifat beberapa pengusaha itu seperti apa. Mereka tidak bisa melihat yang cantik dan polos sedikit.
"Maaf sebelumnya Pak Bimantara, untuk apa menantu saya Nesya bergabung dengan kita. Bukankah dia tidak ada sangkut pautnya dengan bahasan kita," kilah Pak Hendrawan merasa keberatan.
"Maaf Pak Hendra, Mungkin Anda sudah salah paham. Menantu Anda mengingatkan Saya pada seseorang mempengaruhi hidup saya di masa lalu. Saya hanya mau mengobati rasa kangen Saya sebentar saja. Dia mengingatkan saya pada adik saya yang sudah lama meninggal. Itupun kalau Pak Hendra tidak keberatan," ucap Bimantara tak mengungkap alasan sebenarnya.
"Baik Pa, saya akan suruh Nesya bergabung dengan kita," balas Pak Hendrawan menerima alasan rekannya karena masuk akal.
Terlebih niat rekannya sama sekali tidak ada niat berbuat kurang ajar pada menantunya. Itu artinya bisnis tetaplah berjalan.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC........