
Setelah puas mengendong baby Arzen, Nolan membaringkan pelan Baby Arzen ke box bayinya. Arzen bisa tertidur hanya dengan di timang-timang olehnya. Tentu saja sambil menyodorkan ASI perah yang di titipkan Abel.
"Udah tidur Bang," tanya Nesya pada Nolan. Nolan mengangguk dan menaruh tangan di bibirnya mengartikan Nesya jangan terlalu berisik. Nesya pun ikut berdiri saja tanpa bersuara, sedangkan Nolan menepuk-nepuk pantat Arzen pelan supaya tidurnya nyenyak. Ia begitu salut pada calon suaminya, Arzen bisa setenang itu dengan Unclenya. Sudah sangat siap jadi calon Papa, Bang No jutekku. Batin Nesya.
"No, Arzen tidur lagi," tanya Mama Mitha berkata setengah berbisik. Mama Mitha datang mendekati Nolan dan Nesya di box ayunan bayi Arzen yang tak jauh dari ruang keluarga.
"Iya Ma, sepertinya udah tenang." Nolan kini mencium pelan pipi Arzen yang lucu itu.
"Ya udah kamu ngobrol aja di sana sama Nesya, biar Mama yang jaga Arzen."
"Bang Davin belum turun?" tanya Nolan.
"Belum paling sebentar lagi," jawab Mama Mitha.
Nolan dan Nesya kini bergabung dengan yang lainnya di ruang tengah, setelah bergantian dengan Nesya mengendong Arzen.
Nesya hanya terus memasang wajah manis karena sumpah demi apapun dia tidak mengerti pembicaraan keluarga Nolan tentang bisnis. Begitu pula dengan Nolan yang hanya menyimak saja seperti dirinya. Nesya mencoba saja menyesuaikan diri. Tak lama Kakak Nolan menuruni tangga.
"Tuan rumah di tunggu, ijin ke atas nggak turun - turun," seru Nolan pada Kakaknya.
"Biasa, Abel nggak bolehin turun, mumpung ada yang jaga Arzen katanya," seru Davin menyeka rambut basahnya yang menutupi dahi.
"Paling Abang yang bolehin turun," balas Nolan lagi.
"Nanti kalau kamu udah nikah pasti tahu No kalau dekat istri pengennya nggak mau keluar kamar." Davin terkekeh sambil menepuk bahu Nolan.
Papa mertua Davin, Papa Ervan memukul bahu Davin. "Kamu aja tuh Vin yang mesum, ingat! Abel baru sebulan brojol jangan di buat hamil lagi."
"Namanya masih muda Pa, tenang No," elak Davin pada mertuanya.
"Bentar lagi kamu juga tahu No." Lagi-lagi Davin mengolok-olok adiknya, kakaknya membuat Nolan malu memperbincangkan soal rumah tangga di depan Nesya.
Nesya berharap calon Kaka iparnya, Abang ganteng itu merubah topik pembicaraan agar dirinya bisa ikut nimbrung dengan orang yang ada di ruang tengah ini.
"Jadi nih minggu depan kita lamar Nesya untuk Nolan," ucap Davin dengan wajah semeringah.
Nesya berubah jadi malu-malu, ternyata benar dugaan Nesya kalau Bang Davin akan merubah topik pembicaraan.
"IsyaAllah jadilah Bang," ucap Nolan ikut malu juga.
"Akhirnya No, minggu ini acara aqiqah Arzen, Minggu depan kita melamar Nesya. Keluarga kita akan banyak acara ini sampai bulan depan," seru Davin.
"Tadinya Papa mau mundurkan lamaran Nolan Vin, tapi ya ... kamu tahu sendirikan adikmu, kalau nggak di turuti Papa bisa di amuk sama masanya," ucap Pak Hendrawan yang di anggap cadaan. Disusul gelak tawa seisi ruangan.
Davin mendekati Nesya. "Makanya Pa, Nolan sama Nesya sudah cocok. Kalau Nolan galak tinggal di suntik aja pakai obat bius." Seisi ruangan kembali tertawa.
"Setuju nggak Nes," sambung Davin menoel tangan Nesya. Nesya hanya tersenyum malu, entah kenapa di depan keluarga calon suaminya. Nesya berubah jadi jinak, bahkan untuk tertawa saja, Nesya tertawa kalem menutup mulut seperti kehilangan gigi.
"Cocok ... cocok Vin, tapi kamu tahu sendiri kan. Semua menantu keluarga Adiguna dari keturunan yang jelas. Mungkin ada rekor baru untuk keluarga kita, adikmu yang akan menikah dengan anak dari panti asuhan. hahaha ...." Ungkapan canda ambigu dari Pak Hendrawan membuat orang dalam ruangan engan tertawa. Ya, karena itu di anggap tidak lucu dan malah menyudutkan Nesya.
Nesya masih berusaha mengulum senyum agar terlihat ia baik-baik saja. Tapi dalam hatinya mendadak ada rasa nyeri dengan ucapan calon mertuanya. Tapi itu memang kenyataan, kenapa harus ambil pusing. Toh, pada akhirnya semua manusia sama di mata tuhannya yang membedakan hanya amal ibadah kan.
"Pa! nggak ada yang lucu," ucap Nolan terlihat geram.
"Bang No, Papa benar kok." Nesya melihat ke arah Nolan, ia memperlihatkan pada kekasihnya kalau ia baik - baik saja tak mempersoalkan ucapan calon Papa mertuanya, ia tidak tersinggung sama sekali.
"Berarti yang pecahin rekor dapat hadiah dong Om." Nesya berusaha mencairkan suasana dengan melontarkan candaan garing.
"Kamu bisa aja Nes." Pak Hendrawan jadi mati kutu karena tatapan Aneh semua mata padanya.
"Kita makan dulu gimana? kebetulan lapar habis tempur." Davin mencoba mengalihkan pembicaraan lagi.
"Ya bener Vin, ayo kita makan dulu," Ervan bangkit tanpa di suruh.
Disusul yang lain menuju ke meja makan yang sudah terhidang berbagai masakan untuk menyambut tamu.
...****************...
Nesya hanya mengambil kudapan kue di piringnya, ia menikmati di kursi taman belakang karena meja makan sudah penuh dengan keluarga calon kakak ipar dan mertuanya.
"Nes, kamu kok nggak makan?" tanya Nolan yang menghampiri Nesya, ia ikut duduk di samping Nesya dengan piring berisi nasi di tangannya.
"Nes, maaf ya kalau ucapan Papa ada yang menyinggung perasaan kamu ...."
"Ih Bang No ... santai aja. Aku orangnya udah kebal sama hal-hal begitu." Nesya berusaha terlihat baik-baik saja tidak mengecewakan Nolan.
"Aku takut kamu nggak nyaman."
"Enjoy aja Bro," balas Nesya. "Kayaknya enak balado kentangnya." Nesya menunjuk salah satu item makanan di piring Nolan, sebenarnya alasan mengalihkan pembicaraan.
"Kamu mau?" ucap Nolan. Nesya mengangguk, kali ini, ia memang ngiler lihat balado kentang itu.
Nolan menyodorkan sendok di depan Nesya, Nesya langsung saja menyambar sendok itu, meskipun sempat kaget Bang No kesambet apa main suap - suapan. Bukan masalah doyan balado kentang, Kapan lagi, Nesya lihat kekasihnya manis begini, Nolan terus mengulangi menyuapi Nesya sampai balado kentang tak ada sisa.
"Bang No, kenapa tantenya di suapi." Tanya polos Anak laki-laki kecil tiba-tiba muncul di depan keduanya.
Nesya pun binggung harus menjawab apa, kadang anak kecil punya persepsi sendiri dengan apa yang ia lihat.
"Tantenya lagi manja Ray," jawab Nolan akrab dengan anak kecil itu. Nesya langsung menepuk lengan Nolan.
"Kenalan dulu dong dengan Tantenya," sambung Nolan lagi.
"Oh iya ...Halo Tante aku Raydan, Tante namanya siapa?" Tanya anak kecil lucu itu sambil mengulurkan tangan.
"Halo Ray, tante namanya Nesya Nabilla. Raydan sekolah kelas berapa." Nesya membalas uluran tangan Raydan.
"Baru kelas satu, tapi cita-cita aku mau jadi kayak Papa kalau kerja naik helikopter, nggak mau kayak kak Raffa yang pengen jadi dokter."
"Kenapa? dokter enak loh, Tante dokter." Nesya mulai senang menanggapi Raydan yang kritis lucu.
"Dokter serem, suka suntik-suntik orang," jawab Raydan polos.
Nesya pun mulai senang menanggapi ocehan-ocehan khas anak kecil ala Raydan. Raydan menceritakan dengan semangat Papanya yang hobi berolahraga, pekerjaan papanya sebagai petroleum engineering, yang kadang pergi ke tengah laut untuk mengecek lokasi pengeboran emas hitam itu.
Raydan seperti halnya anak lain yang membanggakan ayahnya. Nesya jadi iri tidak bisa seberuntung Raydan, ia bahkan tidak tahu siapa ayah kandungannya. Ia hanya merasa bersyukur dan bangga pada ayah Doni yang mau merawat dan menerimanya.
Nesya pun menoleh ke arah rumah utama, ia mau melihat dengan detail sosok yang di maksud oleh Raydan.
"Cari siapa sih," tanya Nolan melihat Nesya yang celingak-celinguk.
Nesya pun berhasil menemukan objek yang di maksud. Papa Raydan yang juga Papa dari Kak Abel.
"Papa Raydan. Ya ampun, ternyata memang ganteng dan keren banget Papa Raydan meskipun umurnya udah empat puluhan." Nesya jadi semeringah sendiri.
Nolan menatap tajam ke arah Nesya. "Kemarin Bang Davin kamu bilang ganteng, sekarang Papanya Raydan."
"Bang No kenapa jadi galak? Itu memang kenyataan," balas Nesya binggung.
"Aku jadi malas makan." Nolan menaruh piring dan bangkit meninggalkan Nesya.
Nesya menepuk jidatnya, ia lupa kalau kekasihnya itu tidak suka ia memuji pria lain di depannya. Tapi tunggu! apakah aturan itu juga berlaku untuk om - om seperti Papa Raydan. Inilah keunikan Nolan kekasihnya, Nesya bangkit dari kursi menyusul kekasihnya ingin segera meluruskan kesalahpahaman ini.
.
.
.
.
.
.
TBC
Ei Kambek, sengaja nulis panjang 😁😁
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘