Dear Nolan

Dear Nolan
Persiapan



Dua pekan setelah acara lamaran. Hari ini dua keluarga menghadiri meeting dengan Wedding Organizer yang di pilih kedua keluarga. Persiapan menyelenggarakan pernikahan yang tinggal menghitung bulan, kedua keluarga harus memilih WO yang handal.


Tadinya Nolan menginginkan pesta pernikahan yang sederhana seperti Kakaknya, hanya di hadiri keluarga dan teman dekat. Tapi keinginan Nolan langsung dimentahkan oleh Pak Hendrawan. Cukup Davin kakaknya yang menikah dengan konsep sederhana. Pernikahan putra terakhirnya kali ini harus mewah. Bahkan Pak Hendrawan tidak keberatan mengelontorkan dana berapapun. Ia bertekad akan membuat pernikahan Nolan dan Nesya akan jadi perbincangan hangat di kota ini.


Tak jauh berbeda dengan keluarga Nolan, keluarga Nesya juga sepakat akan mengadakan pesta pernikahan yang mewah. Mengingat Pak Doni adalah mantan pejabat penting di kota ini.


Sedangkan Nesya, sebagai anak yang tinggal di panti. Ia punya mimpi dari kecil menginginkan pernikahan ala Cinderella. Siapa yang sangka keluarganya yang sekarang berasal dari kalangan berada. Kebetulan sekali calon mertuanya juga pengusaha kaya. Rejeki anak Sholeha batin Nesya. Nesya hanya bisa bersyukur jika impiannya itu terwujud, tapi yang paling penting, ia juga menikah dengan pangeran impiannya dari kecil.


Di salah satu hotel yang akan di jadikan lokasi acara.


Memang benar kata orang, menyatukan dua keluarga memang susah-susah gampang. Di satu sisi Mama Mitha ingin konsep nuasa biru muda dengan dipenuhi bunga berwarna biru biar terlihat adem ke asia-asian untuk resepsi. Sedangkan akad, ia menginginkan pakaian adat Jawa. Tapi di sisi lain Bunda Serena ingin konsep pernikahan nuansa emas dan marron agar terlihat glamor, bahkan kalau ada alternatif lain ia ingin mengusung konsep India supaya bisa menari-nari aca - aca seperti di film-film yang ia tonton.


Setelah perdebatan yang rumit. Akhirnya di putuskan, konsep pernikahan berwarna biru muda ketika akad nikah. Bernuansa emas ketika resepsi.


Nolan dan Nesya hanya menurut saja kehendak kedua orang tua mereka. Mereka pasti tahu mana yang terbaik untuk pestanya. Bisa di restui dan menikah sesegera mungkin saja, keduanya sudah bersyukur.


WO juga menjelaskan akan ada 4000 undangan yang akan di bagi menjadi tiga sesi. Dari undangan VVIP hingga undangan biasa. Tamu undangan hanya akan di perbolehkan masuk sesuai dengan undangan elektronik yang mengunakan scan QR.


Setelah hampir dua jam mengikuti penjelasan WO, saatnya sesi tanya jawab dan saran menyempurnakan event.


Semuanya nampak setuju dengan konsep yang di usung, konsep pernikahan yang benar-benar bak negeri dongeng.


"Oh ya." Mama Mitha memberi instruksi, "pesanan hape mungkin hanya bisa seribu, karena waktu kita yang sangat terbatas. Kira-kira untuk empat ribu tamu undangan yang lain, ada yang ingin memberi saran, apa souvenirnya?" lanjut Mama Mitha.


Nesya langsung melihat ke arah Mama Mitha yang tepat di sampingnya. "Souvenir pernikahan kita Hape Tante?" tanya Nesya heran. Maklum Nesya tidak berpikir masalah souvenir. Dalam bayangan Nesya, sovenirnya paling banter, ya gelas atau cangkir yang ada sablonan gambar manten.


"Iya Sayang, di casing hpnya ada foto kamu sama Nolan, tapi Mama cuma dapet seribu, tadinya Mama mau ambil tiga sampe empat ribu."


Nesya menelan ludahnya kasar, pemborosan nggak sih nih calon mertua, atau mereka sekalian berbagi pada tamu karena bahagia anaknya nikah. Orang kaya mah bebas kali ya.


"Yang biasa-biasa aja lah Ma, kenapa harus hape, jadi nggak rata kan nanti yang dapat," ucap Nolan juga kaget setelah tahu souvenir pernikahannya Hp.


"Ini kemauan Papa kamu, biar nggak kalah sama Haji Mahmud pengusaha batubara yang kasih souvenir Hape," elak Mama Mitha.


"Astaghfirullahaladzim Ma, itu namanya saling unggul-unggulan masalah dunia Ma, jatuhnya malah jadi sombong plus ria nanti." Nolan mendekati Mamanya yang duduk berjarak dua kursi darinya.


"Udah No kamu malah nasehati Mama, biar semua urusan pernikahan. Mama sama Bu Serena yang urus. Kamu sama Nesya fokus saja mau jadi pengantin. Jaga kesehatan, biar fit pas hari H." Mama Mitha memegang sayang pipi putranya. Wanita matang itu masih tak menyangka ada seorang gadis yang mampu meluluhkan kerasnya hati putranya.


Nolan memaklumi saja, ia kembali ke tempat duduknya dan tak ambil pusing masalah itu. Mendapat restu saja, Nolan sudah bisa bernafas lega. Benar apa mamanya, ia harus mempersiapkan diri menjelang pernikahannya.


...****************...


Nesya berdiri di depan cermin yang memperlihatkan seluruh tubuhnya yang terbalut gaun warna peach berpayet emas. Ya, seminggu kemudian, setelah meeting dengan WO. Nesya melakukan fitting baju pernikahan kedua kalinya untuk dikenakan saat resepsi.


"Bagus kan Bang?" tanya Nesya berbalik ke arah Nolan dengan melebar roknya.


"Bagus," jawab Nolan dengan senyum.


Nesya berdecak kesal, sudah tiga kali jawaban calon suaminya hanya bagus, ya, terserah. Tidak ada embel-embel cantik atau kata penghibur yang lain.


Di mata Nolan, Nesya selalu terlihat cantik mengenakan apapun. Ia menjawab apa adanya pertanyaan calon istrinya.


Nesya menemui Nolan yang masih setia menunggunya berganti baju.


"Sudah! Ayo kita pulang." Nolan bangkit dari sofa nyaman itu. Nesya mengangguk.


Keduanya kini berjalan keluar butik. Di dalam mobil Nesya merebahkan kepalanya jok atas mobil. Hari ini cukup melelahkan untuknya karena harus bolak balik lagi memastikan kelengkapan baju pernikahan dan dokumen pernikahan di kantor urusan agama.


"Kamu capek ya!" tanya Nolan.


"Iya, ternyata melelehkan juga mempersiapkan nikahan."


"Ya udah ... sampai rumah langsung Istirahat Nes," ujar Nolan.


"Iya Bang No," balas Nesya.


Sebenarnya ada yang masih kurang, cuma Nesya malu harus bicarakan ini dengan Nolan. Masalah bulan madu, tidak ada satupun yang memberi tahu dan membahas masalah ini. Seluruh keluarga sibuk mengurusi Pernikahan. Pasangan bahagia setelah menikah harus berbulan madu kan!


"Bang No." Nesya kembali segar dan memberanikan diri bertanya.


"Hmmm ..."


Pasti jawaban singkat yang di dapat Nesya. "Ngomong-ngomong, kita nggak ada acara honeymoon gitu setelah nikah."


Nolan melirik ke arah Nesya sekilas sambil memegang kemudi. Bibirnya tertarik sedikit mendengar pertanyaan Nesya.


"Kalau aku belum ada rencana, harus aku diskusikan dulu sama kamu. Kita kan perginya berdua Nes." Nolan jadi malu menjawab masalah bulan madu.


"Kamu mau kemana? Di dalam atau luar negeri? Aku ngikut aja asalkan sama kamu," tanya Nolan.


"Ih ... nggak kreatif deh, dari kemarin ngikut mulu," ucap Nesya kesal. Romantis dikit kek nih calon suami.


"Ya Sayang, kita harus sepakat dong biar sama-sama enjoy pas waktunya tiba. Kalau kamu mau kemana?"


Nesya teringat honeymoon ala CEO di novel- novel yang menjadi impian semua wanita di muka bumi. Nesya pun tertawa kecil.


"Kok malah ketawa," tegur Nolan.


"Aku keinget honeymoon ala novel."


"Memang honeymoonnya kemana?"


"Mau tahu?" tanya Nesya. Nolan mengangguk pelan.


"Mereka keliling Eropa pake jet pribadi, terus sewa pulau pribadi di luar negeri berminggu-minggu. semuanya serba pribadi. Ya, manis gitu lah."


"Kamu mau?" tanya Nolan serius.


"Mau ... mau!" jawab Nesya dengan penuh semangat.


"Kalau keliling Eropa aku masih sanggup, tapi kalau kamu mau keliling-kelilingnya pake jet pribadi sama sewa pulau di luar negeri. Kita bulan madunya satu atau dua tahun lagi ya."


"Lama banget!"


"Tabungan aku nggak cukup Nes, aku harus kumpulin recehan dulu." Nolan terkekeh.


Nesya ikut tertawa. "Iya, iya aku cuma becanda kok!"


"Kalau itu bikin kamu bahagia, aku pasti usahakan Nes," sambung Nolan.


"Bang No, di dalam negeri banyak kok pulau pribadi yang seru. Asal berdua bang No honeymoon di Empang ikan bandeng aja aku siap."


Nolan tertawa, "Ya udah nanti kita cari tempat yang bagus. Yang penting bisa terus berdua sama kamu."


"Yang lain suruh ngungsi sementara ya Bang," canda Nesya menutupi rasa malu sekaligus bahagianya.


Nesya jadi tersenyum malu dan merasa konyol sendiri, kalau sudah begini waktu dua minggu jadi lama sekali. Semakin mendekati pernikahan Nesya semakin panik.


Tak terasa mobil berhenti di depan pagar rumah Nesya.


"Aku balik," ucap Nesya sambil membuka seat belt.


"Ya, langsung istirahat."


"Bang No juga." Nesya membuka pintu mobil.


Nolan menatap wanita yang akan menemaninya di hari-hari tuanya nanti. Nolan jadi tak sabar menunggu hari itu tiba, ia segera berlalu meninggalkan Nesya. Sebelum ia kesemutan karena ingin terus melihat senyum manis Nesya yang meruntuhkan iman.


.


.


.


.


.


.


TBC...


Ekeh jadi nggak sabar,😍😍


Yang dapat undangan, Jangan lupa scan di hepong, masuknya pakai barcode πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚



**Ei udah ketik panjang😘


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘**