
Setelah sesi saling bicara, Nesya dan Nolan berganti baju untuk tidur. Seperti biasanya, sebelum tidur, banyak ritual yang harus dikerjakan Nesya. Ia mengerjakan data laporan di rumah sakit, kadang juga membantu pekerjaan administrasi suaminya.
Berbeda dengan malam sebelumnya. Malam ini, setelah membicarakan Nesya tak ingin lagi menunda kehamilan. Tumben-tumbenan pukul 10, suaminya sudah ambil posisi baring di atas ranjang. Biasanya jam segini, suami masih sibuk-sibuknya menghitung uang cash dari pendapatan bengkel.
"Nes...,"
"Ya," Nesya langsung menoleh ke arah suami.
"Masih lama? tidur yuk!" Nolan menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya.
Nesya melihat wajah suaminya yang harap-harap cemas.
Kayaknya lucu kalau godain suami.
"Belum, sebentar lagi!" Nesya menutup laptopnya yang memang sudah selesai di kerjakan.
Ia meraih keranjang yang berisi pakaian dalam yang sudah kering. Ya, urusan cela-na dalam, suaminya melarang untuk di cuci oleh pelayan rumah. Jadilah masalah itu berimbas pada Nesya, dirinya juga harus mencuci pakaian dalamnya sendiri bersama cela-na dalam suaminya. Nesya baru tahu, semalu itu cowok kaku ini masalah dalaman. Jadi selama menikah hanya dirinya yang tahu ukuran underware suaminya dan tentu saja isinya. Eh ....
"Nes, kamu ngapain lagi," Nolan berbalik dari posisi tengkurap.
"Mau lipat dalaman, sebentar aja kok." Nesya menunjuk ke arah keranjang pakaian
"Kan bisa besok!"
"Nggak bisa Bang, besok jadwalnya nyuci lagi, nanti bisa ketumpuk," ucap Nesya santai, sambil tangan melipat pelan kain di tangannya.
Nolan kembali berguling-guling ke lain arah. Nesya rasanya ingin tertawa puas dalam hati. Memang enak tadi sudah ngerjain istri di warung sate. Lucu juga muka melas suaminya.
Suami udah kayak cacing di kasih garam, guling-guling nggak jelas.
"Nes, udah selesaikan!" Nolan bergerak cepat dari posisi rebahan jadi bersandar di sandaran ranjang.
Nesya merapikan lipatan terakhir. "Udah, tinggal susun di lemari," jawab Nesya mengangkat lipatan itu untuk masukan ke dalam lemari.
Jangan ditanya sesenang apakah Nesya melihat muka merajuk bercampur kesal suami. Tapi namanya orang ganteng biar merajuk tetap saja keliatan keceh. Nesya malah gemas melihat suami dengan muka begitu, rasanya pingin ngerjain uji kesabaran.
Nesya sengaja mengangkat lipatan sedikit demi sedikit biar bolak balik, jadi tambah lama. Tambah puas hati Nesya lihat muka merajuk suaminya yang bikin gemes.
Nesya udah selesai merapikan lipatan pakaian dalam.
"Yuk Nes tidur!" Wajah suaminya mendadak jadi cerah sambil senyum -senyum tipis.
Tapi Nesya mau uji nyali sekali lagi, rasanya nagih ya, lihat suami melas begitu.
"Sebentar Bang, kayaknya skincare tidur baru aku ketinggalan di mobil."
Baru beberapa langkah Nesya akan mengenakan kerudung. Suaminya langsung meloncat dari tempat tidur, tangannya menghalangi langkah Nesya. Kini suaminya malah menyudutkannya di tembok belakang pintu.
"Mau kemana lagi!" ekspresi Nolan mendadak seram di mata Nesya. Nesya jadi Jedag jedug, takut kalau penyakit galak suaminya kambuh.
Nolan meraih dagu Nesya agar melihat ke arahnya. Mau tidak mau Nesya jadi bertatap muka dengan wajah ganteng suaminya.
"Kamu sengaja ya mau nunda-nunda untuk tidur. Kamu mau balas dendam ya sama suamimu karena makan malam tadi."
Lah ... Suamiku kok tahu, dia bisa baca pikiran princess ya.
Nesya menggelengkan kepala. "Nggak kok," jawab Nesya dengan memasang wajah manis dan pose imut.
Sekarang tangan Nolan yang mengunci istrinya, berpindah memeluk erat pinggang Nesya.
"Masa!" goda Nolan ternyata tak jadi marah. "Sekarang berani nggak keluar kamar," sambungnya.
Nesya menggelengkan kepalanya. Mana berani sekarang Nesya kabur keluar kamar kalau kecupan-kecupan mematikan dari suaminya sudah menjelajahi lehernya, Nesya malah maunya cepat - cepat dilemparkan ke kasur. Eh ....
Nolan mengangkat satu kaki Nesya melingkar di pinggangnya. Sedangan tangan yang lain mengarahkan kaki istrinya yang satu. Bibirnya masih menyesap semua rasa yang ada di bibir istrinya. Tangannya pun berhasil mengangkat tubuh Nesya tanpa melepaskan ciumannya.
Nesya melepaskan ciumannya, "Abang kuat nggak, Nanti aku jatuh!" seru Nesya.
"Nggak akan sayang, badan kamu ringan kayak gulali." Nolan mulai berjalan menuju ranjang.
Nolan tertawa puas dalam hati, akhirnya bisa berhubungan suami istri tanpa beban. Ia bisa lepaskan dimana saja tanpa perlu merasa bersalah. Sepertinya ini akan jadi malam yang panjang untuknya dan Nesya.
"Karena tadi kamu buat suami kesal, malam ini three round ya Sayang." Goda Nolan lagi.
"No, two round! Nggak pake nawar!" Teriak Nesya dalam kungkungan suaminya.
"Kita lihat aja nanti!" goda Nolan lagi dengan senyum licik.
.
.
.
.
.
.
.
TBC......
Sengaja Ei update malam, biar kepala nggak traveloka pas lagi puasa😁
Jangan lupa jempolnya kasih LIKE, komen, Vote ya dear😘😘