
Nesya masih belum beranjak dari tempat tidur usai menjalani sholat Ashar. Ia mulai merasakan tidak ada sinar yang masuk jendela. Hal itu menandakan hari mulai senja. Biasanya sebelum senja suaminya sudah pulang ke rumah. Tapi entah kenapa, hari sudah akan gelap suaminya masih belum pulang. Nesya meraih ponsel dan tak ada pesan yang masuk sama sekali dari suaminya
Nesya merasa baru kemarin ia menyambut suaminya yang pulang bekerja. Becanda bersama sebelum sholat Maghrib dan makan malam. Tapi sekarang, ia menunggu suaminya yang pulang tanpa kepastian. Ia rindu aroma keringat bercampur parfum dari tubuh suaminya ketika pulang bekerja. Ia rindu memelukknya manja ketika menyambutnya pulang. Ia rindu semuanya meskipun mereka hanya tak bicara satu hari.
Nesya bahkan membiarkan perutnya yang terus bergendang karena kosong tak terisi makanan sejak siang. Nafsu makan Nesya medadak hilang, begitu pula dengan malam ini. Nesya menjalankan sholat Magrib sendiri tanpa suaminya. Terasa aneh memang, tapi beginilah adanya. Suami juga tak kunjung pulang meskipun sebentar lagi malam ini memasuki waktu Isya.
Bunyi ketukan dari luar kamarnya membangunkan lamunan Nesya. Tapi itu pasti bukan suaminya, ia tak tak pernah mengetuk pintu ketika masuk kamar. Ia turun dari ranjang membuka pintu.
"Maaf, Nyonya besar dan yang lain menunggu Anda untuk makan malam," ucap wanita berseragam pelayan dari balik pintu.
"Tolong bilang sama Mama, saya nunggu suami saya pulang dan makan malam bersama dia" balas Nesya. Pelayan itu mengangguk dan pergi.
Entah kapan suaminya akan pulang. Nesya masih merasa ragu untuk keluar kamar. Lebih tepatnya ia tak mau mencari keributan baru dengan muncul saat makan malam keluarga. Tapi Mama Mitha tak setega itu. Meskipun ia sedang marah padanya, Mama mertua tak membiarkannya kelaparan di kamar. Tak lama berselang, Ia menyuruh beberapa pelayanan mengantarkan makanan ke kamarnya. Bukannya sok kuat dan terlalu sedih, ia memang belum berselera untuk makan.
Waktu menunjukkan semakin malam, tidak ada juga tanda-tanda suaminya akan pulang. Nesya meraih ponselnya, ia sudah tak tahan dengan keadaan ini. Ia mencari kontak suaminya memberanikan diri menelpon lebih dulu. Dengan perasaan masih gugup, telpon darinya pun tak dijawab. Nesya pasrah sekarang, apakah malam ini ia ditinggal tidur sendirian berselimutkan sepi? Air matanya mendadak merembes lagi, apakah setega itu suaminya tidak akan pulang. Apakah tidak bisa diselesaikan malam ini juga. Ia tidak tahan harus berjauhan dengan Nolan lebih lama lagi.
Nesya berusaha menepis air matanya mencoba berpikir positif, tetap saja perasaannya kalut. Ia memeluk dirinya sendiri sambil terbaring di temani ranjang besar seorang diri, sampai kapan suaminya akan mendiamkannya. Meskipun belum lama menikah, Ia sudah terbiasa melewati malam dalam pelukan hangat suaminya. Bahkan selimut bulu pink yang melekat di tubuhnya sekarang tak mampu menandingi dekapan suaminya. Ia juga biasa menjahili suaminya sebelum tidur. Nesya merindukan saat itu, apakah malam ini ia bisa tidur nyenyak jika suaminya benar-benar tidak akan pulang.
...**************...
Sementara di tempat yang berbeda, Nolan melihat ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Ia terlalu sibuk mengurusi laporan pemasukan bengkel yang membludak dibandingkan di bengkel lama. Meskipun sempat ada rasa kesal dan suasana hatinya buruk saat pembukaan, bengkel barunya menghasilkan berkali - kali lipat dari bengkel lama. Bahkan di hari pertamanya, marketing showroom mobilnya sudah melakukan transaksi penjualan tiga unit mobil bekas dengan harga ratusan juta.
Mungkin ini namanya, mencari jalan rejeki dengan cara menikah. Nolan mengingat nasehat dari ustadz ketika seseorang menikah pintu rejeki akan terbuka dengan luas. Apalagi ditambah dengan istri sholehah yang menunggu dan mendoakan suaminya yang pergi keluar rumah mencari nafkah.
Mengingat hal itu, Nolan jadi teringat Nesya yang ia suruh pulang paksa tadi siang. Tidak seperti biasanya yang ia biarkan tetap menemaninya di bengkel hingga pulang bersama ke rumah orang tuanya. Ia masih di selimuti rasa kesal dan cemburu hingga tidak bisa berpikir jernih. Istrinya memang melakukan kesalahan, tapi itu diluar rencananya.
Sekarang saja ia merindukan saat membelai rambut Nesya sebelum tidur, mencium pundaknya mengendus aroma tubuhnya. Ia juga merindukan ketika Nesya yang selalu menjahilinya sebelum tidur, entah itu mencabut bulu kaki atau hal konyol lainnya.
Ia harus pulang sekarang. Ia meraih kunci motornya dengan cepat, ia bergegas meninggalkan ruangannya. Nesya pasti sedang cemas menunggunya tanpa kabar sejak pagi. Ia harus bicara dengan kepala dingin pada istrinya. Masalah kecil jika di biarkan terus berlarut akan meleber menjadi masalah besar, tidak menutup kemungkinan akan jadi bara untuk rumah tangganya. Bukankah ia sudah berjanji akan selalu menjaga dan membahagiakan Nesya. Jika ia membuat Nesya sampai menangis berarti ia sudah mengingkari janjinya.
Ia memakai helm dan mengeber motornya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai ke rumah.
.
.
.
.
.
.
.
TBC ......
segini dulu ya dear 😘😘