Dear Nolan

Dear Nolan
Bertemu Kembali



Kedua pasangan calon orang tua baru bergandengan tangan memasukinya rumah besar keluarga Adiguna. Sengaja keduanya meliburkan diri dari segala rutinitas hari ini.


"Mama," sapa Nolan pada Mama Mitha dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


Mama Mitha yang bersantai di ruang keluarga, dengan gesit bangun dari posisi duduknya.


"Gimana? Bagaimana keadaan Nesya?" Mama Mitha sudah berfirasat baik melihat wajah semeringah dua orang yang ada dihadapannya.


Tanpa perlu menjawab, Nolan langsung memberikan pada Mama Mitha amplop putih. Mama Mitha dengan sigap membuka isi dalam amplop. Dilihatnya beberapa foto USG, di buka pula, kertas selembar yang berisi keterangan bahwa Nesya positif hamil.


"Nesya!" teriak Mama Mitha langsung berhambur memeluk Nesya. "Benarkan dugaan Mama," sambung Mama Mitha.


Nesya membalas pelukan dengan mempererat pelukan Mama mertua.


"Mama senang sekali Nes, akhirnya kamu hamil juga."


"Ma, coba perhatikan foto USGnya ada yang beda nggak?" seru Nolan.


Mama Mitha melepaskan pelukan pada menantunya. Beliau meraih foto USG yang di sodorkan Nolan.


Mama Mitha tentu saja bingung dengan foto yang hanya berupa noda putih, yang ia tahu hanya, Nesya hamil sesuai surat yang di bacanya.


Nolan terkekeh melihat Mama tercinta yang sedang berpikir keras melihat hasil foto USG.


"Mama sebentar lagi mau jadi nenek cucu double, menurut dokter Nesya hamil anak kembar," terang Nolan dengan penuh semangat.


"Serius No?"


"Ya Ma, sebentar lagi mama dan bunda akan punya cucu kembar," jelas Nesya menguatkan argumen Nolan.


"Alhamdulillah, selamat ya Nak." Kini Mama. Mitha bergantian memeluk Nolan.


"Ya udah Ma, Nesya mau istirahat dulu, sebentar lagi kita mau ke rumah Bunda Serena berbagi kabar bahagia ini," seru Nolan.


"No, apa bisa Ibu Serena saja suruh datang ke rumah kita kebetulan lama sekali kita tidak makan malam bersama dengan keluarga Pak Doni. Sekaligus kita merayakan atas kehamilan Nesya," usul Mama Mitha.


Nolan melihat ke arah Nesya. Nesya mengangguk mengiyakan usulan bagus Mama mertua. Bunda Serena tentu sangat tidak keberatan.


"Ya Ma, nanti Nesya yang akan memberitahu Bunda," seru Nesya.


"Baiklah kalo begitu, mama mau siapkan semuanya untuk makan malam nanti." Mama begitu bahagia.


"Kita istirahat dulu Ma," balas Nolan.


"Ya, iya No, Nesya harus banyak istirahat, tidak boleh terlalu di kehamilan muda ini. Kalau perlu kamu gendong dia naik tangga No. Nanti mama akan usul ke Papa untuk pasang lift khusus untuk Nesya yang terhubung ke kamar kalian, supaya Nesya tidak terlalu lelah naik turun tangga," celoteh Mama Mitha.


Nesya hanya tersenyum melihat antusias mama mertuanya. "Itu nggak perlu Ma, lagi pula ibu hamil juga perlu olahraga, salah satunya naik turun tangga, olahraga cukup ringan," balas Nesya.


"Tuh Ma, Nolan ikut istri saja. Hmm ...." Nolan berhenti bicara ketika merasakan sesuatu yang akan keluar dari mulutnya. Ia langsung berlari meninggalkan kedua wanita ini menuju kamar mandi dekat dapur.


Mama Mitha dan Nesya saling melihat dan sudah tahu apa yang terjadi dengan Nolan.


"Untung aja Nolan yang ngidam mual muntah, Mama jadi nggak terlalu khawatir sama kamu dan si kembar Nes." Mama Mitha megusap-usap dada.


Nesya melonggo, "Tapi kasian Mbak No Ma," balas Nesya.


"Nggak apa-apa Nes, enak saja mau buatnya saja. Suami juga harus merasakan yang harusnya di alami Istri," seru Mama Mitha.


Bang No, anak kandung Mama kan, anak sakit malah di syukurin.


"Ya udah kamu istirahat biar mama yang urus Nolan, setelah itu Mama mau mengabari Abel dan Davin."


"Ya Ma," jawab Nesya.


"Pelan-pelan naik tangganya sebelum ada lift."


"Ya Ma," Nesya mulai melangkah.


"Jangan terlalu banyak gerak, langsung istirahat dikamar.


"Ya Ma," balas Nesya batal melangkah.


"Kalau butuh apa-apa, telepon pelayanan jangan pergi sendiri."


"Ya Ma," kali ini Nesya bisa melangkah kan, mama mertua terlalu posesif sekali pada dirinya.


"Nesya, sebentar mama suruh pelayan antar buah ke kamar kamu," oceh Mama Mitha lagi.


"Ya Ma," balas Nesya. "Ma, Nesya bisa ke kamar sekarang? terimakasih atas pengertian Mama, Nesya insyaalloh bisa jaga diri kok," ucap Nesya sebelum Mama Mitha mengoceh lagi dari A sampai Z.


Mama Mitha pun menyadari terlalu bersemangat atas kehamilan Nesya dan khawatir berlebihan. Ia pun mengizinkan Nesya kembali ke kamar.


Malam yang begitu indah di penuhi kerlip cahaya bintang. Nesya yang seharian hanya berdiam diri di kamar akhirnya keluar dari tempat persemayaman itu.


Ia mengajak suaminya bersantai di ruang tamu sambil menunggu Bunda Serena dan Pak Doni datang.


"Masih mual?" tanya Nesya melihat suaminya, bagaimana tidak seharian suaminya seperti monyet yang hanya bisa makan pisang dan apel saja.


"Nggak sayang, semoga nanti nggak mual ya saat makan malam,"


"Ya penting udah minum obat nggak akan mual," ucap Nesya mengusap dahi suaminya yang pucat.


"Udah kok," balas Nolan lebih kalem sekarang. Tangannya mengelus sayang perut istrinya.


"Nes ...," sapa suara besar yang membuat Nesya dan Nolan menoleh.


"Papa dengar dari Mama, kalau kamu sekarang sedang hamil anak kembar. Selamat ya, sebentar keluarga Adiguna akan menambah keturunan baru."


"Terimakasih Pa," jawab Nesya sedikit heran. Kehamilan berdampak sekali, bahkan papa mertua jadi nggak angkuh lagi saat bicara dengannya.


"Ya Nak, semoga semua berjalan baik sampai melahirkan."


"Amin, Terimakasih Pa," balas Nolan dan Nesya bersamaan.


"Kalian menunggu ibu Serena dan Pak Doni?" tanya Pak Hendrawan.


"Ya Pa," balas Nesya.


"Kalau begitu sama, Papa juga menunggu Pak Raharja untuk membahas ulang kesepakatan bisnis. Mumpung beliau belum pulang." Cerita Pak Hendrawan.


Nesya langsung membulatkan mata, melihat ke arah suaminya. Bagaimana kalau sampai pak Raharja bertemu dengan Bunda Serena?


Kecemasan Nesya tak berlangsung lama karena mobil Bunda Serena sudah berhenti di depan halaman rumah.


Dengan wajah ceria Bunda Serena seperti tak sabar ingin mendatangi Nesya yang sudah menyambutnya di depan pintu utama. Pelukan hangat diberikan pada anak tercintanya. Disusul Pak Doni yang turun dan ikut bergantian memeluk Nesya merasa bahagia atas berita kehamilannya.


"Bunda senang sayang, sebentar lagi lagi punya cucu," ucap wanita empat puluh tahun itu.


"Ya Bun, Nesya juga nggak nyangka hamil bayi kembar," balas Nesya.


Tak lama kedatangan keluarga Pak Doni Bagaskoro, mobil Roll Royce hitam berhenti di belakang mobil Bunda Serena.


Pak Hendarawan maju selangkah menyambut tamunya usai menyambut keluarga besannya.


"Pak Hendra," sapa pria itu.


"Pak Raharja," sambut Pak Hendrawan.


"Sepertinya Anda kedatangan tamu lain?" tanya Pak Raharja melihat dari belakang bunda Serena dan Pak Doni.


"Iya, mereka adalah besan saya, ayo Saya perkenalkan mereka juga pengusaha di bidang batubara." Pak Hendarawan merangkul Pak Bima menemui besannya.


"Bu Serena, Pak Doni." Sapa Pak Hendrawan. Membuat keduanya menoleh.


Manik mata coklat milik Bunda Serena membulat melihat seseorang yang ada di hadapannya.


Tak jauh berbeda dengan Pak Bima Raharja lelaki itu begitu terkejut akan bertemu manik mata coklat itu di sini. Kebetulan yang sangat ia dambakan. Ia memang mencari dan ingin bertemu wanita seusianya itu beberapa tahun lalu. Tidak ada yang berubah ia sangat mengenali wanita yang ada di hadapannya meskipun tak pernah bertatap muka lagi selama 20an tahun.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC. ....


Sori baru bisa Update,