Dear Nolan

Dear Nolan
Menemui Bunda



Nolan terus mengengam tangan Nesya selama perjalanan menuju rumah bundanya. Nesya membalas mengenggam tangan suaminya merasa tenang.


Nolan tahu semalam istrinya sama sekali tidak bisa tidur, ia merasakan istrinya hanya berguling-guling tak nyenyak meskipun beberapa kali di dekap. Istrinya pasti memikirkan nama teman rekan bisnis Papa yang sama dengan disebutkan Pak Adrian.


Hingga beberapa menit melintasi jalanan kota, mobil mereka masuk ke dalam gerbang rumah keluarga Nesya.


Nesya memegangi dadanya yang terasa berdebar. Apakah benar tindakannya ini? Bagaimana reaksi bunda ketika putrinya sendiri yang mencoba membuka luka lama yang sudah mengering.


"Sayang, kamu ragu mau ketemu bunda?" tanya Nolan pada istrinya yang masih mematung di tempat duduknya.


Nesya mengangguk, "Bang, gimana kalau bunda malah syok terus berpengaruh untuk kesehatannya setelah aku tanya."


Nolan mengenggam kedua tangan Nesya. Ia menatap istri tercintanya memberi keyakinan. "Sayang, kamu sendiri yang bilang, kamu nggak terlahir dari batu. Kamu berhak tahu siapa ayah kandung kamu. Bunda pun cepat atau lambat harus menceritakan semuanya pada kamu. Mungkin sekaranglah saat yang tepat untuk bunda memberitahu kamu."


Nesya tersenyum, kini merasa lebih tenang. Ia pun melepaskan seat belt yang membelit tubuhnya. Nolan pun ikut turun bersama Nesya. Keduanya bergandengan tangan untuk bersama masuk ke dalam rumah


Bunda Serena sudah ada di depan pintu karena tahu mobil putrinya berhenti di halaman rumah. Nesya dan Nolan bergantian mencium punggung tangan wanita 40 tahun itu.


"Kenapa mendadak nih kasih tahu Bunda kalau mau kesini?"


"Nesya kangen Bunda," jawab Nesya memeluk Bunda Serena.


"Ya udah ayok masuk," Bunda Serena melebarkan pintu utama supaya anak menantunya bisa masuk.


Ketiganya duduk di sofa ruang keluarga. Dengan sigap Asisten rumah tangga menyajikan kudapan berserta beberapa cangkir teh.


"Ayah mana Bun?" tanya Nolan yang tak melihat Ayah mertua memunculkan diri.


"Ayah lagi ada urusan di luar, jadi bunda di tinggal sendiri," jawab Bunda Serena dengan ceria karena kedatangan Nolan dan Nesya.


Nesya melihat ke arah Nolan. Ia bermaksud memberi kode, apakah ia bisa bertanya sekarang? Apakah ia akan merusak kebahagiaan bunda setelah menanyakan masa lalunya yang pahit.


Nolan menggangguk agar Nesya mulai bertanya, lagipula Nesya sudah dewasa dan dia berhak tahu siapa ayah kandungnya. Meskipun kenyataannya nanti akan menyakitkan.


"Bun, apa boleh Nesya bertanya?" jawab Nesya panik, ia pernah berjanji pada bundanya tidak akan membahas ayah biologisnya lagi. Tapi sungguh, Nesya kali ini tak bisa menepati janjinya. Pria yang ditemuinya semalam membuat ingin tahu kebenaran langsung dari bundanya.


"Nes," tegur Bunda Serena melihat Nesya yang masih melamun. Nesya langsung terbangun dari lamunannya.


"Tadi mau tanya apa?" ulang Bunda Serena.


Serena melotot dan langsung berdiri dari posisi duduk, ia menjauhi Nesya ke arah jendela ruangan tak ingin melihat Nesya.


Nolan mengenggam tangan Nesya yang melihat bundanya terkejut mendengar pertanyaannya. Ia menahan Nesya yang akan menyusul bundanya, Nolan ingin istrinya membiarkan bundanya tenang dulu sebentar.


Perlahan Nolan dan Nesya berdiri mendekati bunda Serena yang nampak sedih menitihkan air mata. Nesya memberanikan diri menyentuh pundak bundanya.


"Bun, Nesya hanya mau tahu aja asal usul Nesya. Nesya sama sekali nggak bermaksud membuka kembali kenangan buruk bunda," ucap Nesya.


"Untuk apa Nes! Apa ayah Doni yang selama ini menyayangi kamu seperti anak kandungnya sendiri tak cukup buat kamu." Bunda Serena nampak menitihkan air mata.


"Bun, tolong jangan salah paham, Nesya hanya ingin tahu silsilah Nesya. Hanya itu, setelah Nesya tahu semuanya, nggak akan merubah apapun. Nesya hanya cukup tahu ayah biologis Nesya." Nesya mencoba memberi pengertian bundanya.


"Bun ...," Nolan memegang pundak Nesya agar tidak terlalu memaksa Bunda Serena.


"Bunda, jika memang tidak ingin memberitahu Nesya sekarang, tidak masalah Bun, kita masih punya banyak waktu," ucap Nolan.


Bunda Serena berbalik menghadap anak dan menantunya. "Kita bicara di ruangan ayah."


Serena berjalan menuju ke sudut rumah, Nesya bernafas lega dan berharap bundanya memberi tahu siapa ayah kandungnya. Nolan mengenggam tangan Nesya mengekor di belakang bunda Serena.


.


.


.


.


.


.


TBC.....


Maafken Ei baru Up dear😘😘 lagi kejar target di judul si Papa,


Makasih udah Sabar nunggu Up, Ei lanjut nanti Bang No sama Nenes😘...