Dear Nolan

Dear Nolan
Sindiran



Pagi ini, Nesya berkesempatan sarapan bersama dengan keluarga suaminya. Beberapa minggu terakhir, Nesya pergi sebelum sholat subuh untuk menemani dokter Rakha melakukan tindakan operasi. Beruntung hari ini dokter Rakha sedang keluar kota dan berhalangan praktek. Nesya dapat kelonggaran bisa berangkat lebih lama dari biasanya.


Dengan wajah yang berbinar kedua pasangan ini bergandengan tangan menuruni tangga menuju ruang makan.


Anggota keluarga pun heran pada kedua pasangan ini. Semua sudah harap - harap cemas karena keduanya terlambat sarapan beberapa menit, keluarga menyangka akan ada perang dingin antara Nolan Nesya. Nyatanya, seperti ada lampu pijar yang menyala di wajah Nolan, Nolan malah semakin lebih segar dan ceria dari biasanya. Mama Mitha yang sangat mengenal anaknya tentu saja tahu kalau putranya sedang bahagia.


"Baru turun, ayo makan nak," Mama Mitha langsung mengisi piring Nolan dengan nasi gurih dan ayam goreng sebagai menu sarapan pagi.


"Makasih Ma," balas Nolan.


Sedangkan Nesya memilih menunduk saat mengambil makanan. Ia belum berani menatap mata-mata kecewa anggota keluarganya. Tapi ia sudah kuat mental, mengantisipasi! Siapa tahu saja ada omelan lagi dari anggota keluarga suaminya. Tapi ternyata, keluarga suaminya tidak lagi membahas masalah kemarin karena suaminya yang terlihat baik-baik saja.


"Kemarin bengkel rame No," tanya Davin.


"Sangat ramai Bang, Alhamdulilah," balas Nolan dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


Mama Mitha selalu dibuat heran, apa yang dilakukan Nesya sehingga selalu bisa melunakkan putranya. Mama Mitha dihantui ketakutan sendiri. Kalau seperti ini, Nesya akan semakin kekeh pada pendiriannya tidak ingin hamil karena dukungan suaminya.


"Nesya, kamu tumben sarapan di rumah. Kamu nggak ke rumah sakit!" tanya dingin Pak Hendrawan yang kebetulan jarang bertemu Nesya saat sarapan pagi.


Nesya berhenti menyuap makanannya. "Kebetulan hari ini dokter senior Nesya lagi ke luar kota, jadi Nesya bisa berangkat lebih lama dari biasanya."


"Memang kamu masih berapa lama sih Nes koas di rumah sakit!" tanya Mama Mitha dengan nada ketus.


"Udah jalan delapan bulan Ma, paling cepat bisa selesai delapan bulan lagi Ma, paling lama satu setengah tahun lagi."


Mama Mitha tersedak makanan. "Lama sekali Nes!"


"Tergantung tugas yang sudah Nesya selesaikan Ma," jawab Nesya.


"Terus mau kamu! Apa selama itu mama harus nunggu punya cucu dari Nolan!" seru Mama Mitha dengan nada penuh penekanan.


"Ya, Nolan betul Ma, lagipula masih ada Arzen kan," sahut Davin.


"Vin, kamu saja sama Abel mau balik ke ibukota besok, Mama pasti kesepian lagi nggak ada Arzen."


"Ya, nanti Davin sama Abel akan sering-sering kesini atau Mama main ke rumah kita lama-lama," seru Davin.


"Ya Vin itu pasti, Mama tuh seneng banget punya menantu penurut seperti Abel, dia juga mau susah payah beri kamu anak dan cucu untuk Mama. Coba menantu Mama yang lain juga begitu," sindir Mama Mitha.


Sekarang gantian Nesya yang tersedak sesuatu, Nolan dengan sigap menyodorkan air pada istrinya. Mama mertua benar-benar blak-blakan menyindir dirinya.


"Sabar Ma, nanti juga dapat cucu dari Nolan. Mungkin mereka masih mau berdua dan pacaran dulu, Nolan tuh masih umur dua tiga lebih, Nesya lebih muda lagi, waktu mereka masih panjang. Ia kan Nes," sela Abel.


Nesya hanya mengangguk, tapi Sepertinnya pembelaan Abel tidak berpengaruh pada Mama Mitha, Mama mertua masih memasang wajah kesal. Nesya hanya ingin segera mengakhiri sarapannya dan berpamitan. Ia tak mau membuat Mama Mitha jadi terpancing emosi karena ada dirinya.


.


.


.


.


.


.


.


TBC .....