Dear Nolan

Dear Nolan
Manjanya Calon Mama



Setelah pengungkapan Pak Bimantara Raharja adalah ayah kandung Nesya. Pak Bimantara menjamin seluruh kebutuhan apapun yang dibutuhkan Nesya. Bahkan investasi Pak Bimantara di perusahaan mertua Nesya Adiguna Grup, di alih kuasakan atas nama Nesya.


Meskipun Bunda Serena awalnya keberatan. Pada akhirnya Nesya dan Bunda Serena menyetujui keinginan Pak Bimantara untuk membuat dokumen negara yang menerangkan Nesya adalah putri kandungnya.


Hubungan keduanya juga membaik seiringan berjalan waktu, seperti saat ini. Nesya bersama suaminya mengantarkan ayahnya ke bandara untuk kembali pulang ke negaranya.


"Baik-baik ya twins," Pak Bimantara mengelus perut Nesya yang sudah mulai membuncit.


"Ya, Opah," balas Nesya menirukan suara anak kecil


"Sayang sekali, padahal Ayah ingin sekali kamu ikut ke negeri Jiran sekarang," balas Pak Bimantara.


"Mungkin kalau umur twins udah agak besar Yah, kita akan berkunjung negeri Jiran," balas Nesya.


"Ya No, kapanpun kamu dan Nesya datang, Ayah selalu siap menjemput atau menunggu kalian," seru Pak Bimantara.


"Ya Yah," balas Nesya dan Nolan bersama.


Keduanya melambaikan tangan mengantar kepergian Pak Bimantara, tak menyangka semuanya menjadi terbalik begitu cepat. Waktu yang perlahan membuka tabir kehidupan Nesya. Keduanya masuk ke dalam mobil meninggalkan bandara, melanjutkan perjalanan berikutnya.


"Bang, mau sate yang di pojok gang panti," rengek Nesya saat perjalanan pulang.


"Ya ampun Sayang, mana ada tukang sate gerobak yang berjualan pagi hari gini. Tunggu nanti malam ya," seru Nolan.


"Tapi maunya sekarang, ini keinginan twins loh, aku nggak mau punya dua anak kembar yang ileran!" oceh Nesya.


"Ya Sayang aku ngerti. Tapi pagi - pagi begini yang ada hanya nasi kuning, ketoprak, bubur ayam, kamu tinggal pilih yang mana?" Nolan mulai kesal dengan keinginan aneh istrinya yang kesekian kali.


"Ih maunya sate ya sate! Kalau mau nawar Abang ke pasar sana!" Nesya mulai merajuk seperti biasanya.


Nolan menghembuskan nafasnya kasar mencoba tetap sabar. Begitulah istrinya selama hamil, awalnya hanya ia yang ngidam. Setelah menginjak usia kehamilan empat bulan, Nesya mulai berkeinginan aneh yang menjadi-jadi dengan alasan twins. Ia jadi mudah marah, manja, sensitif. Sebagai suami siaga, mana bisa Nolan menolak keinginan istrinya demi baby twins mereka.


"Oke, oke nanti di usahakan cari!" seru Nolan.


"Begitu dong," Nesya bergelayut di lengan suaminya yang menyetir.


"Tapi nanti di makan loh ya, jangan seperti kemarin kamu mau empek-empek langsung dari kota Bontang, aku terbang kesana jauh-jauh dan berjam-jam kamu cuma makan kuahnya aja!"


"Salahkan twins mau makan kuahnya aja!" Keluh Nesya.


"Kan kamu yang minta Nes, ya kamu dong yang salah!" Nolan mulai emosi.


Nesya bangun dari sandaran lengan suaminya, ia menatap tajam ke arah Nolan.


"Kok bang No jadi marah! Kalau nggak mau dengar keinginan twins, ya udah nggak usah."


"Aku nggak marah sayang, aku cuma bilang kalau kamu minta sesuatu yang kamu mau harus dimakan."


"Bohong, tadi ngomongnya kayak bentak. Stop ... stop aku mau turun aja disini!" Nesya merajuk menggedor-gedor pintu mobil.


"Ya Allah sayang, oke. Oke. Aku salah, aku minta maaf tolong jangan minta untuk turun, kasihan twins." Lagi-lagi Nolan megusap-usap dadanya. Ia berharap tidak terpancing emosi menghadapi istrinya.


"Ya!" balas Nesya dengan muka tertekuk.


Nolan melirik ke arah Nesya yang sudah mulai tenang. Akhir-akhir ini Nesya memang selalu bersikap manja berlebihan, suka ngambekan, gampang emosi, labil. Untungnya Nolan selalu mengingat Nesya sedang hamil dan mengalami perubahan hormon seperti kata dokter.


Nolan jadi teringat beberapa waktu lalu, Nesya menyuruhnya tidur di sofa karena ia kesempitan di ranjang king size, tapi paginya Nesya nangis kejer karena menuduh dirinya sengaja tidak mau tidur seranjang. Jadi Nolan berusaha memperbanyak sabar memaklumi keinginan Nesya dengan alasan twins.


"Aku antar kamu pulang ya, biar lebih banyak waktu istirahat, twins pasti juga lelah pengen mamanya istirahat." Alasan Nolan, ia lebih suka pergi sendiri mencari makanan yang diinginkan istrinya dari pada harus bersama Nesya. Ia hanya membuat repot, belum lagi acara ngambeknya.


"Ya, tapi jangan lama-lama, twins mau bobo sambil di elus sama papanya," rengek Nesya lagi.


" Iya, Sayang," balas Nolan tersenyum manis sambil mengelus perut istrinya. Padahal ia masih binggung, mau cari dimana sate pagi-pagi begini.


Nesya turun ketika mobil sudah sampai di depan rumah keluarga Adiguna. Sebenarnya Rumah vintage yang di bangun Nolan dan Nesya sudah rampung 95%, tapi dengan berbagai alasan Mama Mitha membujuk Nesya agar tetap tinggal di rumah megah keluarga Adiguna, demi kenyamanan bayinya.


Nolan langsung berpamitan pergi setelah menurunkan Nesya. Ia mulai berpikir akan mencari kemana sate di pagi-pagi seperti ini. Mungkin ia akan mencoba mencari di hotel bintang lima. Disana koki akan memasak apa yang di inginkan pelanggan.


Tak selang beberapa lama, Nolan sudah sampai di salah satu hotel bintang lima di kota ini. Ia berhasil memesan sate yang di inginkan istrinya, meskipun mungkin rasanya tak seenak rasa sate kaki lima yang di harapkan Nesya.


"Terimakasih chef," ucap Nolan menerima bungkusan berisi sate.


Akhirnya tugas mendapatkan sate yang diinginkan Nesya selesai. Ia menuju tempat parkir dengan lega.


Drrrrt. Bunyi dering ponsel dari dashboard mobil Nolan.


My beautiful wife


Nolan buru-buru mengangkat telepon dari istrinya itu.


"Iya Sayang."


"Udah dimana?"


"Sebentar lagi sampai, kamu sabar ya."


"Jangan lama-lama ya," rengek Nesya di seberang sana.


"Ya Sayang, sebentar lagi."


" Oke di tunggu."


Nolan menutup teleponnya. Istrinya selalu saja tak sabaran akan segala hal. Untungnya saja dia sudah punya stok sikap sabar. Tak lama berselang, teleponnya berbunyi lagi.


My Beautiful Wife


Calling .....


"Apa lagi Sayang?" tanya Nolan.


"Udah sampai mana?"


"Ini mau sampai rumah sebentar lagi," balas Nolan.


"Mendadak pengen kurma, bisa belikan nggak," rengek Nesya.


"Ya sayang, kurma kan. Aku putar balik." Nolan mengelus dadanya.


"Pengen Kurma yang dari Arab Saudi atau Mesir ya Papa Sayang terkenal manis dan banyak manfaatnya."


"Jangan bilang kamu mau aku langsung beli ke Arab Saudi atau Mesir," keluh Nolan.


"Nggak! kan banyak tokoh timur tengah di kota ini."


"Hampir aja aku mau belikan ontanya sekalian!"


"Ih Abang, ya udah. Aku tunggu."


Nesya menutup teleponnya. Nolan geleng-geleng lagi, kalau bukan karena Nesya hamil. Mungkin emosinya udah meledak-ledak. Ia pun batal masuk jalan menuju rumahnya, ia memutar balik kendaraannya mencari lagi toko timur tengah yang menjual kurma.


Drrrrtttt .....


Nesya lagi! Dengan malas Nolan mengangkat telepon istrinya itu.


"Apalagi Sayang!"


"Abang serius, mau belikan ontanya? Twins dan calon Mamanya kayaknya mau juga!"


Nolan memukul kepalanya ke setir. Bunuh aja sekalian Nes suamimu!


"Tadi cuma bercanda Sayangku."


"Bercandanya nggak lucu!" Nesya menutup teleponnya.


Ngambek lagi! Nolan menghembuskan nafasnya kasar, ia hanya bisa berharap masa ngidam Nesya segera berakhir.


.


.


.


.


.


.


TBC ......


Mangap baru bisa up lagi, kemarin ada sedikit trouble dengan alat ketik Dear 😘😘😘....


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘