
Nesya melihat layar ponselnya berkali-kali, tapi harapannya tak sesuai yang di inginkan. Pesan yang masuk hanya pesan grup-grup Wa-nya yang aneh-aneh.
Begini ya rasanya punya yang di kangenin. Nesya menyunggingkan bibirnya tak percaya sekarang ia sudah bisa bersama Nolan.
Udah lewat semalam Nolan tidak membalas pesannya. Nesya memasukkan lagi ponsel ke dalam tasnya, mungkin si montir hatinya sedang berkumpul dengan keluarganya. Apa daya yang bisa dilakukan Nesya yang tidak bisa ikut ke ibukota. Ia harus stan by di UGD untuk mendapat nilai yang bagus.
Ia kembali memakai masker dan menuju ke ruang UGD usai makan siang dan mengecek ponselnya.
"Nes ...," sapa Rakha menepuk pundak Nesya yang duduk di kursi.
"Ya Dokter," jawab Nesya.
"Kamu tadi nggak di antar pacar kamu ya?" tanya Dokter Rakha
"Nggak! saya naik taksi online,tuh dokter tahu," jawab Nesya.
"Pacar kamu kemana? kalian nggak lagi berantem kan."
Sumpah dokter Raka kepo banget ya sama hidup aku.
"Lagi keluar kota Dok." Nesya sedikit menekan kata-katanya.
"Oh ...," balas Rakha.
"Bulat Dok," ucap Nesya.
"Nes cowok kamu tuh kayak nggak asing." Dokter Rakha menyenggol lengan Nesya lagi.
"Wajahnya mungkin sedikit pasaran Dok, makanya dokter nggak asing." Nesya mencandai saja dokter Rakha.
Dokter Rakha tertawa pelan. "Kamu bisa aja Nes," ucapnya
"Ngomong-ngomong ya dokter, ini UGD loh bukan poli bedah. Dokter nggak salah kamar kan," celetuk Nesya. Ia ingin segera mengakhiri sesi tanya jawab dengan dokter genit ini.
"Ya Nesya saya tahu. Saya cuma mau lihat UGD aja."
"Kasian pasien di poli Dok, kalau dokternya masih mejeng disini," seru Nesya.
"Ya, jadwal praktek saya masih lima belas menit lagi." Dokter Rakha melihat jam tangannya.
"Terserah Dokter deh."
"Nesya, pulang bareng saya aja nanti," tanya Rakha dengan mengembangkan senyum manis.
Nesya membalas senyum paksa pada pria tiga puluhan tahun ini. "Maaf dokter, saya naik taksi online saja, lagi pula saya mau pulang sedikit lama hari ini."
"Nggak apa-apa, saya tunggu."
"Maaf sekali dokter, terima kasih sebelumnya. Tapi saya nggak bisa, lagipula pacar saya nanti marah." Nesya menjawab dengan sombong dan terpaksa jujur supaya dokter playboy itu tidak memaksanya lagi.
"Pacar kamu terlalu ngekang kamu Nes, tanda -tanda dia cowok nggak baik!"
"Dokter setiap orang punya cara sendiri untuk mencintai," jawab Nesya. "Dokter, maaf. Saya permisi dulu, ada pasien masuk." Nesya menunjuk brankar yang baru saja terisi.
Nesya melewati Dokter Rakha menuju ke orang yang baru saja masuk ruang UGD. Akhirnya ia bisa lolos dari Dokter Rakha.
...****************...
Nesya masih berdiri di depan lobby RS akan memesan taksi online kali ini untuk membawanya pulang. Hari ini dia memang malas membawa mobil sendiri meskipun ada banyak mobil lain di rumahnya selain mobilnya yang masuk bengkel.
Nesya juga berharap bisa seberuntung temannya mendapat sopir taksi online mirip Adam Levine atau minimal mirip Park Seo Joon. Nesya melihat meraih ponselnya yang bergetar tanda pesan masuk.
My Lovely Freezer
Sudah pulang kerja ya.
Nesya dengan kilat membalas pesan Nolan.
Nesya
Aku kira lupa sudah punya cemceman.
My Lovely Freezer
Aku baru sempat lihat hape disini rame. Kamu jangan lupa pulang naik taksi online. Jangan genit sama sopirnya kalau dia ganteng.
Nesya
Kalau rejeki dapat sopir ganteng. Jangan salahkan aplikasi ya.π
My Lovely Freezer
kamu mau mobil kamu aku modifikasi jadi odong-odong. Satu lagi! JANGAN TERIMA TUMPANGAN DARI TEMAN LAKI-LAKI KAMU!
Nesya lagi-lagi mengeryitkan dahinya. Hedeh begini banget ya calon suamiku.
Mobil jenis jazz kuning kelabu berhenti di depan Nesya. Ia menurunkan jendela mobilnya.
"Nes, kamu bareng aku aja. Kita kan searah." Dokter Rakha menunduk di celah jendela yang terbuka.
Ternyata benar dugaannya warna mobilnya memang sekelabu pemiliknya.
"Makasih Dok, tapi saya sudah pesan taksi online. Tuh mobilnya sampai, kasian kalo di cancel." Nesya menunjuk mobil warna putih yang berhenti di belakang dokter Rakha.
Kali ini dia selamat. Ia segera masuk ke dalam mobil berwarna putih itu. Nesya di sambut sopir taksi online yang tidak sesuai harapannya. Tapi Nesya tak peduli lagi dengan kadar ketampanan si sopir, ia hanya ingin segera kabur dari rumah sakit ini.
Tak lupa ia memberi tahu Nolan sudah ada di dalam taksi online beserta bukti potret sopir taksi. Ia ingin memperlihatkan pada Nolan, sopir taksi onlinenya sekarang, tak seberuntung temannya. Detik itu juga kekasihnya berhenti mengirim pesan ultimatum.
Beberapa menit menikmati perjalanan yang ramai di kota waktu sore hari. mobil taksi online sudah berhenti didepan pagar rumahnya.
Ia melihat ada mobil Kakaknya yang terparkir di halaman rumahnya. Nesya sedikit terkejut, karena ia sangat tahu kakaknya itu jarang ke rumah keluarganya kalau bukan karena urusan yang mendesak dan penting.
Ia membuka pintu yang tidak di kunci, ia berjalan pelan mengendap. Bukan bermaksud menguping ia mendengar suara yang tidak asing di ruang keluarga. Siapa lagi itu kalau bukan suara Bundanya dan Kakak tirinya. Ini hal yang sangat langkah, untuk pertama kalinya Nesya melihat kedua mengobrol selama Nesya hidup di keluarga ini.
"Mau sampai kapan kamu sembunyikan semuanya dari Nesya Seren!"
"Aku belum siap Dri, aku nggak mau Nesya jadi benci Aku kalau tahu semuanya."
"Dia sudah dewasa Seren, dia pasti mengerti!Nesya juga berhak tahu siapa dirinya!"
"Dri, untuk saat ini aku belum siap. Aku sangat bahagia Nesya menyayangi aku, aku nggak mau semuanya jadi rusak!"
Prakk
Nesya tak sengaja menjatuhkan vas bunga di atas meja yang membuat kedua orang di depannya menoleh ke arah suara.
"Nak, kamu sudah pulang!" tanya Serena yang menghampiri Nesya. Dengan cepat Nesya mencium punggung tangan ibunya.
"Sudah Bun," jawab Nesya. "Eh, ngapain tuh orang disini!" Nesya raut wajahnya menjadi ceria kembali menunjuk ke arah Adrian.
Nesya yang tidak bermaksud menguping, mendengar cuplikan percakapan ibu dan kakaknya. Ia sempat terkejut dan gemetar hingga menyenggol vas bunga di meja.
"Mau jemput kamu! buruan mandi! Malam ini kamu tidur di rumah kita. Aline minta kamu nginep di rumah!" Adrian juga mulai bersikap santai seperti biasa. Padahal Nesya tahu beberapa menit lalu Kakaknya terlihat seperti pria asing karena nada bicaranya yang berbeda.
"Hedeh! bilang aja dari tadi, kan Nesya bisa langsung kesana Kak."
Nesya berpamitan naik ke kamarnya.
Di sela waktu menaiki anak tangga, Nesya memikirkan perkataan ibu dan Kakaknya tadi. Memang siapa dirinya? Hingga bisa membuat ia akan membenci Bunda Serena yang begitu menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri. Ia masih cukup ingat dan sadar, ia anak yatim piatu yang tumbuh dan besar selama sepuluh tahun di lingkungan panti asuhan. Ia juga masih ingat sepuluh tahun lalu bunda Serena dan Ayahnya datang untuk menjadikannya anak angkat keluarga kaya ini.
Nesya menggelengkan kepala dan tidak mau berpikir yang tidak-tidak. Ia tidak mau berpikir negatif tentang keluarganya yang sudah memberinya banyak cinta dan kasih sayang. Baginya itu sudah lebih dari cukup dibandingkan kehormatan dan kemewahan yang juga diberikan keluarga ini.
.
.
.
.
.
TBC
sekali-kali ada part jeng jeng jeng yaπ
Mangap ya Zen, Ei up telat lagiππ
jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote πππ