
Nolan dengan terburu-buru masuk ke dalam rumah. Setiap hari ia ingin rasanya segera cepat - cepat pulang ke rumah.
Nesya sudah pulang dari rumah sakit setelah empat hari dirawat disana. Nesya dan Nolan juga pindah ke rumah baru mereka, meskipun sempat mendapat halangan dari orang tua Nolan.
Keduanya memberi pengertian pada Mama Mitha dan Pak Hendrawan, bahwa mereka sudah tak sabar menempati rumah mereka bersama kedua baby twinsnya. Kedua ingin bertempat tinggal di dekat bengkel Nolan agar mudah bertemu dengan twins jika ia sedang kangen saat berkerja.
Nolan memandangi keduanya bayinya yang sedang tertidur. Narendra dan Naela terlihat begitu kompak pulas tertidur di samping bundanya.
Nesya memutuskan menunda masa koasnya yang kurang beberapa bulan lagi untuk mengurus kedua bayi kembarnya. Ia belum rela meninggalkan Naela dan Narenda bersama babysitter. Nolan sebagai suami dengan senang hati menerima keputusan Nesya untuk merawat bersama Bayu kembarnya.
Mengemaskan sekali dua bayijya ini, Nolan mendekatkan wajahnya dan mencium pipi gembul Naela yang kebetulan di sisi ranjang kosong. Entah berapa kali ayah Naela mencium bayi itu hingga bayi perempuan mungil itu bergerak - gerak kegelian dan terbangun.
Tangis bayi pecah membangunkan Nesya yang ikut terlelap bersama bayinya. Nolan dengan sigap mengendong baby Naela agar berhenti menangis dan tak membangunkan kakaknya.
"Abang udah pulang? kenapa Naela nangis." Nesya bangun dengan kesadaran yang setengah pulih dari posisi rebahan.
"Tadi aku gemes, aku cium terus bangun." Ucap Nolan sambil menimang Naela yang terdiam.
"Abang,"
"Nae udah diam kok Sayang,"
"Udah mandi belum cium-cium Nae, dia bangun karena cium bau ayahnya kali." Sindir Nesya.
"Sori Sayang, aku tadi gemes liat Nae, jadi langsung cium baru mau mandi."
"Abang, kasian Nae bau Oli. Sini-sini bunda gendong." Nesya meraih Naela dari tangan Nolan.
"Iya Sayang maaf," Nolan mencubit hidung Nesya.
"Ayah mau mandi dulu habis itu main lagi ya, sama Naren juga." Nolan berbicara pada bayi yang belum mengerti apa-apa itu.
"Abang tunggu!" Nolan spontan berhenti mendengar panggilan Nesya.
"Bundanya nggak di cium?" Nesya memonyongkan bibirnya ke arah suaminya.
"Masih bau Oli sayang, nanti setelah mandi ya."
"Abang ih, aku kan udah kebal bau Oli dari bang No, bau las, bau bensin. Aku malah suka bang No yang bau aroma bengkel campur keringat gitu. Seksi tahu!" Nesya memasang mata genit.
Nolan mengelengkan kepala sambil tertawa renyah, begitu keunikan istrinya yang tak pernah malu mengungkapkan keinginan pada hal yang intim. Ia kembali ke arah Nesya, di kecupnya lembut bibir sang istri itu. Setelah cukup Nolan melepaskan bibirnya dari bibir Istrinya.
"Abang, mau yang kecup basah, kurang hot ini." Gerutu Nesya manja.
"Kamu masih gendong Nae Sayang, lagipula aku takut keterusan Sayang, kamu belum selesai Nifas loh." Nolan hanya berjaga-jaga agar pentungannya tidak On.
"Lima menit aja," desak Nesya yang sedang ingin menaikkan mood boosternya dengan kecupan basah dari suaminya.
Nolan pun tak bisa menolah keinginan Nesya seorang ibu menyusui yang sekarang lebih sensitif.
Saat akan membuka mulut, tangisan melengking dari ranjang menganggu pendengaran Nesya dan Nolan.
Nolan langsung bergerak ke arah ranjang mengendong Baby Naren yang terbangun
"Cup, sayang, cup, ayah sama bunda kamu berisik Ya," Nolan menimang-nimang bayinya. Ajaibnya baby Naren langsung terdiam di gedongan ayahnya.
"Abang aja yang kurang gerak cepat! Padahal mulut aku udah mengangga kayak kuda Nil," celetuk Nesya.
Nolan mencubit hidung Nesya gemas. Istrinya ini selalu saja ada alasan.
...***************...
Seluruh keluarga Nolan dan Nesya kini berkumpul di rumah baru mereka. Pasangan orang tua muda ini mengadakan acara aqiqah baby twins yang tepat hari ini berumur 40 hari, sekaligus syukuran untuk memasuki rumah baru mereka.
Rumah dengan gaya vintage yang banyak memakai ornamen kayu pada lantai dan tiang penyangga. Meskipun hanya bangunan rumah lantai satu yang tak semegah dan sebesar rumah keluarga Adiguna maupun Keluarga Bagaskoro, apalagi mansion Pak Bimantara yang sempat di tawarkan pada Nesya.
Rumah yang ia tempati ini adalah rumah masa depan yang di bangun atas dasar dua ide dan impian Nolan dan Nesya.
Nolan yang menginginkan rumah mengandung banyak ornamen kayu dan Nesya yang menginginkan rumah bergaya shabby chic. Jadilah rumah Nolan dan Nesya seperti sekarang. Di luar seperti villa-villa di tengah hutan tapi ketika memasuki area dalam akan dimanjakan dengan di funiture ala-ala rumah Barbie. Sedikit nyeleneh memang, tapi begitulah menyatukan dua hati dan dua ide.
Menggabungkan dua acara ini memang sudah di rencanakan jauh-jauh hari untuk
Mereka bukannya pelit, meskipun acara aqiqah baby twins jauh berbeda dengan kemegahan pesta pernikahan kedua orang tuannya. Pasangan Nones menginginkan acara aqiqah yang sederhana dan tak mengundang banyak orang. Hal ini demi kenyamanan bayi mereka sendiri yang baru berumur beberapa minggu. Mereka cukup membagikan makanan dan santunan pada yayasan - yayasan panti asuhan yang biasa di sambangi Nolan.
Kebahagian masih terpancar di rumah Nolan dan Nesya. Meskipun acara kali ini begitu sederhana dengan hanya di hadiri kedua keluarga. Tapi tak mengurangi kesakralan acara.
Setelah pembacaan ayat-ayat Al-Qur'an dan pembacaan doa. Tibalah pada acara inti pemotongan rambut baby twins yang di gendong oleh Nolan dan Nesya.
Acara demi acara pun usai, semua keluarga menikmati hidangan yang di siapakan Nolan dan Nesya.
Nae dan Naren tentu saja jadi bahan rebutan keluarganya. Nae berpipi tembam dan berkulit lebih gelap dari kakaknya kerap kali jadi bahan candaan keluarganya. Pasalnya bayi perempuan mereka sedikit berbeda dengan orang tuanya.
"Kayanya Nae kebanyakan nyerap sari kopi yang diminum Nesya," canda Davin yang sekarang mengendong Naela.
"Tapi Nae manis uncle, kalau nggak percaya coba jilat." balas Nesya disusul tawa keluarga yang berkumpul.
"Naren sama aunty sama Kakak Arzen diam nggak rewel ya," kata Abel yang sekarang mengendong Naren.
"Nanti Arzen nyusul punya Ade juga ya," balas Nolan mengelus kepala keponakan balitanya itu.
"Amin!" Sahutan keluarga yang melingkar di ruangan itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC .........