
Nolan melajukan kendaraannya cepat, ia juga sudah berjanji pada Papanya akan ikut makan malam dengannya malam ini. Ia melihat rumahnya yang masih sepi. Itu artinya Papanya belum siap untuk pergi. Ia pergi saja ke kamar menunggu waktu Magrib dan bersiap-siap.
Tok tok tok
Nolan membuka pintu.
"Maaf Tuan, di tunggu Tuan dan Nyonya besar," ucap pelayan itu.
"Iya ini mau bersiap, bilang sama Papa Mama." Nolan menutup kembali pintu kamar.
Nolan mencari baju yang akan ia pakai, ia tidak tahu makan malam seperti apa yang di maksud oleh kedua orang tuannya. Ia memilih berpenampilan apa adanya sesuai dengan kepribadiannya. Ia hanya menemani papanya. Ia menunggu kedua orang tuanya di depan kamar mereka.
Tak lama kedua orang mereka sudah keluar dari kamar dengan penampilan rapi seperti biasanya. Ibunya terlihat anggun dengan baju warna hitam dengan kerudung warna gold yang hanya menutupi sanggulnya. Sedangkan Pak Hendrawan memakai baju corak batik kali ini. Sekarang keduanya malah menatap aneh ke arah putranya. Nolan terlihat sangat casual, ia seperti bukan akan pergi makan malam dengan elegan. Ia terlihat sangat santai dengan kaos lengan panjang berpadu dengan celana chino lengkap dengan sepatu sneakernya.
"No, rapilah sedikit, pakai kemeja sana!" ucap Pak Hendrawan.
"Nggak ah Pa. Aku suka begini," bantah Nolan.
"No, tapi papa malu dengan teman papa, kalau kamu begini." Pak Hendrawan terus mendesak Nolan.
"Pa, kenapa kita harus menilai orang dari tampilan luarnya. Udah! Kalau papa keberatan aku nggak usah ikut pergi." Nolan mulai kesal dengan Papanya.
"Pa, Pak Doni pasti paham, Nolan masih berstatus mahasiswa, pasti dia mengerti tampilan mahasiswa tidak seperti pekerja kantor yang harus rapi. Kita sudah ditunggu Pa, nggak enak kalau kita telat." Bu Mitha mencoba menenangkan suami dan putranya ini yang selalu berbeda pendapat.
"Ya sudah! anak Mama yang satu ini memang susah di atur! Ayo kita pergi." Pak Hendrawan mengalah dan melangkah pergi.
"Tapi anak Mama yang satu ini jagoan." Kata yang selalu Mama Mitha ucapakan dari dulu untuk menenangkan Nolan.
"Aku bukan lagi anak kecil lagi Ma," ucap Nolan meraih tubuh Sang Mama memeluknya manja.
Bu Mitha mengandeng lengan Nolan dan mengekor di belakang Pak Hendrawan yang melangkah dengan cepat dan kesal.
*****
Ketiganya di sambut pelayan resto dan mengarah ke tempat mereka akan bertemu dengan Pak Doni Anggara Bagaskoro.
Seorang pria paruh bayah dengan memakai balutan kain batik berdiri ketika melihat Pak Hendrawan merenggang tangannya. Pak Doni membalas merenggangkan tangan dan kedua pria berumur itu saling berpelukan dengan tawa di bibir keduanya.
Sedangkan sang Mama juga memeluk perempuan yang ada bersama lelaki itu. Nolan hanya memandang saja karena tidak biasa melakukan hal-hal seperti itu.
"Pak Doni, mungkin kau jarang melihat dia. Ini putra keduaku Nolan." Pak Hendrawan menepuk pundak Nolan.
Nolan langsung menyalami dan mencium punggung tangan pria itu selayaknya seperti orang tuanya.
"Aku tidak pernah melihat putra kedua Anda Pak. Kau sama tampannya dengan kakakmu." Pak Doni menempuk punggung Nolan.
"Dia, masih mahasiswa Pak Doni," ucap Pak Hendrawan sebelum Pak Doni mengomentari penampilan anaknya.
"Kau sama seperti putriku, dia juga masih menjadi dokter muda." Pak Doni lagi-lagi menepuk punggung Nolan. Ia tidak merasa ada masalah dengan penampilan Nolan yang apa adanya.
Nolan tidak terlalu peduli dengan putri yang di maksud Pak Doni, ia hanya tersenyum tipis menghormati. Semuanya kembali duduk di kursi masing-masing.
"Dimana putrimu Pak Doni," tanya Pak Hendrawan.
"Sebentar lagi dia tiba. Tadi dia pergi dari rumah kakaknya." Kata wanita anggun dan cantik yang terlihat baru berumur empat puluhan.
"Ya Bu Serena, kita akan tunggu," ucap Pak Hendrawan.
.
.
.
.
TBC...