
Nesya sudah mengeringkan rambutnya yang basah, ia tinggal menunggu suaminya yang masih mandi untuk sholat Magrib sebelum keduanya kembali ke rumah sakit.
Tak lama, suaminya keluar dari mandi sambil mengosok-gosok kepalanya yang basah dengan handuk kecil.
"Sini aku bantu." Nesya meraih handuk kecil milik Nolan dan mulai membantu mengeringkan rambut suaminya.
Nolan menunduk karena tubuh tingginya tidak bisa di jangkau oleh Nesya. Setelah selesai melakukan aktivitas mengeringkan rambut, Nolan memegangi bahu Nesya.
"Nes, kenapa aku jadi deg deg kan ya. Bagaimana kalau aku yang ternyata punya masalah kesuburan."
"Ssst ...." Nesya menutup mulut Nolan dengan telunjuknya, "kita harus yakin Bang, kalau kita berdua sehat dan bisa cepat punya baby." Nesya mencoba menyemangati istrinya.
"Amiin ...."
"Ya udah buru, kita sholat terus balik ke rumah sakit, bibit unggul kita harus sampai sana sebelum satu jam," seru Nesya.
"Oke Sayang." Nolan berbalik untuk berpakaian.
Setelah selesai menjalankan kewajibannya, kedua pasangan suami istri muda ini check-in untuk meninggalkan hotel. Ya, keduanya memutuskan untuk mengumpulkan bibit unggul untuk sampel di hotel meskipun rumah sakit mempunyai tempat khusus. Hotel bintang empat yang mereka pesan pun tak jauh dari rumah sakit, hanya butuh waktu beberapa menit saja.
Nesya turun terlebih dahulu, ia berdiri di Lobby sambil menunggu suaminya yang memarkirkan mobilnya di sebelah gedung rumah sakit.
Nolan muncul lalu mengandeng tangan Nesya memasuki rumah sakit. Keduanya langsung bergegas menuju poli kandungan karena waktu satu jam kurang sekitar sepuluh menit lagi. Ketika malam hari, pengunjung rumah sakit tak sebanyak sore tadi. Nesya langsung bisa menemui dokter tanpa harus mengantri lagi.
"Malam dokter." Nesya menyerahkan botol kecil yang sudah di beri label waktu.
"Baik, kita akan periksa sampelnya ya." Dokter kandungan itu menyisihkan botol itu pada tempat bentuk box berwarna biru.
"Nes, Mas, kemungkinan hasilnya baru bisa keluar paling cepat besok siang. Ini baru sampel pertama, mungkin kita akan lakukan pengambilan sampel satu kali lagi dua Minggu ke depan. Kita lihat dulu hasil sample yang pertama."
"Baik dok, terimah kasih," Nesya dan Nolan bangkit meninggalkan ruangan dokter. Keduanya hanya berharap hasilnya sesuai dengan keinginan mereka.
...**************...
Nesya mendapati suaminya yang berguling-guling karena tidurnya tak tenang. Biasanya suami langsung tertidur ketika di peluk hangat olehnya.
"Bang No," Nesya memegangi pipi suaminya.
"Ya, Nes."
"Kenapa nggak tidur, ini udah malam loh. Besok Bang No antar aku sebelum subuh," ucap Nesya mencari alasan.
"Ya Sayang, aku cuma kepikiran tes tadi," ungkap Nolan.
"Bang No, kalo Abang udah jalani pola hidup sehat. Insyaallah semuanya akan baik-baik saja. Kalau Allah mengijinkan sebentar lagi perut aku jadi buncit, pasti aku lucu," canda Nesya dengan memasang wajah imut adalannya
Nolan mulai bisa sedikit tertawa melihat istrinya. "Iya Sayang, ya udah kita tidur."
Nolan meraih pinggang Nesya dan mendekapnya erat dalam pelukannya. Ia berharap malam ini bisa tidur tenang, berpikir positif dengan hasil laboratorium besok.
...****************...
Sore hari ini, usai pulang dari melakukan kegiatan di rumah sakit, Nesya dan suaminya kembali menemui dokter kandungan.
Nesya mengeratkan merangkul lengan Nolan. Ia hanya bisa berharap suaminya sama suburnya seperti dirinya. Dengan begitu kegiatan bercocok tanamnya akan lebih berpeluang untuk segera berbuah.
Hanya perlu mengantri beberapa menit dengan pasien lain, Nama Nolan dan Nesya di panggil untuk menemui dokter.
"Sore Dok," sapa Nesya dengan wajah ceria.
"Sore, hasil labnya udah keluar ya." Dokter anggun itu menunjukkan lembaran pada Nolan dan Nesya.
"Bagaimana hasilnya dok," tanya Nolan yang jadi deg-degan sekarang.
"Saya baca ya Mas." Dokter mengamati kertas yang sempat di tunjukkan pada Nesya dan Nolan.
"Dari hasil pemeriksaan, sel spe-ma suami yang aktif hanya tiga puluhan persen. Sedangkan untuk terjadi pembuahan dibutuhkan lebih dari lima puluh persen sel sper-ma yang lincah dan aktif."
"Untuk saat ini belum, kemungkinan sangat kecil sper-ma bisa membuahi sel telur."
Nesya mengengam tangan Nolan yang tiba-tiba menjadi tegang.
"Tapi ada solusi kan Dok," tanya Nesya.
"Tentu saja ada, kita terapi obat dan vitamin-vitamin penunjang. Menerapkan pola hidup sehat. Dengan begitu produksi sel sper-ma akan baik dan siap membuahi."
"Dok, kalau boleh tahu apa penyebab menurunnya kualitas sper-ma, saya selalu olah raga dan makan makanan yang sehat," tanya Nolan.
"Dari hasi Lab dan catatan Medis Anda, Memang tidak ada riwayat yang bisa mengurangi kualitas sper-ma. Kemungkinan besar, ini terjadi karena efek samping jangka panjang konsumsi obat Antipsikotik atau Anti depresan." Tutur Dokter
Nolan mulai menyadari perkataan dokter. Ia memang bertahun - tahun bergantung pada obat-obatan itu, jika merasa kepalanya berat memikirkan sesuatu.
"Tapi Dok, saya sudah lama berhenti konsumsi obat-obatan itu, sudah hampir dua tahunan. Apakah masih berpengaruh?" Nolan masih berusaha untuk meyakinkan dirinya."
"Tentu, obat anti-depresan sangat berpengaruh, ini namanya efek samping jangka panjang. Tapi tidak perlu kuatir Mas, kalau mengatasi masa kesuburan laki-laki banyak sekali cara dan lebih modern."
"Ya Dok," jawab Nolan dengan rasa masih kecewa.
"Untuk sementara saya akan kasih terapi obat vitamin untuk memperbaiki sel. Kita akan cek lagi dua Minggu mendatang, semoga banyak perubahan pada selnya suami."
"Baik dok, kita ikuti saja prosedur dari dokter,' ucap Nesya.
"Saya akan lakukan apapun demi bisa sehat Dok," ucap Nolan kaku.
"Bagus, lagi pula kalian berdua masih muda, masih punya banyak waktu, nggak apa-apa jika keinginan punya anak tertunda sementara," ucap Dokter.
Keduanya hanya tersenyum, setelah dokter berbagi saran dan prosedur untuk Nolan. Dokter memberi resep obat untuk memulai terapi obat kesuburan. Keduanya berpamitan keluar menuju apotik.
Usai menebus obat, keduanya mulai perjalanan pulang dari rumah sakit. Jalanan sore yang cukup padat menambahkan kesan riuhnya jalan kota saat jam - jam pulang kerja. Nesya memperhatikan suaminya yang sejak dari ruangan dokter hanya diam saja nampak begitu tertekan.
Nesya mengosok lengan tangan suaminya yang menyetir, ia mencoba membujuk suaminya agar tidak terlalu panik. Semua pasti bisa diobati, dunia sudah sangat modern.
"Bang No nggak usah kuatir, pasti ada waktunya nanti kita akan dengar kabar bahagia di ruangan dokter." Nesya hanya berusaha menghibur.
Nolan menepikan mobilnya tiba-tiba. Nesya melihat tatapan mata suaminya lebih menyeramkan dari biasanya. Apa dirinya salah ngomong.
"Nes! kenapa hidup aku tak pernah beruntung! Bahkan ketika istriku ridho mau punya anak pun! Aku sebagai suamimu nggak bisa!" seru Nolan dengan nada keras.
"Kenapa? kenapa aku nggak bisa membuat orang yang aku cintai bahagia!" lanjut Nolan masih dengan nada keras.
Nesya mengelus dadanya kaget, melihat suaminya yang berubah setelah tahu hasil pemeriksaan lab. Ternyata hal itu cukup menguncang batin suaminya. Nesya akan berusaha menenangkan suaminya dan memberi pengertian.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC,...........
Panjang dear 😘