Dear Nolan

Dear Nolan
Ujian Sebelum Pernikahan



Nesya buru-buru mengejar Nolan. Ia mengedarkan pandangannya tak juga di dapati Nolan di dalam rumah. Ia melihat ke arah pintu. Kekasihnya itu sedang berada di teras depan. Nesya buru-buru menghampiri dan mengandeng lengan kekasihnya itu.


"Tadi aku bercanda tapi fakta, gimana ya ngomongnya aku jadi serba salah," ucap Nesya.


Nolan menoleh ke arah Nesya, "Ya nggak apa-apa, sama seperti yang aku bilang kemarin-kemarin. Aku nggak suka kamu muji cowok lain depan aku."


"Aku kira itu nggak berlaku untuk om-om," canda Nesya meskipun ia tahu selera humor cowoknya di sampingnya buruk.


"Nesya ...." Kata Nolan dengan nada peringatan.


"Ya ... ya, maaf mulut aku kadang le'mes!" balas Nesya.


"Kamu nggak salah kenapa minta maaf, aku yang harus minta maaf. Terlalu posesif sama kamu dan kamu tahu sendiri alasannya kan."


"Iya, udahan ah ngambeknya, ini kan hari bahagia di rumah Kak Abel dan Bang Davi." Nesya menyatukan tangan dengan wajah semanis mungkin.


"Iya ...." Balas Nolan singkat.


"Ehemm ...." Suara deheman Davin mengagetkan keduanya. "Udah mau Magrib masuk rumah, di luar banyak setan." Candaan Davin pada kedua orang yang berdiri di teras.


"Ya udah masuk dulu mau Magrib," Nolan menarik tangan Nesya mengikuti Davin masuk ke dalam rumah.


Nesya langsung menghampiri Mama Mitha yang asik menimang Arzen. Nesya pun menoel-noel pipi Arzen yang gembul.


"Nanti kalau kamu sudah nikah, jangan lama-lama ya kasih cucu juga sama Mama," ucap Mama Mitha.


Nesya hanya tersenyum malu, padahal setelah nikah ia sepakat dengan Nolan untuk menunda kehamilan. Kalau begini ia jadi galau karena ia beruntung punya calon Mama mertuanya baik, tidak seperti cerita teman-temannya kalau ibu mertua itu tak kalah kejam dari ibu tiri.


...****************...


Nolan berhenti di sebuah rumah minimalis bercat putih di salah satu perumahan di ibukota. Nesya segera melepaskan seat belt.


"Besok aku jemput ya," ucap Nolan sebelum Nesya keluar mobil.


"Titip cium buat Arzen, dia lucu banget bikin gemes," seru Nesya. Nolan mengangguk mengiyakan.


Nesya kekuar dari mobil, ia melambaikan tangan ketika mobil Nolan mulai perlahan pergi.


Malam ini Nesya akan menginap di rumah sahabatnya Ninda. Ninda sahabat Nesya dari SMA selama tinggal di ibukota. Ia juga teman satu kampus dengan Nesya. Tapi Bedanya jurusan dengan Nesya, ninda mengambil jurusan keperawatan. Mumpung sedang di ibukota, Nesya harus bertemu Ninda untuk melepas rasa kangen.


Nesya mengetuk pintu beberapa kali, tak lama pintu terbuka dan muncullah sahabat yang ia rindukan.


"Nenes!" Ninda langsung memeluk Nesya.


"Ninda!" Nesya memeluk erat-erat sahabat yang sedang hamil itu. Ya, Ninda baru menikah beberapa bulan lalu.


Nesya melepaskan pelukanmya. "Sori! aku nganggu kamu sama Dewa nginep di sini."


"Gue bisa ketemu dewa tiap hari, tapi gue jarang ketemu Lo, belum tentu sebulan sekali ke ibukota." Ninda mengajak Nesya masuk ke dalam rumah


Nesya kini duduk di ruang tamu sambil menunggu sahabatnya yang sibuk di dapur. Ninda datang dari dapur membawa dua cangkir teh.


"Rencana berapa hari disini?" tanya Ninda kini ia ikut duduk di sebelah Nesya.


"Paling besok balik Mak," jawab Nesya.


"Cepat amat sih, kenapa nggak seminggu disini."


"Ijin di RS cuma dua hari Mak, kalau aku maunya sebulan malah."


"Nanti kalau udah nikah! baru ijin satu bulan! itu aja nggak cukup rasanya buat honeymoon," canda Ninda sambil cekikikan.


"Pamer ... itu kamu Mak," sindir Nesya menepuk pundak Ninda.


"Betewe, kenapa calon laki lo nggak di ajak mampir, gue pengen tahu aslinya. Beneran cakep atau fotonya doang."


"Cakep beneran lah, udah malam Mak. Besok pagi juga ketemu."


"Lamaran jadi kan minggu depan ...." Ninda antusias mendengarkan kisah selanjutnya.


"Eh ... kenapa jadi lemes, Lo mau punya laki Nenes."


"Nggak tau kenapa ya Mak, makin kesini aku makin resah aja."


Ninda memandang penuh tanya ke arah Nesya. "Maksud lo gimana nih, kayak lagu aja resah dan gelisah."


"Aku tiba - tiba nggak sesemangat pertama-tama, aku kayak ragu aja gitu setelah kumpul sama keluarga Bang No," ucap Nesya yang tampak ragu.


"Lo nggak yakin sama Nolan?" tanya Ninda kaget.


"Bukan nggak yakin sama Nolan, cuma aku kayak takut nggak bisa jadi menantu dan istri yang baik aja. Apalagi calon Papa mertua sekarang ketus sama aku."


"Nenes, mungkin lo kena sindrom pra nikah. Menurut gue itu wajar sih untuk orang yang mau nikah."


"Masa!"


"Ya, bisa jadi ini ujian buat lo sebelum nikah, biasa ada ujiannya. Tinggal lo aja, bisa nggak ngelewatin dan bertahan sama si sosorable lip."


"Emang iya!" seru Nesya lagi.


"Gue aja nih, hampir batal nikah sama si Dewa gara-gara emaknya dia nggak mau pakai konsep adat. Dia pengennya yang modern kayak pernikahan artis korea. Sepela kan ujian gue, tapi dampaknya besar banget gue jadi uring-uringan sama keluarga gue, Lo tahu sendiri akhirnya kita pestanya pakai dua konsep."


"Kamu batal bulan madu gara-gara dananya dipakai buat pesta!" Nesya tertawa menginggat pesta pernikahan sahabatnya.


"Tuh lo tahu, itu masih mending. Sepupu gue, nikahnya dibatalin waktu dua hari sebelum hari H, gara-gara tuh cowoknya balikan lagi sama mantan yang baru pulang dari luar negeri."


"Najis tuh cowok." Nesya berdecak kesal.


"Makanya Nenes, Lo positif thinking aja, banyak-banyak doa supaya pernikahan lancar sampai hari H."


"Tumben nih nasehatnya bener." Nesya menyentil kening Ninda.


"Ya, kalau lo udah halal kan enak, Lo bisa bebas ngelakuin aja sama Nolan. Termasuk ngerasain di suntik."


Nesya yang mendengar ucapan Ninda, langsung tersedak teh yang akan di sesapnya.


"Ih ... apaan sih." Nesya memukul Ninda dengan bantal.


"Kan gue bener. Bosen kan lo nyutik orang mulu." Ninda tertawa nyaring.


"Apain sih nih emak-emak. Please deh Nin, jangan kotori pikiran polosku dengan hal begituan."


Ninda masih belum berhenti tertawa, ia mengoda Nesya dengan candaan pengalamannya yang sudah berumahtangga.


"Nin, aku mau tidur ngantuk."


"Ya udah, besok kita lanjut ngobras lagi." Ninda bangkit dari sofa untuk mengantar Nesya ke kamar tamu.


Nesya merebahkan diri di kasur kamar tamu rumah Ninda. Ia menarik selimut menutupi sampai ke pundaknya. Setelah mengirim pesan ucapan selamat malam pada Nolan, Nesya memejamkan mata ingin melewati mimpi. Remang-remang sebelum tidur, Nesya mulai memikirkan omongan Ninda tentang perasaan gelisahnya. Mungkin ini bagian dari ujian sebelum pernikahann yang bisa ia lewati atau tidak. Nesya berharap semuanya baik - baik saja dan berjalan seperti semestinya pada saatnya nanti. Pada saat dirinya bukan lagi lagi menjadi aku dan kamu tapi kita.


Ia tersenyum sendiri membayangkan saat itu. Ia pun memejamkan matanya lagi berharap cepat pagi dan bertemu lagi dengan Nolan.


.


.


.


.


TBC


semangat Nesya 😍😍


jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘