
Nolan memperhatikan Nesya yang lebih diam setelah pulang dari panti. Ia tidak mengeluarkan candaan atau mengodanya seperti biasanya. Sepanjang perjalanan hanya ada kebisuan. Selain Nolan yang sangat jarang bicara jika tidak ada yang perlu di bicarakan. Nesya juga lebih sering menatap kosong ke depan jalan.
Nesya malah semakin penasaran dengan orang tua kandungnya. Meskipun Nesya orang yang pecicilan, dia masih bisa melihat sikap Bu Tari yang seolah menutupi masa lalunya.
"Anty, Alien punya tebakan," oceh Aline memecah kebisuan. Bocah itu berdiri dibelakang kursi Nesya.
"Wih ... apa Aline, lucu nih pasti," seru Nesya kembali ceria.
"Bang No mau tahu juga," seru Aline.
"Mau dong anak manis," jawab Nolan.
"Oke ... hewan apa yang selalu nyari bapaknya." Aline memberi teka teki dengan semangat.
"Apa ya, ayam bukan yang suka cari induknya." Nolan berusaha menebak candaan Aline. Aline menggelengkan kepalanya.
"Semut ya, kan dia suka berjalan rame-rame," jawab Nesya.
"Ih bukan ... Anty juga salah."
"Apa dong," ucap Nesya.
"Bang No nyerah." Aline menunjuk ke arah Nolan.
"Ya nyerah," jawan Nolan.
"Apa dong Aline, Anty nyerah juga deh."
"Oke. Jawabanya hewan yang cari bapaknya itu kambing," oceh Aline.
"Kok bisa!" jawab Nesya dan Nolan hampir bersamaan.
"Kambing kan kalo bunyi, bee ... bee ... bee ... babe." Aline mengembik meniru suara kambing.
Nesya dan Nolan langsung seketika tertawa. "Lucu Lin, kayak bapaknya nih anak lama-lama," ujar Nesya.
"Gitu aja nggak bisa nebak," kata Aline. Kini bocah itu kembali duduk di kursinya.
Tebak-tebakan dari Aline membuat suasana dalam mobil ceria. Nolan memperhatikan ke arah Nesya yang kembali diam setelah tertawa lepas.
"Nes, ada masalah?" tanya Nolan.
"Nggak kok," jawab Nesya dengan nada cerianya seperti biasa.
"Kamu kayak kesambet pohon gede yang di panti tahu nggak, dari tadi diam aja."
"Nggak Sayang, aku cuma kesambet pesonamu aja," canda Nesya.
Meskipun geli dengan panggilan sayang dari Nesya, Nolan terkekeh merasa lega. Ternyata Nesyanya masih Nesya yang sama, dia baik-baik saja.
Mobil kini sudah berhenti di depan rumah Adrian. Aline turun terlebih dahulu. Sedangan Nesya masih berdua di mobil bersama Nolan.
"Sori ya nggak bisa ngajak jalan lama-lama, aku harus ngurusin keperluan bengkel. Dia pelanggan tetap yang mau perpanjang kontrak servis mobil inventaris perusahaannya." Nolan memberi pengertian pada Nesya.
"Kenapa harus weekend sih," seru Nesya.
"Ya kalau mereka sempatnya weekend Nes," ujar Nolan.
"Ya udah nggak apa-apa kok, lagipula biaya nikah mahal Bang. Kerja yang giat sekarang," canda Nesya.
"Kamu tuh paling bisa ya," Nolan mencubit hidung Nesya.
"Ya ... memang iya kan, mau cepat nikah nggak!" celetuk Nesya lagi.
"Kalau sama kamu, mau secepatnya," balas Nolan juga.
Nesya jadi merona merah mendengar kata Nolan. Lama di mobil nggak apa-apa deh, Kapan lagi bisa liat Bang No jadi kalem begini.
"Ya udah kamu turun deh Nes, kalo kita lama-lama disini takut khilaf," kata Nolan. Wajah Nesya yang ceria berubah jadi mayun.
Hedeh ... plis Nesya kamu jangan kayak jablay. cowokmu ini bener.
"Iya Aku turun, hati-hati dijalan," ucap Neysa.
"Iya ...," balas Nolan.
Nesya dengan pelan membuka seat beltnya. Ia tidak berharap mendapat ciuman di jidat karena belum halal untuk cium-cium. Ia hanya berharap mendapat kata-kata mutiara kali ini. Sampai pintu terbuka dan satu kaki Nesya turun dari mobil, satu kata mutiara pun tak keluar dari mulut Nolan.
"Nesya," cegah Nolan.
Nesya dengan semangat menoleh.
"Botol minuman Aline ketinggalan." Nolan memberikan pada Nesya botol minuman Aline.
Jedar. Nesya tak mau berharap lagi, ia harus mulai terbiasa dengan kekasihnya yang tak bisa berkata manis ataupun romantis. Nesya langsung mendengus kesal dan memaksakan senyum manis sambil mengambil botol minuman Aline.
"Ya udah aku pulang," ucap Nesya, kini ia hanya bersiap berdadah manja dan menunggu Nolan menghilang dari pandangannya.
Tunggu aja Bang No, setelah kita nikah aku buat dia nggak berkutik dan nggak bisa jauh-jauh dari aku.
Nesya masuk ke dalam rumah setelah mobil Nolan bergerak menjauh.
Setelah menyelesaikan urusannya di bengkel. Nolan memilih untuk pulang ke rumah sore ini. Meskipun akhir-akhir ini ia lebih sering di bengkel, kali ini ia memilih menghabiskan weekend di rumah. Ia memarkirkan mobilnya di depan teras rumah dan segera masuk ke dalam rumah. Ia menaiki tangga menuju kamar.
Ia menaruh tas dan melepaskan sepatunya. Bersamaan dengan itu pintu kamar Nolan terbuka dan ayahnya muncul dari pintu.
"Pa ...." Sapa Nolan sambil melepaskan ikatan sepatunya yang lain.
"No, akhir-akhir ini Papa jarang lihat kamu makan malam dirumah. Apa bengkelmu ramai," tanya Pak Hendrawan pada Nolan.
"Ya Pa lumayan, tapi Nolan lebih fokus ngerjakan skripsi sama lomba yang kadang lupa waktu."
"Jaga juga kesehatanmu Nak," ucap Pak Hendrawan.
"Ya Pa. Aku ingin segera ujian, supaya bisa cepat melamar Nesya." Nolan bercerita dengan penuh semangat. Ada raut wajah lain dari Pak Hendrawan tak sesenang dulu ketika acara makan malam.
"Bagaimana hubunganmu dengan Nesya," tanya Pak Hendrawan lagi.
"Kita baik, Nesya gadis yang baik dan bersemangat," kata Nolan dengan menyungging senyum di bibirnya.
"Tapi nak, apa kau juga tahu kalau Nesya ternyata bukan anak kandung Pak Doni dan Bu Serena, Dia hanya anak adopsi."
"Ya benar, Nolan tahu Pa. Apa ada masalah?" tanya Nolan mulai memandang aneh ke arah Papanya.
Pak Hendrawan binggung harus bicara darimana dengan anaknya. Ia tahu riwayat kesehatan Nolan, ia akan langsung drop jika berpikir terlalu berat dam membebani pikirannya.
"Papa disini." Bu Mitha muncul dari ambang pintu. Ia menghampiri kedua laki-laki itu.
"Aku hanya ingin bicara dengan putraku." Pak Hendrawan menepuk pundak Nolan.
"Pa, biarkan putraku Istirahat." Bu Mitha memeluk Nolan yang duduk di ranjang.
"Nggak apa-apa Ma," seru Nolan.
"Pa, Ayo temani Mama minum teh." Bu Mitha mengandeng tangan Pak Hendrawan.
"Ya udah Papa temani Mama aja, kita ngobrol nanti," seru Nolan.
Dengan terpaksa Pak Hendrawan berdiri dan mengikuti arahan istrinya keluar kamar Nolan. Setelah berada di ruang tengah dan jauh dari kamar Nolan. Bu Mitha memandang sinis ke arah Pak Hendrawan.
"Pa, papa tadi ingin bicara apa dengan Nolan! apa papa ingin bicara tentang Nesya."
"Ya apalagi Ma, Papa tidak mau hubungan mereka semakin jauh, itu karena Papa terlambat tahu infonya," kata Pak Hendrawan.
"Tapi Papa kan sudah berjanji pada Pak Doni akan menjodohkan Nesya dengan Nolan."
"Itu bisa Papa batalkan dengan banyak alasan Ma," jawab Pak Hendrawan enteng.
"Papa! tega sekali papa bicara begitu! Apa Papa nggak lihat Nolan yang sekarang, apa Papa nggak lihat betapa bahagianya dia sekarang." Bu Mitha emosi dengan suaminya.
"Itu karena mereka kasmaran Ma, Apa Mama mau punya menantu yang tidak jelas asal usulnya!" Pak Hendrawan menjadi emosi.
"Mama nggak peduli Pa. Asalkan anak Mama bisa bahagia."
"Tapi Ma, papa tidak mau punya menantu seperti Nesya," ucap Pak Hendrawan lagi.
"Pa, Pak Doni saja sangat menyayangi Nesya dan tidak membedakan Nesya sama sekali."
"Tetap saja Ma, dia hanya anak asuh," ucap Pak Hendrawan.
"Dan Mama orang pertama yang akan menentang siapapun yang menghalangi hubungan mereka!" Bu Mitha berbicara penuh emosi.
"Sejak kapan Mama tak sependapat dengan Papa!"
"Sejak menyangkut masalah Nolan Pa, Mama nggak mau Nolan jadi seperti dulu Pa. Papa juga tahu, Nolan tidak seperti Davin." Nada suara Bu Mitha sedikit tinggi.
"Ya Ma. Sekarang kita minum teh dan Mama tenang." Pak Hendrawan memberi secangkir teh pada Bu Mitha.
Keterangan suami istri ini pun berakhir dengan menyeruput secangkir teh.
Berbicara dengan Putraku memang sulit, tapi berbicara dengan perempuan itu, tentu tidak ada masalah.
.
.
.
.
.
.
TBC....
diBikin tegang dulu yaπππ
Halo Bang No datang lagi di tahun baru, setelah menghilang selama satu tahun πππ
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen voteπ