Dear Nolan

Dear Nolan
Mohon Pengertian



Kesibukan di area workshop tak membuat Nolan beranjak dari ruangan. Sangat berbeda memang ketika ia dibengkel lama. Ia lebih suka menghabiskan waktu senggang di workshop. Sekarang! Jangankan waktu senggang, bisa terlepas dari tugas membantu administrasi saja, ia sudah senang. Nolan masih sibuk dengan komputernya sejak datang ke bengkel.


Tapi ia sudah menyebarkan info lowongan kerja di sosial media. Ia hanya berharap segera mendapatkan karyawan tambahan untuk membantu administrasi bengkel. Bukannya apa, Nolan merasa tangannya gatal jika tidak bisa ikut menyentuh mesin kendaraan.


"Assalamu'alaikum," sapa wanita paruh baya yang masuk ke ruangan Nolan.


"Wa'alaikumusalam Ma." Nolan langsung berdiri menyadari kedatangan Mama Mitha.


Ia meraih tangan mama tercinta dan mencium punggung tangannya.


"Kok nggak bilang sih mau kesini?" tanya Nolan.


"Memang Mama nggak boleh kasih kejutan sama anak Mama."


Mama Mitha berjalan mendekat ke arah jendela. Ia singkap tirai putih yang menutupi kaca jendela.


"Kebetulan Mama beli oleh-oleh untuk Abel dan Davin di dekat sini. Jadi Mama mampir, mau lihat perkembangan rumah kamu." Mama Mitha melihat bangunan belum sempurna ke bawah jendela.


"Masih empat puluh persen Ma, paling cepat mungkin empat sampai lima bulan lagi," jawab Nolan ikut menunjuk bangunan rumahnya.


"Pasti nanti rumah Mama jadi sepi kalau kamu juga pindah," ucap Mama Mitha.


"Ya nanti kalau kita kumpul jadi rame lagi Ma," jawab Nolan.


"Gimana mau rame, kalau kamu dukung istrimu nunda hamil!" seru Mama Mitha.


Nolan menghembuskan nafasnya kasar. Ia mengajak Mamanya untuk duduk di sofa..


"Ma, setiap pasangan yang menikah pasti mau punya anak. Aku bukan aku mendukung keputusan Nesya. Tapi ini memang kesepakatan kita berdua Ma. Mama nggak boleh salah sangka sama Nesya."


"No, alasan Nesya nggak masuk akal untuk nunda kehamilan? Banyak kok teman mama yang anaknya hamil tapi tetap bisa menjalankan pekerjaannya jadi dokter," bantah Mama Mitha.


"Itu menurut Mama, menurut Nesya nggak begitu Ma. Ia pasti sudah memikirkan baik buruknya."


"Halah, memang istri kamu aja banyak alasan No," bantah Mama Mitha lagi


"Astaghfirullah Ma. Ma, tadinya aku juga mau bicara hal ini sama Mama di rumah. Aku bisa nggak minta tolong sama Mama," seru Nolan.


"Ma, aku minta tolong sama Mama, jangan tekan Nesya lagi masalah cucu Ma. Aku hanya takut Nesya jadi stres dan malah keduanya nggak bisa berjalan. Nesya stres di rumah karena Mama, di rumah sakit Nesya juga stres karena kepikiran, koasnya nggak selesai-selesai."


Nolan mengenggam tangan Mama Mitha. "Ma, kita hanya perlu doa dari Mama. Kita menunda seperti apapun, kalau memang Allah sudah mentakdirkan Nesya hamil. Mama pasti akan punya cucu juga."


Mama Mitha tersenyum, "Ya No, akhir-akhir ini mama jadi sedikit kasar sama Nesya karena Mama tahu dia tidak ingin hamil. Karena kamu yang minta mama akan menahan diri untuk masalah cucu. Bener juga kata kamu No, kalau Nesya stres, bisa repot kalau Nesya nggak bisa hamil-hamil."


"Makasih ya Ma pengertiannya."


"Tapi kamu bujuk lah No, istri kamu sedikit - sedikit. Siapa tahu di berubah pikiran. Mama itu udah nggak sabar mau punya cucu dari kamu." Mama Mitha masih bersikukuh.


Nolan mengaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya Ma. Kalau sudah waktunya pasti nanti dikasih juga. Kita minta doa aja dari Mama."


"Ya udah kamu belum makan kan, ini makan siang dulu. Mama tadi bungkusin buat kamu," Mama Mitha menyerahkan plastik berisi kotak.


"Kita makan berdua ya Ma. Lama kita nggak suap-suapan," canda Nolan. Ia membuka kotak yang berisi nasi Padang kesukaannya.


Mama Mitha terkekeh, mengelus rambut anaknya. Tidak menyangka anaknya yang kaku dan kasar pada orang sekarang sudah secepat ini bisa jadi suami. Cepat atau lambat anak-anak akan pergi meninggalkannya.


"Udah kamu makan aja! Mama mau pulang!" Mama Mitha bangkit dari Sofa.


.


.


.


.


.


.


.


TBC .....