
Adrian masuk ke ruang tamu bersama yang lain. Nolan juga memberitahukan keberadaan Nesya pada Adrian. Adrian salah satu orang yang cemas Nesya pergi tanpa kabar.
"Semua tidak akan terjadi pada Seren, jika bukan karena aku Nes. Akulah akar masalah dari masa lalu Seren." Ungkapan Adrian sukses membuat semua mata berpaling melihat ke arahnya.
"Apa maksud Kakak, pengen bela Bu Serena. Enggak akan ada pergaruhnya kak," ucap Nesya yang masih diselimuti amarah.
"Nes, ini kenyataan. Sekarang Serena nggak perlu takut lagi jelasin kalau dia ibu kandung kamu. Karena kamu udah lebih dulu tahu."
"Sekarang kakak mau nunjukkan fakta apalagi. Kalian berdua sekongkol kan di depan aku supaya terlihat seperti malaikat!"
"Nesya. Kamu dengarkan dulu Pak Adrian Sayang," ucap Nolan dengan lembut pada Nesya.
Nesya menatap seseorang yang sebelumnya di anggapnya kakak. Hati Nesya sudah terlanjur merasa sakit dengan keluarga Bagaskoro yang selama ini ia menjadi keluarganya.
"Nes, seperti yang kamu tahu aku dan Seren pacaran dari SMA."
Nesya memang tahu kalau ibu dan kakaknya sepasang kekasih dulu. Tapi ia tidak tahu ada rahasia apa di antara keduanya sehingga bundanya malah nikah dengan ayahnya.
Otak jernih Nesya mulai berpikir, apa jangan-jangan Kakaknya ini adalah ayah kandungnya. Apa jangan-jangan Nesya adalah anak haram dari hubungan di luar nikah mereka sewaktu SMA. Kepala Nesya kembali mendidih, kenyataan apa ini? Kenapa nasibnya begitu menyedihkan. Ia merasa benar-benar dikhianati orang-orang yang disayangi.
"Kak ... lanjutkan apa yang mau Kakak ngomongin ke aku," ucap Nesya dengan tegas.
Adrian melepaskan kacamatanya, ia menepis keringat yang ada di dahinya. Ia seperti akan mengutarakan beban yang selama ini ia simpan.
"Nes, dua puluh tahun lalu ketika kita SMA di hari kelulusan, Seren bilang sama aku dia hamil. Dia panik dan ketakutan," cerita Adrian.
"Jangan bilang Kakak ayah kandung aku!" bentak Nesya. Nolan mengusap bahu Nesya kembali menenangkan kekasihnya.
"Bukan Nes, terlalu kejam jika aku biarkan ayah nikahi Seren, kalau aku punya anak dari dia."
"Terus siapa ayah aku!" bentak Nesya lagi.
"Bimo yang jebak tidurin Seren," ucap Adrian.
Nesya masih belum mengerti, apa hubungan Adrian dengan semua ini.
"Bimo jadikan Seren pacarku tempat pelampiasan dendam adiknya yang meninggal karena ab*rsi." Adrian diam sejenak. "Aku yang udah hamilin adik Bimo karena mabok dan Seren nanggung semuanya."
"Seren yang mendapat beasiswa ke luar negeri ke universitas impiannya nekat mau gugurin juga bayinya. Dia nggak mau di usir keluarganya. Dia nggak mau benih dari perbuatan lelaki laknat itu. Dia mau jadi kebanggaan keluarganya. Dia juga nggak mau aku nikahi karena kita sama-sama masih sekolah dan hanya membawa aib keluarganya. Tapi aku ...."
Perempuan berseragam putih abu-abu menangis tersedu di pelukan sang kekasih yang juga masih memakai pakaian seragam yang sama.
"Ndri aku mau ab*rsi, aku nggak mau di usir dari keluargaku. Aku juga nggak mau jadi aib untuk mereka. Cepat atau lambat perut aku akan besar dan mereka akan tahu." Tangisan terus terseduh sambil mengelus perutnya.
"Seren, maaf. Gara-gara aku kamu nanggung semuanya. Tolong Seren kamu jangan gugurin bayi ini. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu seperti Wulan dan anak aku! tolong Seren jangan ambil resiko yang besar ini."
"Nggak ada cara lain Ndri," ucapnya lirih.
"Kamu nikah sama aku, aku yang akan bertanggung jawab. Aku akan bilang ini anak aku, aku akan sayangi dia seperti anak aku sendiri."
"Ndri, kamu murid pintar dari keluarga terpandang. Kamu juga lebih muda dari aku. Kita akan buat aib untuk keluarga kita jika kita nikah. Aku nggak mau Ndri."
"Seren, tapi kamu jangan ab*rsi aku nggak mau kejadian seperti Wulan terjadi sama kamu. Tolong jangan tambah dosa kita lagi dengan melenyapkan bayi yang tidak berdosa ini."
"Aku harus gimana Ndri. Masa depan aku hancur Ndri," isakan tangisnya semakin kencang.
"Sebentar lagi kita kan nggak akan sekolah setelah ujian, kamu bilang ke orang tua kamu mau persiapan keluar negeri untuk kuliah. Kamu lahirkan dulu bayi ini Seren, tiga bulan lagi kamu melahirkan. Aku akan bawa kamu di panti asuhan salah satu yayasan milik paman aku. Kamu tinggal disana sampai bayi kamu lahir. Biar bayi kamu di rawat di sana, setelah kamu selesaikan kuliah kita nikah. Kita ambil bayi ini."
Serena yang nampak berpikir. Akhirnya menerima saran dari Adrian.
Adrian menghapus titik bening di ujung matanya setelah menceritakan kejadian masa lalunya yang kelam. Nesya diam tak bisa berkata apa-apa lagi. Ini terlalu sulit dimengerti benar atau salahnya. Ia masih menunggu apa yang akan Adrian ungkapan lagi padanya.
Bu Tari yang mengingat kejadian waktu itu, mendadak mengeluarkan bulir air matanya. Hatinya tiba-tiba tersayat merasa bersalah sekaligus iba.
"Bu Tari, jaga anak saya titip anak saya Bu," ucap lirih wanita belia dengan deraian air mata.
Ia terus menciumi bayi mungil yang baru di lahirkannya seminggu yang lalu. Ia memeluk seolah tidak ingin berpisah tapi apalah daya itu tidak mungkin.
"Maafkan bunda sayang, bunda janji akan jemput kamu setelah bunda kembali kesini lagi." Satu ciuman terakhir diberikan pada bayi mungil itu.
Dengan matanya yang tak berhenti mengeluarkan bulir bulir bening, wanita belia itu menyerahkan bayinya pada wanita tiga puluhan tahun itu yang di serahkan mengelola panti ini.
"Anak pintar, saya akan jaga bayi cantik ini seperti anak kandung Saya sendiri."
"Terima kasih Bu Tari, saya titip Nesya ya Bu. Saya dan Adrian akan cukupi semua kebutuhannya selama anak saya disini," ucap wanita belia itu.
"Iya, Nesya Nabilla. Anak cantik, sama ibu dulu ya Billa cantik," ucap Bu Tari yang lebih muda memanggil nama dengan sebutan Billa.
"Seren, ayo!" lelaki muda mengingat wanita belia itu agar mengakhiri perpisahan dengan bayinya. Ia harus segera menuju ke bandara.
Tak kunjung mendapat respon dari wanita belia itu. Pria muda itu mencoba mengangkat tubuh wanita belia itu.
"Seren, setelah nanti kita nikah. Kita akan bawa Nesya ya. Bu Tari akan menjaga dengan baik atau kamu mau merubah keputusan kamu. Kita nikah dan merawat bayi mungil ini," ucap pria muda itu.
Wanita belia itu langsung berdiri dengan terpaksa. Air matanya semakin deras berderai melihat bayinya yang menangis kehausan. Dengan berat wanita belia itu meninggalkan bayinya bersama wanita berhijab itu.
"Billa, setiap orang punya sisi kelam dalam hidupnya Nak." Bu Tari mengakhiri ceritanya yang membuat Nesya semakin terisak.
"Nes ... mungkin nggak muda buat kamu nerima semuanya. Tapi itulah kebenaran yang harus kamu tahu. Setiap orang punya sisi gelap dan kelam pada masa lalunya."
Nesya tidak bisa bicara apa-apa lagi. Hanya air mata yang bisa menunjukkan sisi lemahnya saat ini.
"Nes, kita manusia hanya berencana. Tapi Allah yang punya kuasa atas segala. Bertahun-tahun aku nunggu Seren dan berharap bisa nikah, kita bertiga berkumpul jadi keluarga. Siapa sangka Seren berkerja jadi asisten pribadi ayah, mereka saling suka dan memutuskan menikah, Seren lupakan semua janjinya sama aku. Meskipun terlambat, Seren membawa kamu kembali bersamanya setelah sekian tahun terpisah. Meskipun kamu nggak jadi anak aku, kamu jadi adik aku yang paling aku sayang Nes." Adrian mendekat ke arah Nesya.
Tapi Nesya masih enggan untuk bicara.
"Nes, kakak mohon jangan buat Seren terpisah lagi sama kamu, pulanglah Nes. Setiap orang pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya. Allah saja mau mengampuni hamba-nya yang mau bertobat, kita sebagai manusia apakah pantas tidak memberi maaf pada orang yang sudah melahirkan kita." Adrian bersungguh memohon pada Nesya.
Nesya masih menunduk, berusaha mencerna semua fakta mengejutkan tentang dirinya yang ia ketahui hari ini.
.
.
.
.
.
.
.
TBC....
Nyesek 🤧🤧🤧
Sengaja nggak Ei bagi dua, Ei lagi suka yang panjang-panjang 😳😳😳.... Tunggu lanjutannya ya....
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘