
Nolan mulai menjalankan mobilnya meninggal TKP. Nolan terlihat risih dengan keringat yang masih membahasi dahi dan lengannya. Mendongkrak mobil bukan hal ringan seperti mengangkat sepeda.
Nesya membuka laci dashboard mobilnya dan mengambil empat lembar tisue. Ia menyerahkan pada Nolan yang daritadi sibuk mengelap dengan tangannya tanpa bicara.
"Makasih ...." Nolan meraih tissu.
Jujur sebenarnya Neysa ingin membantu mengelap keringat Nolan yang selalu terlihat seksi. Tapi Nesya tidak tergoda kali ini.
"Ada tempat sampah?" tanya Nolan usai menyeka keringatnya. Nesya menunjuk ke arah belakang jok yang di duduki keduanya. Dengan refleks pula Nolan membuang tisue, Nesya hanya sedikit menyingkir agar badannya tidak bersentuhan. Nesya bisa-bisa jadi lemah lagi.
Suasana kembali diam dan hening tanpa music dari stereo tanpa kata juga. Nesya dari tadi juga melihat ke arah luar jendela, padahal hatinya ingin sekali melirik ke sebelah. Masa iya di sia-siakan untuk di lirik cowok seksi kayak Bang Nolan. Ehhh! Nesya menutup mulutnya.
"Kamu jadi lebih diem," tanya Nolan memecah keheningan.
Mau tidak mau Nesya menoleh ke arah lawan bicaranya.
"Bang No sekarang yang jadi banyak tanya?" jawab Nesya.
Nolan menyunggingkan bibir. "Darimana malam-malam."
"Penting ya harus tahu?"
"Nggak jawab juga nggak apa-apa," balas Nolan.
Nesya harus bisa ambil sikap jutek sekarang, ia tidak mau Nolan merasa di atas angin karena pernah mendapat ungkapan cinta darinya. Secara tidak langsung penolakan Nolan membuatnya sadar kalau dirinya masih bisa hidup tanpa cinta. Aku strong.
"Cari makan," balas Nesya singkat, kalau ia tidak menjawab nanti Nolan malah curiga dan berpikir dia keluyuran nggak jelas.
"Nesya, maaf untuk waktu itu yang membuat hubungan kita jadi renggang."
Nesya menoleh ke arah Nolan. Kenapa harus diingatkan lagi. "Hahahaha, nggak masalah!" Nesya tertawa seperti kuntilanak.
Cuma dengan ini Nesya bisa menutupi rasa malunya. Mengingat kembali betapa percaya dirinya dia waktu itu mengungkapkan perasaan yang langsung mendapat penolakan.
"Kamu nggak marah sama Aku?" tanya Nolan yang merasa waktu itu sedikit kasar dengan Nesya.
"Sumpah deh Bang No, aku udah lupa tuh kejadian itu," ujar Nesya sambil mengibaskan tangan.
Kenapa itu lagi sih di bahas Bang No, ini muka aku udah bingung mau taruh dimana. Malu malu!
"Terima kasih Bang No, tapi aku nggak tertarik tuh?" jawab Nesya sok kuat. Ia langsung mengalihkan pandangan lagi keluar jendela.
"Aku pernah punya adik perempuan namanya Alika. waktu itu aku sedang bersepeda dengan Alika, Aku masih umur 12 tahun dan Alika berumur 7 tahun."
Mendengar Nolan yang serius bercerita tanpa di suruh Nesya menoleh ke arah sebelahnya.
"So ...."
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri adikku yang berumur 7 tahun di tabrak mobil hingga tewas ditempat."
Nesya mendasak merinding sekaligus iba. Kenapa jadi horor gini ya.
"Singkat cerita, Aku sempat depresi berat di usiaku yang masih 12 tahun, bahkan hingga bertahun-tahun aku harus berada dalam dampingan psikolog."
"Aku turut sedih atas Alika Bang No,"
"Keadaaanku berangsur pulih dan membaik ketika aku berada bersama anak-anak seusia Alika, sampai sekarang."
Neysa melirik ke arah Nolan lagi. Itu alasan Bang No, sangat beda dan sayang banget ketika bersikap sama anak-anak. Gimana nanti kalau sama anak-anak kita. Hushh!
.
.
.
.
.
Next....