
Warning! Area 21+! mengandung bon cabe level 15🔥🔥🔥🔥, yang di bawah itu harap tinggalkan like aja skip part ini.
Menempuh perjalanan udara selama dua jam. Di tambah lagi ia harus melanjutkan perjalanan darat selama satu jam, Nesya dan Nolan akhirnya sampai di tempat tujuan mereka. Mereka berada di pulau pribadi dalam negeri dekat dengan negara Singapura. Disini pulau yang sunyi dan tenang tanpa akses internet. Terdapat villa cottage kayu yang langsung menghadap ke laut. Benar - benar seperti dunia milik berdua kalau sudah di pulau ini.
Karena tiba di pulau betepatan hari yang sudah gelap Nesya dan Nolan memilih menikmati makan malam di teras villa. Kedua menikmati aneka hidangan laut yang sudah tersaji sambil menikmati semilir angin pantai. Ditambah cahaya langit yang di penuhi bintang, semakin lengkap dengan rembulan yang nampak sempurna di atas permukaan laut. Kadang kalau beruntung keduanya melihat ikan yang terbang ke permukaan air seolah ingin bersiul untuk mereka berdua.
Nolan hanya bisa tersenyum menatap wajah cantik di depannya yang lahap menyantap hidangan. Nesya nampak bahagia meskipun ini bukan pulau pribadi di luar negeri impiannya.
"Kamu suka nggak Nes?" tanya Nolan.
Nesya tersenyum penuh arti, "suka banget Bang. Aku nggak nyangka Bang No bisa nemu tempat sebagus ini di negeri kita."
Bukan aku sayang yang milih, aku cuma tahunya tempat buat offroad atau balapan.
"Rekomendasi Bang Davin," balas Nolan.
"Adem, sunyi, tenang lautnya. Berasa kita kayak di dunia berbeda dan hanya berdua aja yang lainnya ngungsi," ucap Nesya.
Nolan hanya menggelengkan kepala, Ada saja kata lucu yang keluar dari mulut istrinya.
"Nes, aku boleh tanya sesuatu."
"Tanya aja, asal jangan soal sejarah aku belum belajar."
Nolan terkekeh lagi, ia meletakan sendok tidak melanjutkan aktifitas makannya. Tangan meriah tangan Nesya dan mengengam erat. Nesya jadi heran kenapa suaminya aneh, apa minta menanam jagung, coba tunggu nanti malam, ini kan masih mau makan di tepi laut sambil menikmati rembulan yang bersinar terang. Hedeh ....
"Nes, kamu masih tetap akan menunda punya anak?" tanya Nolan.
Nolan kepikiran masalah ini sejak mereka berhasil bercocok tanam. Seperti kesepakatan awal sebelum menikah. Nesya ingin menunda untuk punya anak, karena ia ingin menyelesaikan kuliahnya dan menjadi ibu yang selalu ada untuk anaknya.
Nesya menghembus nafas kasar. Jujur ia memang belum mau hamil dalam waktu dekat. Bukan kah Nolan juga sudah sepakat dengan keputusan itu. Tapi setelah ia pikir-pikir, bukan kah sangat egois jika ia menunda menginginkan anak sedangkan suaminya pasti mengebu ingin punya Anak. Memang Nolan tidak pernah mengungkapkan secara gamblang keinginan menginginkan anak sendiri. Tapi dari cara bicara dari gelagatnya ia sangat mendamba anak dari darah dagingnya sendiri.
"Bang No, keberatan dengan keputusan Nesya?" Nesya memasang wajah serius.
"Nggak Nes, kamu jangan salah paham. Aku hanya mau berhati-hati saja. Aku terima semua keputusan kamu."
"Makasih ya Bang No. Maaf aku hanya mau menikmati saat kita berdua dulu, aku juga nggak mau nanti ketika aku hamil, aku malah sibuk sendiri membawa kemana-mana perut besar. Aku ingin jadi ibu yang selalu ada untuk anak kita. Bang No ijinkan aku kan untuk selesai dulu pendidikan aku, setelah itu aku siap kok punya anak. Kita bikin kesebelas juga nggak apa-apa, ngalahin keluarga halilintor?" ucap Nesya.
"Ya Nes, aku ngerti. Kita berdua masih muda jalan kita ke depan masih panjang. Masih ada Arzen juga, aku denger dia akan satu bulan di kota kita, Bang Davin ada pekerjaan di kota kita." Nolan kembali meyakinkan Nesya.
"Oh ya! Jadi kangen Arzen," seru Nesya.
"Sabar, kita berdua dulu disini."
Sebenarnya ia sedikit kecewa, Nolan berharap Nesya akan merubah pikirannya setelah menikah. Tapi Kembali lagi, ia tak mau memaksa Nesya. Lagipula hanya setahun? apa itu terlalu lama? Nolan hanya bisa pasrah, kalau sudah waktunya dan Allah berkehendak pasti ia akan punya anak juga dari istrinya.
Tangan besar dan tubuh hangat memeluk Nesya dari belakang. Nesya menyadarkan kepalanya di dada hangat suaminya. Nesya bisa merasakan debaran jantung suaminya. Ternyata bukan hanya dia yang masih berdebar ketika sedang berdua, ternyata suaminya juga merasakan hal yang sama. Padahal keduanya sudah melakukan aksi bercocok tanam.
"Nes!" panggil Nolan penuh arti. Nesya membalik badan, tangannya menyibakkan rambut suaminya yang hampir menyentuh mata.
"Kita ...." Nolan memberi kode dengan menaiki kedua alisnya.
Tanpa basa-basi Nesya langsung menempelkan bibirnya ke bibir suaminya. Keduanya saling beradu mencari kehangatan dengan kecupan-kecupan kecil yang saling bertautan. Nesya begitu terbuai dengan setia sentuhan suaminya. Meloloskan setiap helai kain yang melekat di tubuhnya. Malam ini hanya milik mereka berdua.
Nolan mendamba setiap lekuk indah di depan matanya. Bibirnya tak luput menjelajah setiap permukaan kulit yang halus dengan aroma tubuh yang mengetarkan gelora panas dalam tubuhnya. Di tatapnya wajah merona yang sekarang menjadi candunya.
Nesya hanya bisa tergelepar seperti cacing yang di beri garam. Tubuhnya menginginkan lebih, setuhan suaminya membuatnya mabuk tanpa minum tuak. Dengan menggebu Nesya meraih tengkuk leher suaminya dan mencium dengan lembut. Ia juga menginginkan suaminya seperti suaminya yang menginginkanya. Kini hanya selimut yang menutupi tubuh keduanya. Kain yang melekat entah sudah tercecer kemana.
Nolan mulai bercocok tanam di ladang miliknya, membuat Nesya terpekik yang syahdu di telinganya. Nesya merasakan kehangatan yang terus dihentakkan suaminya, rasanya kenapa terlalu indah tidak seperti pertama kali melakukannya, ia harus merasa kesakitan di sela dirasa nikmat.
Suara deburan angin laut di luar pulau seolah menambah semangat kedua insan yang di mabuk cinta ini agar menanam lebih dalam. Ikan - ikan laut yang timbul di permukaan air biru hanya bisa mendengar suara desah dan rintihan dari penghuni villa.
Hingga beberapa waktu, keduanya sama-sama terpuaskan dengan hasrat yang membelenggu.
"Nes, aku keluarkan dimana," seru Nolan merasakan sesuatu yang terkumpul dalam satu titik dan siap ia semburkan.
"Nggak apa-apa di da-lam, ini bukan masa subur aku," ucap Nesya terbata karena nafasnya yang tersengal-sengal menikmati sisa-sisa pelepasannya juga.
Seketika keduanya merasakan semburan kenikmatan yang melebur menjadi satu membawa keduanya terkulai lemas.
"Terima kasih Sayang." Nolan mencium kening Nesya lalu merebahkan tubuhnya di samping istrinya.
Nesya menoleh ke arah suaminya yang sudah memejamkan mata. Ia membelai pipi suaminya, suamu yang pengertian padanya. Ada sedikit rasa bersalah dalam diri Neysa. Apa ia terlalu egois untuk tidak ingin hamil terlebih dulu seperti keinginan semua orang yang usai menikah. Tapi Nesya punya alasan untuk itu. Ia menarik selimut menutupi tubuhnya dan tubuh suaminya. Saat ini ia ingin bersenang-senang dulu menikmati bulan madunya, waktu berdua dipulau ini. Ia tak sabar rasanya menunggu pagi untuk bermain-main dengan air bersama suaminya.
.
.
.
.
.
.
TBC
jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘