Dear Nolan

Dear Nolan
Saatnya Berdua




Warning hanya untuk 18+, kalau di bawah itu apalagi masih sekolah, baca buku pelajaran aja ya biar tambah pinter.🔞🔞🔞🔞


Acara akad nikah di lanjutkan dengan sukeman pada kedua orang tua pengantin. Ada tangis haru disana di rasakan Nesya karena ucapan puitis MC yang membuat acara sukeman ini, semakin penuh haru.


Setelah bersimpuh pada kedua orang tua mempelai, acara dilanjutkan dengan acara berfoto-foto keluarga. Hingga waktu menunjukkan pukul 12.00 tamu undangan yang terdiri dari keluarga besar keduanya, menikmati hidangan makan siang. Begitu pula dengan kedua pengantin, Nesya dan Nolan. Nolan tak pernah lepas mengengam tangan Nesya. Keduanya berada di meja bundar yang berisi dua belas orang anggota keluarga mereka.


"Kamu sama Nesya istirahat No, mungkin sore Nesya akan di make up lagi. Kamu persiapkan tenaga aja buat resepsi nanti malam." Mama Mitha memegangi pipi putranya yang duduk di sebelahnya.


"Bukan cuma buat resepsi Ma, tapi yang lebih penting malam setelah resepsi," goda Davin lagi. Ia jadi kecanduan mengoda Nolan yang memang awam masalah Nana Nini.


"Hush, kamu ini," sahut mama.


"Berbagi tips Ma," balas Davin.


"Acara nikahan Nolan jauh berbeda dengan pernikahan kamu Vin, yang hanya di datangi keluarga sama kerabat kita. Nolan sama Nesya nanti malam harus siapkan tenaga ekstra untuk menyambut 4000 undangan yang datang."


Davin menelan ludahnya, "Pasti capek banget No, bisa gol nggak malam ini."


Semua orang yang meja tertawa renyah. Melihat ke arah Nolan dan Nesya yang lagi hangat-hangatnya jadi pembicaraan.


"Apaan sih Bang!" gertak Nolan.


Davin tertawa lagi, "Jangan galak-galak lagi No, di tinggal tidur Nesya baru tahu kamu."


Nolan hanya menggelengkan kepala, rasanya ia ingin memiting saja kakak tercintanya itu karena terus menggodanya. Ditambah lagi dosen yang sekarang resmi menjadi kakak iparnya tak mau kalah mengoda Nesya dan dirinya.


"Sudah sudah Vin, kita makan dulu setelah itu kita istirahat persiapan nanti malam." Pak Hendrawan angkat bicara karen mejanya terlalu berisik.


Setelah menyelesaikan makan siang, Mama Mitha menyuruh Nesya dan Nolan segera masuk kamar untuk beristirahat sebelum acara resepsi.


Mama Mitha dan bunda Serena hanya mengantar sampai depan pintu lift. Di dalam lift mereka hanya berdua sekarang, Nolan merasakan debaran jantung berdegup begitu kencang. Tangan terus mengengam tangan Nesya. Tak hanya Nolan, Nesya mendadak jadi mati kutu. Ternyata ia tak bisa seberani khayalannya. Memamadang bibir sosor-able suaminya saja ia malu.


"Udah sampe," ucap Nolan membuka keheningan di dalam Lift setelah pintu terbuka.


Nesya melangkah beriringan menuju kamar mereka. Debaran jantung Nesya masih saja tak menentu. Nolan membukakan pintu untuk istrinya. Wah! Kamar pengantinnya sungguh indah.


Kamar yang di tempati pasangan bahagia ini luas dan besar, ditambah lagi pemandangan yang langsung ke arah laut dan kota. Kamar yang di pilih sepertinya memang cocok untuk pasangan pengantin baru. Berdesain minimalis klasik dominasi ungu khas hotel ini.


Nesya ingin sekali melepas kerudungnya dan baju pengantinya ini, tapi masih malu, kenapa harus malu depan suami sendiri. Tunjukan pesonanmu Neysa. Batin Nesya.


Nesya berbalik kebelakang, di lihatnya Nolan yang duduk di sofa masih melepaskan sepatunya. Dari tadi mereka tidak ada yang bersuara.


Kenapa Bang No, diam banget ya nggak pengen apa peluk istrinya manja-manjaan gitu.


Nesya melangkah saja ke depan besar yang ada di kamar ini. Nesya mulai membongkar untaian kerudungnya. Untung saja nggak terlalu ribet model kerudung, jadi tak butuh waktu lama Nesya berhasil membereskan kerudungnya dan nampak di depan kaca rambutnya yang masih di cepon ke atas.


Nolan mencari Nesya, ia mendapati istrinya yang berdiri di depan kaca. Ia tertegun melihat Nesya yang berbeda dengan rambutnya yang di cat coklat terikat ke atas. Ia mengambil nafas dan mengatur debaran dadanya dan berdiri menghampiri Nesya.


Nesya tersetak kaget ketika tangan kokoh yang melingkar di perutnya dari belakang.


"Akhirnya aku bisa meluk kamu setiap hari." Nolan mengeratkan pelukannya dan merebahkan kepalanya di bahu istrinya.


"Jangankan di peluk, di apain aja aku udah siap!" Nesya keceplosan dan langsung membungkam mulutnya dengan tangan.


Nolan membalikkan tubuh Nesya menghadap ke arahnya. Menyibakkan rambut kecil Nesya yang terjuntai.


"Kamu cantik Nes, selalu akan begitu di mata aku." Nolan meraih dagu Nesya agar melihat ke arahnya meskipun dia juga gugup.


"I love you suamiku," ucap Nesya. Kalau dekat begini, jadi gemes pengen ***** bibir suami yang sosor-able itu.


Nolan memberanikan diri menempelkan bibirnya ke bibir wanita yang sudah halal untuknya itu. Ia mengecup pelan bibir wanita cantik di hadapannya. Disesapnya pelan bibir bawah Nesya yang lembut dengan rasa chery. Semakin lama Nolan semakin memperdalam penyatuan bibirnya mengikuti nalurinya. Ternyata begitu nikmat pangutan bibir kedua insan yang saling mendamba.


Nolan menyesap setiap permukaan bibir Nesya. Astaga, senikmat inikah berciuman pantas saja orang yang berpacaran rela melakukan dosa ini. Tapi sekarang Nesya adalah kehalalannya, apapun yang dilakukan akan menjadi pahala.


Nesya tentu tidak bisa menolak bibir suaminya yang sosor-able itu. Ia ikut sesekali membalas karena ingin mempraktekkan cara ciuman dari drama Korean yang ditonton. Ia begitu larut dalam dekapan dan lu-matan bibir suaminya. Meskipun temponya sedikit pelan, rasanya begitu mamabukan menghanyutkan. Tangannya yang tergantung di leher suaminya, sekarang refleks merabah-rabah tengkuk leher suaminya itu.


Nolan melepaskan ciumannya agar keduanya bisa mengambil nafas. "Maaf Nes, aku masih amatiran, ini pertama kalinya aku mencium wanita. Dan itu kamu istriku." ucap Nolan.


Nesya hanya bisa tersenggal mengatur nafasnya, sama baru pertama tapi sudah membuat melayang. Tubuh terasa sudah tak sanggup menopang kakinya, baru ciuman saja ia sudah jadi lemah apalagi kalau Nana Nini. Eh ....


"Enak Nes ternyata, apalagi yang lain ya." Naluri primitif Nolan sebagai laki-laki muncul.


"Ya, nanti kita coba yang lain," lagi - lagi Nesya keceplosan.


Tangan Nolan meraba reseleting belakang baju Nesya.


"Kamu balik, aku bantu buka bajunya biar enak kalau mau istirahat." Nolan kesal dengan baju Nesya yang banyak payet membuatnya tangan geli tertusuk benda bersilau itu.


Nesya menurut dan membalikkan badan memunggungi suaminya. Nesya mulai merasakan ada sesuatu yang dingin dipunggungnya. Punggung Nesya yang putih dan terawat terpampang di mata Nolan setelah berhasil menurunkan reseleting kebayanya. Ia bahkan bisa melihat kain pengait warna pink yang melingkar di punggung istrinya. Rasanya ingin sekali membuka tali itu dan merasakan aset berharga istrinya itu.


Nesya menahan agar tidak mende-sah, merasakan sesuatu seperti sengat listrik yang menjalar di tubuhnya. Sekarang suaminya mengecupi punggungnya dengan lembut. Bukan hanya satu tempat tapi berbagai tempat. Bagaimana Nesya bisa menahan sesuatu yang bisa mengkoyak sanubarinya.


"Bang No, udahan ah geli." Nesya mengengam tangan suaminya agar menghentikan aktivitasnya.


"Ya udah, udahan," ucap Nolan santai. Nolan mendongak menghentikan kegiatannya. Entah kenapa Nesya jadi kecewa ya aksi cium mencium punggung berakhir, harusnya kan Nesya biarkan saja, itung-itung pemanasan untuk nanti malam.


"Kamu ganti baju dulu sayang, setelah sholat kita istirahat untuk acara nanti malam," sambung Nolan.


"Ya udah," Nesya meraih ponselnya. Ia menghubungi asisten sis Anggi agar membantunya membersihkan make up dan membereskan bajunya.


Nolan memang tidak ingin memaksa Nesya menuruti hasratnya. Nesya butuh istirahat yang cukup untuk acara nanti malam dan malam nantinya setelah acara. Eh ....


Hedeh sejak kapan aku jadi punya pikiran mesum. Nolan hanya bisa menelan ludah kalau terbayang punggung polos Istrinya


.


.


.


.


.


.


TBC ...


iya iya iya .... orang sabar kasurnya lebar


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘