Dear Nolan

Dear Nolan
Penuh Emosi



Baru beberapa langkah menuju pintu utama bengkel. Nesya langsung membulatkan matanya melihat ada suami yang tak jauh dari hadapanya. Nolan sudah berdiri didepan pintu kaca bengkel dengan raut wajah tak bisa di artikan oleh Nesya. Bahkan suaminya itu tidak menghiraukan seseorang yang menegurnya, ia hanya fokus melihat Nesya yang berjalan mendekat dengan pelan.


Nesya meremas tangannya berusaha melangkah lebih pelan. Ia mengambil sikap tetap tenang meskipun di pundaknya sudah ditumpuki rasa bersalah.


Nesya memasang senyum di depan suaminya mencoba tidak memancing suasana keruh, meskipun Nolan sama sekali tidak melakukan hal lain kecuali menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi.


"Acaranya udah selesai ya," ucap Nesya dengan lembut. Ia berharap suaminya ikut melembut dan mengerti keadaannya.


"Menurut kamu gimana? Mata kamu masih berfungsi dengan baik kan!" sentak Nolan dengan nada keras.


Nesya hanya berpura memperhatikan sekitar. Tidak ada orang selain pengunjung bengkel.


"Maaf ... Aku benar-benar nggak bisa datang. Ada keadaan darurat yang nggak bisa ditinggalkan. Aku juga baru sempat kirim pesan setelah keluar dari ruang operasi." Nesya berusaha berkata jujur dengan harapan suaminya bisa memaklumi.


Tanpa berkata apa-apa, Nolan langsung menarik tangan istrinya mengajaknya memasuki bengkel. Nesya dengan setengah berlari mengikuti langkah kaki suaminya yang menariknya berjalan tanpa memperhatikannya. Montir dan karyawan lain sempat memperhatikan Bosnya yang menarik tangan istrinya. Mereka tidak berani hanya sekedar menyapa dengan raut wajah bosnya yang menyeramkan dan tak bersahabat.


Nolan membawa Nesya ke lantai dua, ia membuka pintu ruangan barunya dengan kasar. Ia melepaskan tangan Nesya hingga akan terjatuh. Nolan menutup pintu ruangan dengan tendangan kaki.


Nesya hanya bisa menelan ludah, untuk pertama kalinya setelah menikah ia melihat suaminya yang bersikap kasar padanya. Ia menarik nafas tak mau juga terpancing emosi.


"Bang No, apa bener - bener marah sama aku." Nesya berusaha mendinginkan suasana.


"Terus kamu maunya aku gimana! Kamu mau aku ketawa - tawa bahagia lihat istriku di antar laki - laki lain!"


Nesya mulai mengerti apa permasalahan barunya. Suaminya cemburu melihat Dirinya dengan dokter Rakha.


"Tapi aku kan nggak sendiri, aku berempat ada selia juga."


Nolan menatap tajam ke arah Nesya. "Nes! tadi pagi waktu pembukaan bengkel kamu nggak ada kabar! Aku mencoba maklumi kamu ada keadaan darurat di rumah sakit. Aku juga tetap mencoba berpikir positif. Aku menutup telinga acuh pada semua orang berbicara buruk tentang kamu karena nggak dampingi aku! Tapi aku nggak bisa terima, kamu lebih memilih pulang di antar laki-laki lain dibandingkan dijemput suamimu sendiri!"


"Ya ampun Bang, aku tahu bang No pasti sibuk di sini, apa mungkin aku mau merepotkan Bang No minta tolong untuk jemput aku!"


"Sejak kapan aku pernah merasa di repotkan istri sendiri. Bilang sekarang!" suara Nolan semakin keras hingga membuat Nesya menjadi gemetar.


"Aku selalu terima semua keputusan kamu! Aku selalu berusaha memahami dan berbuat yang terbaik untuk kamu. Tapi kamu! Apa kamu bisa jaga perasaan suamimu!"


Nesya tak bisa lagi menahan air mata yang menggenang merembes keluar. Meskipun ia sudah berusaha menahan tapi bentakan demi bentakan suaminya benar-benar membuat hatinya menciut.


"Setelah mengirim pesan hape aku mati, aku binggung gimana caranya cepat ke bengkel, jadi aku menerima tawaran dokter Rakha. Maaf kalau memang hal yang aku anggap remeh membuat Bang No kecewa."


"Kamu bilang hal yang remeh! Kamu sebenarnya kenal suamimu dengan baik apa nggak sih Nes!"


"Bang No please, jangan buat aku semakin pusing dengan masalah ini. Aku udah berusaha jelaskan yang sebenarnya. Apa yang terjadi hari ini di luar kuasa aku. Jika waktu bisa di putar aku juga mau mengulang semua sesuai keinginan kita."


"Tolong! lebih baik kamu pulang sekarang! Aku akan suruh Jono antar kamu. Aku masih banyak urusan disini." Nolan memilih mengakhiri perdebatan dengan Nesya dan keluar ruangan meninggalkan Nesya.


Nesya menjatuhkan dirinya di sofa, ia tidak menyangka, hari yang seharusnya menjadi hari bahagia untuk suaminya menjadi hari yang penuh ketegangan seperti saat ini.


Tok ... tok ... tok. Nesya mempersilahkan masuk.


"Mbak mobil udah siap!" Jono muncul dari baik pintu. Nesya pun berdiri meskipun masih berat, Ia memilih menurut untuk pulang karena tak ingin menambah masalah lagi dengan suaminya.


...****************...


Apa ini yang namanya menyatukan bukan hanya dua tubuh. Tapi dua kepala, dua pemikiran, dua hati, dan semuanya di jalankan seiring berdua saling melengkapi.


Nolan menghembuskan nafasnya kasar, rasa sesal kini menyeruak di kepalanya. Apa di terlalu kasar pada Nesya? Ia hanya meluap kekesalan sejak pagi! Nolan berharap Nesya mengerti, ia marah karena hal yang di lakukan Nesya sendiri. Itulah sebabnya sebelum menikah ia meminta agar saling mengenal satu sama lain. Nolan selalu di hantui rasa kehilangan, ia terlalu takut kehilangan apa yang di sayanginya. Apakah salah ia berusaha menjaga dengan baik apa yang menjadi miliknya.


"Bos rokok!" tegur salah satu pengunjung bengkel menyodorkan bungkus rokok.


"Makasih Bro, aku nggak ngerokok!" balas Nolan pada pengunjung yang juga teman satu komunitas modifikasi dengan Nolan.


"Kenapa kusut banget muka padahal baru hari pertama buka bengkel udah rame," ucap teman Nolan yang bernama Gio.


"Gak apa-apa!" balas Nolan.


"Lagi marahan sama istri?" tebak Gio.


"Sedikit." Nolan menjawab singkat, karena ia tidak suka mengumbar masalah pribadinya.


"Sedikit-sedikit lama - lama membukit," ucapnya lagi.


Nolan mulai terpancing untuk mengobrol.


"Berbagi pengalaman nih sama Pengantin baru. Kalau ada masalah sebaiknya langsung di kelarin, daripada nanti lama-lama makin numpuk dan nambah kesalahan pahaman," tutur Gio lagi.


Nolan mulai memikirkan ucapan temanya itu. "Ya Bro, makasih sarannya," balasnya.


Ia perlu bertemu dengan Nesya lagi berbicara dengan kepala dingin, tapi tidak sekarang. Nolan juga ragu, apa bisa jauh-jauh dan berdiam lama dengan Nesya. Ia merasa sudah sangat terikat dengan Nesya. Ia memang masih emosi jika mengingat kejadian hari ini. Ia akan menemui istrinya ketika sudah benar-benar tenang.


...****************...


Ditempat yang berbeda, Nesya ragu akan pulang ke rumah keluarga suaminya. Nolan suaminya saja, marah padanya apalagi dengan Mama dan Papa mertua. Nesya berpikir pasti kedua mertuanya akan menjadikannya sasaran empuk untuk di ceramahi habis-habisan. Mereka pasti tidak akan mau menerima penjelasan dirinya. Mereka hanya tahu, Nesya telah lalai dengan tugasnya dan bertindak kurang ajar tidak hadir tanpa kabar ke pembukaan bengkel suaminya.


Nesya jadi ragu sekarang. Jujur! ia belum siap bertemu kedua mertuanya lagi tanpa Nolan. Ia juga tidak mungkin pulang ke tempat bundanya. Itu hanya akan membuat bunda dan ayahnya khawatir.


Nesya kembali frustasi, kenapa harinya begitu buruk hari ini. Ia binggung harus kemana? Jika di suruh memilih ia ingin di bengkel saja menemani suaminya, tentu itu tidak mungkin. Suaminya saja masih emosi padanya.


.


.


.


.


.


.


.


TBC ...


Udah panjang ya dear😘😘😘