
Pertahanan Nesya akhirnya runtuh. Ia akan mengangkat telepon dari Nolan karena terpaksa dan mendesak. Bukan apa, Nesya takut saja dirinya di todong begal dan dirinya masuk berita esok hari.
Ingat Nesya! ini karena Terpaksa. Nesya pasrah kali ini, mungkin takdir yang jadi penolongnya malam ini adalah Nolan. Dengan mempersiapkan mentalnya, Nesya mengangkat panggilan ketiga Nolan.
"Ya,"
"Nesya kamu tadi telepon aku,"
"Ya, Bang No masih di rumah Kak Adrian. nomornya nggak aktif." Sebenarnya ke pencet sih, tuh kan dia mulai kepedean.
"Aku udah balik Nes dari sejam yang lalu."
"Aduh! Ya udah deh," Nesya tidak meneruskan kalimatnya.
"Kamu ada masalah?"
Nesya ragu harus menjabarkan kejadian yang menimpanya, tapi dia tidak punya pilihan lain.
"Mobil aku terperosok di selokan aku hindari gerobak bakso nyebrang, ban kirinya masuk solokan."
"Ya ampun, kamu nggak apa-apa? Kamu dimana sekarang?"
"Aku di jalan Haryono depan kantor PLN."
"Kamu tunggu di situ jangan keluar dari mobil, jangan terima bantuan orang tak di kenal. Aku usahakan lima belas sampai di sana."
"Nggak us...." sambungan telepon terputus.
Neysa memilih pasrah kali ini, 15 menit bukan waktu yang lama sih? Apa dia ngebut? Nesya jadi kuatir. Sudahlah yang penting mobilnya terangkat dari kesialan. Nesya juga nggak nyuruh Nolan ngebut kan. Pikir Nesya.
...***************...
Di tempat yang berbeda, Nolam bersyukur tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia mampir ke bengkel usai bimbingan skripsi. Ia langsung bergerak cepat di bantu beberapa montir menyiapkan perlengkapan yang dipakai untuk menarik mobil Nesya.
Jujur, Nolan sangat kuatir pada Nesya. Lokasi mobil Neysa yang terperosok sangat sepi dan gelap.
Nolan memang sudah dua Minggu tak berkomunikasi dengan Nesya apalagi bertemu. Bukan ia tak mau memulai pembicaraan, tapi ia juga malu harus terlebih dulu memulai bicara dengan Nesya. Ia punya alasan kenapa tak memberi kesempatan pada Nesya yang dengan gambalng mengungkapkan perasaannya.
Ia lebih suka mengamati Neysa dari kejauhan, ternyata setelah menolak Nesya semakin hari ia semakin memikirkan Nesya. Nolan merasa ada yang hilang sehari tanpa mendengar atau melihat Nesya. Bahkan ia rela membututi Nesya setiap waktu dari rumah ke tempat kerja untuk memastikan Nesya masih sendiri.
Dan mendadak ia akan dipertemukan kembali dengan keadaan yang seperti ini. Nolan segera melajukan mobilnya, sangat mustahil sampai di tempat Nesya lima belas menit. Tapi ia berusaha menenangkan Nesya tenang agar tidak panik dan merasa tak lama menunggu.
"Mobil siapa sih Bos yang nyungsep." Salah satu montir bertanya karena melihat bosnya cemas.
"Nesya," jawab Nolan sambil terus menggeber mobil secepat mungkin.
"Pacar bos? pantas kuatir banget."
Nolan tak menjawab. Dari kejauhan Nolan sudah melihat mobil jenis Hond* CR-V warna putih tertepi si pinggir jalan.
Sudah pasti itu mobil Neysa. Nolan turun dan akan menemui Nesya yang sepertinya mendengarkan kata-katanya tetap di mobil.
tok tok tok
Neysa terkaget, mendengar suara ketukan pintu. Nesya bernafas lega setelah tahu itu Nolan. Ia menunggu udah hampir setengah jam lebih. Nesya hampir pasrah mengira Nolan hanya berucap janji manis dan tak akan datang.
Nesya menurunkan kaca jendela mobil.
"Turun Nes," pinta Nolan.
Meskipun lagi-lagi jantung Nesya berdebar kencang. Nesya mencoba bersikap angkuh turun dari mobil.
"Kamu nggak apa-apa kan? " tanya Nolan memegang kedua lengan Nesya.
Tentu kalau lihat tatapan Nolan begini Nesya jadi lemah, berasa ada hero. Ia tidak bisa bersikap angkuh apalagi saat butuh gini. Nesya menggelengkan kepala.
Kemudian Nolan mengambil sesuatu dari mobilnya. ia menyuruh Nesya menjauh terlebih dahulu.
Kedua orang yang di bawa Nolan memaksa untuk mengantikan Nolan mengangkat mobil Nesya. Tapi Nolan memilih mendongkrak mobil Nesya sendiri.
Nesya memperhatikan Nolan yang dengan cekatan mendongkrak mobilnya. Karena
Kenapa sih harus dia yang ngerjain mobilnya. kan ada karyawannya. Mau terlihat Hero didepan Nesya. Nggak mempan bro. Tapi aku tetap lemah sih iat tontonan begini.
Lagi-lagi mata Nesya tak ingin melewatkan pemandangan di depannya. Nolan mengaitkan tali tambang dan mengikatnya kuat di mobilnya. Keringatnya mulai bercucuran di dahinya yang basah. Tangan Nesya menjadi gatal ingin mengambil tisu.
Boleh aku Lap nggak sih. Please Nesya please jangan tergoda.
Tali sudah terkait pada kedua mobil. Nolan masuk ke dalam mobil Neysa. Ia memerintahkan anak buahnya mulai menarik mobil Nesya. Perlahan-lahan mobil mulai terangkat dan akhirnya.
Berhasil! Mobil Nesya keluar dengan selamat. Nesya bertepuk tangan bahagia terbawa suasana.
"Bamper depan lecet Bos! kap mobil agak mangap dikit" teriak anak buah Nolan. Nolan turun dari mobil melihat yang di maksud si anak buah.
"Nes, bawa aja ke bengkel ya mobilnya. Biar bamper sam kapnya di perbaiki." Kata Nolan pada Nesya yang ikut melihat keadaan mobilnya.
Belum sempat menjawab, mobil sedan putih jenis B*w datang menghampiri mereka. Akhirnya Kakaknya datang juga.
"Nes, kamu nggak apa-apa?" tanya Adrian panik.
"Kakak telat, tuh mobil aku udah keluar." Nesya menunjuk mobilnya.
"Sorry hape Kakak drop tadi kakak cas. Kakak baru baca pesan kamu," balas Adrian.
"No, makasih ya udah tolongin Neysa." Adrian menepuk punggung Nolan.
"Sama-sama Pak. Mobilnya harus di bawa ke bengkel baikin kapnya," ujar Nolan.
"Ya udah bawa aja ke bengkel No. Tapi kamu bisa antar Nesya pulang dulu," ucap Adrian.
Nesya langsung melotot ke arah Adrian. Sengaja banget nih kakak ninggalin aku sama domba berbulu Serigala.
"Ya Pak bisa," jawab Nolan.
"Nesya, kamu pulang dulu sama Nolan. Kakak ada urusan. Kamu jangan nyetir dulu." Adrian menepuk lengan Nesya.
Nesya hanya bisa pasrah kalau Kakaknya yang menyuruhnya.
"No, titip Nesya sama mobilnya." Adrian menepuk bahu Nolan. Ia langsung melenggang pergi kembali ke mobilnya tanpa beban dan dosa.
Nesya berjanji setelah sampai rumah ia akan membalas dendam pada kakaknya. Berdua lagi dengan Nolan akan berpengaruh pada kerja jantungnya.
Kedua orang yang bersama Nolan sudah selesai membereskan alat-alat perkakas. Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan pergi. Tinggallah Nolan berdua dengan Nesya.
"Ayo kita pulang Nes," ajak Nolan. Dengan santainya Nolan masuk di kursi kemudi mobil Nesya.
Itu mobil aku woy. aku yang harusnya kasih ijin masuk.
Nolan membunyikan klakson melihat Nesya yang tak juga bergerak dari tempatnya. Nesya kaget dan dengan terpaksa masuk ke dalam mobil.
.
.
.
.
.
.
Next...
Panjang nih dear, nanti Ei lanjut.....Apa yang jarinya nih kalo mereka berdua lagiπππ
jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote πππ
Baca juga LOVELY WIFE ya....