Dear Nolan

Dear Nolan
Menghindar



Nesya mencoba membuka matanya perlahan. Cahaya mulai masuk melalui celah jendela kamarnya, menandakan ia harus mandi dan melaksanan dinas pagi. Belum lagi suara alarm yang membuatnya ingin membanting ponsel.


Karena berhalangan mengerjakan sholat, Nesya bisa bangun sedikit siang dari waktu subuh. Langkah pertama yang di lakukannya setelah membuka mata dengan sempurna adalah melihat ponsel. Ia mengecek semua pesan yang masuk. Tentu saja tidak ada pesan dari Nolan seperti biasa, karena semalam ia sudah memblokir nomornya.


Sedikit kangen sih, tapi ya sudah lah. Nesya bangkit dan membuang selimut tidurnya menuju kamar mandi.


Nesya menyisihkan tirai kamarnya agar cahaya lampu yang padam terganti dengan cahaya matahari di pagi ini, meskipun hatinya tak secerah matahari pagi ini. Mata Nesya langsung terbelalak melihat siapa yang sudah metenteng di atas kap mobil di depan pagar rumah kakaknya.


"Ya ampun masih juga jam enam lewat, jangan bilang Bang No semalam tidur di depan pagar." Nesya mengoceh sendiri melihat Nolan yang sudah stand by di depan pagar rumah.


Hati Nesya mendadak melow. "Kalau masuk angin gimana?" guman Nesya iba.


Ah ... bodoh amat kan ada emaknya yang kerokin. Nesya menyambar handuk dan bergegas ke kamar mandi.


Nesya keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapi untuk bekerja. Penghuni rumah sepertinya belum ada yang keluar kamar. Ia binggung sekarang harus keluar rumah lewat mana. Saat ini memang ia tidak ingin dulu menemui Nolan.


"Mbak Tini! mau kemana?" tanya Nesya yang melihat ART membawa tas belanjaan.


"Mau ke pasar Mbak, saya sudah selesai bikin sarapan," ucap Mbak Tini.


"Mbak Tini naik apa ke pasar?"


"Naik motor Mbak," seru Mbak Tini.


"Aku ikut Mbak Tini ke depan gerbang perumahan. Tapi kita keluar lewat pintu belakang." Nesya mengandeng tangan Mbak Tini.


"Mbak Nesya ngapain naik motor sama saya, Mbak Nesya kan bisa naik mobil. Ngapain juga kita keluar lewat pagar belakang." Mbak Tini menghentikan langkah Nesya yang buru-buru.


"Mbak Tini di depan pagar ada debkolektor, aku nggak mau ketemu."


"Idih Mbak Nesya, masa anak bos batubara dikejar tukang kredit sih." Mbak Tini celingukan melihat ke arah jendela yang di maksud Nesya.


"Emang nggak boleh!"


"Nggak ada tukang kreditnya Mbak, yang ada malah Mas ganteng pacarnya Mbak Nesya," sambung Mbak Tini.


"Ih Mbak Tini nggak usah kepo sama banyak tanya, ayo kita pergi!" Nesya menyeret Mbak Tini menuju halaman belakang.


"Lagi berantem ya Mbak, kasihan pacarnya Mbak nungguin," seru Mbak Tini sambil persiapan menaiki motornya.


"Cepat jalan Mbak Tini, nggak usah kepo." Nesya memukul pundak mbak Tini dan Mbak Tini langsung menjalankan motornya lewat pintu halaman belakang.


...****************...


Nesya sudah sampai di rumah sakit menggunakan taksi online. Tadi setelah turun di depan gerbang, Nesya langsung memesan taksi online. Ia melihat jam tangannya, ternyata ia masih terlalu pagi untuk datang ke tempat praktek. Ia menuju pantry untuk sarapan lebih dulu. Nesya segera membuka bubur ayam yang sempat ia beli tadi di perjalanan.


Dia mencoba meraih ponsel di waktu sarapan. Sejak tadi ponsel berbunyi pesan masuk dan panggilan masuk. Ia mulai memeriksa pesan satu persatu.


Kak Tiara


Nes kamu ada masalah apa sih sama Nolan. Pagi-lagi udah berangkat. Kasian Nolan udah nunggu.


Nesya menghembuskan nafasnya kasar. Ia merasa bersalah tapi setidaknya bisa kah dia sendiri untuk sementara waktu.


Kak Adrian


Nes kalo ada masalah sama Nolan diselesaikan baik-baik jangan menghindar gitu aja. Kasian anak orang nunggu kamu dari


subuh tadi. Pak Mali yang bilang ketemu sholat di masjid.


Pak Mali adalah tetangga Adrian dan Tiara karena sepengetahuan Nesya kakaknya jarang sholat subuh di masjid.


Nesya kembali mengingat Nolan, menunggu dari subuh. Apakah dia tidak capek, pegel, atau laper? Bang No pasti belum sarapan juga. Nesya jadi sibuk sendiri cemas memikirkan Nolan. Ia jadi bimbang perbuatannya salah atau nggak sebenarnya.


Paling juga dia sarapan kalau ada tukang bubur lewat, nggak ada yang nyuruh juga dia nunggu depan pagar.


Sudahlah! Nesya melekatkan ponselnya tidak ingin membalas pesan kakaknya dan memilih menyelesaikan sarapannya.


...****************...


Nesya sudah di ruang UGD untuk bekerja seperti biasa.


"Tadi datangnya pagi sekali Dok," kata perawat menegur Nesya yang duduk di meja dokter UGD.


"Lagi bahagia juga ya Dok," seru perawat itu lagi.


Nesya hanya membalas senyum. Bahagia dari mana, yang ada aku lagi patah hati. Perawat langsung bergegas meninggalkan Nesya karena melihat ada pasien baru yang masuk ruang UGD.


Perawat memeriksa pasien yang baru masuk. Mengukur suhu tubuh, tekanan darah dan menanyakan keluhan pasien.


"Tidak ada demam ya Mas, tekanan darah sedikit tinggi tapi masih normal. Jadi keluhanya, sakit di kepala sejak semalam, tidak ada muntah juga ya Mas." Perawat menjabarkan hasil pemeriksaan.


"Saya mau dokter Nesya yang periksa saya Sus," ucap pasien yang tak lain adalah Nolan.


"Kebetulan Dokter Nesya stand by Mas. Tunggu ya Mas, sebentar lagi dokter akan periksa." Perawat itu meninggalkan Nolan dan menutup tirai pembatas brankar satu dengan yang lain.


"Dokter pasien baru nomor tujuh." Perawat menyerahkan pada Nesya kertas yang berisi catatan keluhan.


"Oke," ucap Nesya menerima kertas. "Namanya Putra, umur dua puluh tiga tahun, keluhan sakit kepala tidak muntah tidak demam." Nesya membaca isi kertas.


"Periksa sekarang Dok," tanya perawat.


"Bisa! lets go kita periksa," Nesya bangun dari tempat duduknya menuju bilik UGD yang tertutup tirai yang melingkar.


Nesya membuka tirai menemui pasiennya. Betapa terkejutnya ia melihat pasien yang tak di sangka-sangka. Ia sudah menghindari Nolan dengan susah payah, malah dia bertemu ditempat kerjanya. Ia berusaha bersikap profesional. Tapi sedikit cemas, apa Nolan sakit sungguhan atau ia hanya tak menyerah ingin menemui dirinya.


"Pagi," sapa Nesya.


Nolan langsung bangun dari posisi tiduran. Hatinya merasa lega meskipun hanya mendengar suara Nesya. Ia masih bisa mengenali Nesya yang tertutup masker dan mengunakan baju oka. Ia sungguh merindukan suara ini, Nesyanya. Inilah sekarang obat yang paling ampuh untuknya.


"Tiduran aja, biar enak periksanya," kata Nesya ketus.


Nolan menurut, Nesya mulai memeriksa dada pasiennnya mengunakan stetoskop.


"Pusingnya berat atau pening," tanya Nesya berusaha bersikap wajar.


"Sebenarnya, Hati aku yang lebih sakit Nes, melihat kamu seperti ini," ujar Nolan di sela-sela Nesya memeriksa.


"Tolong buka mulut." Nesya berpura acuh dengan perkataan Nolan dan menyalakan center ingin memeriksa tenggorokan Nolan.


Nolan bangun, dengan cepat meraih kedua tangan Nesya dan mengengam pergelangan tangannya. Ia tak bisa lagi menahan untuk tetap tenang, ia harus tahu kenapa Nesya bersikap seperti itu padanya.


"Nes, kenapa kamu menghindari aku! kenapa kamu pergi tiba-tiba dan menjauh dari aku!" Nolan mengerat genggamannya.


"Bang No! ini rumah sakit! aku nggak mau membahas masalah pribadi disini." Seru Nesya.


"Aku cuma mau tahu alasan kamu menghindar dan pergi tiba-tiba kemarin." Nolan semakin mengeratkan genggamannya.


Nesya panik melihat tatapan tajam Nolan, ia tidak ingin bicara masalah ini di sini. "Bang No, aku akan berteriak memanggil keamanan jika Abang memaksa membicarakan bukan hal tentang medis."


Nolan lebih mendekatkan lagi wajahnya dengan Nesya. "Nesya! kamu yang datang terlebih dulu dalam hidupku! Kamu juga yang sudah mengobrak-abrik hati dan perasaan aku. Aku nggak akan membiarkan kamu pergi begitu saja dari hidupku. Aku tidak akan lagi kehilangan orang yang aku cinta!" Nolan melepaskan tangan Nesya dan pergi meninggalkan bilik dan Nesya.


Nesya termenung dan mendadak beku dengan kejadian beberapa detik lalu, ia mendadak gemetar mendengar kata cinta pertama kali dari mulut Nolan.


.


.


.


.


.


.


TBC.......


waduh 😳


sori baru Up 😘 Ei udah up panjang nih


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote dear 😘