
Nolan hampir menghabiskan setengah toples biji kuaci. Tapi langkahnya masih ragu menyapa Nesya. Sampah kulit kuaci juga mulai berserakan di meja sofa.
Bodoh amat sama biji kuaci! aku harus sapa dia.
Nolan menaruh toples kuaci dan menghembuskan nafasnya mengatur rasakan gugupnya. Ia menuruni tangga nampak seseorang yang ingin di sapanya sedang mengobrol dengan montir.
"Kenapa mobilnya?" Nolan merangkul montir yang memeriksa mobil Nesya.
"Mau tune up Bos, tarikannya berat." Montir menunjukkan bagian yang akan di servis.
Jangan ditanya lagi, Nesya lah wajah paling berbinar di bengkel pagi ini. Wajah Nesya ibarat di sorot lampu waktu nonton konser di ruangan gelap.
Bagaimana tidak orang yang paling ingin dilihatnya berdiri di sampingnya siang ini. Bisakah Nesya pinjam jaring untuk nangkap kupu-kupu seperti berputar di kepalanya saking berbinarnya.
"Ini mobil Mbak ya?" tanya Nolan berpura-pura tidak tahu. Ia mencoba membuka pembicaraan dengan orang di sampingnya.
"Ya Bang No, jangan panggil Mbak Dong? Bang No kan lebih tua?" balas Nesya.
"Ya, tadi pagi saya seperti lihat kamu di rumah Pak Adrian."
Jedaaar. Nesya mendadak mual mengingat wajah aibnya tadi pagi. Bisakah siapapun membuat Bang Nolan amnesia sementara melupakan wajah aibnya tadi pagi.
"I-ya, Aku adeknya Kak Adrian." Nesya buka suara di tengah rasa malunya mengingat kejadian tadi pagi.
"Iya Mbak ...," balas Nolan yang binggung akan bicara apalagi
"Bang No, Nama aku Nesya. Bang No Inget ya," kata Nesya pede.
Kalau perlu catet di hati Bang Nolan. Ngarep nggak apa-apa kan.
"Ya Nesya, kalau gitu Aku tinggal." Kata Nolan yang sudah kehabisan pembahasan dan mendadak salah tingkah.
"Bang No tunggu," Nesya nggak mungkin melewatkan kesempatan. Nolan seketika menoleh.
Nesya berpura berjalan dan menekukkan kakinya. Nolan langsung menangkap tangan Nesya yang hampir terjatuh karena tubuhnya oleng. Bukan Nesya namanya kalau nggak membuat drama. Cara ini efektif Nesya lihat di drama-drama romantis. Ya! Posisi mereka kini, tangan Nolan mengenggam lengan Nesya.
"Hati-hati kalau jalan ...." Kata Nolan. Nesya menunjukkan sedikit wajah kesakitan supaya aktingnya totalitas.
"Kayaknya Nesya lapar Bang. Makanya jalannya sempoyongan," balas Nesya masih usaha. Modus melihat cafe di samping bengkel.
Nolan melepaskan tangannya dari lengan Nesya. "Ya udah, kamu makan sambil nungguin Mobil kamu."
"Lebih seru kalo makannya ada temannya Bang." Nesya tak menyerah.
"Boleh ...," kata Nolan keluar begitu saja tanpa sadar.
Nolan langsung berjalan menuju kafe. Nesya masih tidak percaya dengan kenyataan sekarang. Minimal Bang Nolan tidak berkata kasar padanya saja itu cukup buat Nesya jingkrak-jingkrak. Apalagi makan siang bareng tanpa paksaan meskipun ada campur tangan modus, mean, median. Bahagia bangetlah Nesya kali ini.
"Jadi nggak?" tanya Nolan menoleh melihat Nesya yang masih diam.
"Jadi dong!" kata Nesya dengan semangat. Ia segera megekor si belakang Nolan.
Nesya sengaja berjalan lambat dibelakang Nolan. Ia menatap punggung Nolan yang kelihatan sangat sadar-able untuk masa depannya, Eiihh! Sekian tahun akhirnya Nesya bisa juga dekat lagi dengan Bang Nolan. Orang yang di kagumi sejak kecil.
Nolan berhenti mendadak, untung saja Nesya cepat sadar bisa mengerem dengan pakem. Coba kalau tidak wajah Nesya bisa menabrak dada peluk-able Bang Nolan. Kan enak ya! Hush!
.
.
.
.
.
.
NEXT.....
Sori ngak up 2 hari, Sebentar lanjut dear 😘😘😘