
Setelah satu minggu menghabiskan waktu berdua di pulau pribadi yang telah disewa. Hari ini kedua pasangan yang puas berbulan madu ini akan kembali ke kota mereka. Pesawat yang ditumpangi keduanya mendarat dengan sempurna.
Mobil jemputan puh sudah siap menunggu di pintu kedatangan bandara. Padahal Nolan tidak ingin di jemput, ia malah akan mampir sebentar ke bengkel karena sudah kangen dengan pacar keduanya, si mobil menang lomba dan tempat kerjanya itu.
Kalau sudah di jemput sopir keluarga begini, Nolan tidak bisa menolak, pasti ia langsung pulang ke rumah. Tangan Nesya tak pernah melepaskan gandengan. Ia rasanya masih ingin berdua-duaan dengan suaminya di pulau. Tapi ia harus kembali ke kehidupan rumah tangga sebenarnya yang baru akan dimulai.
Malam ini, mobil memasuki halaman rumah keluarga Adiguna. Memang bukan yang pertama masuk ke rumah keluarga Adiguna, tapi sekarang posisinya berbeda, Nesya adalah menantu. Nesya jadi mendadak deg-degan masuk ke rumah mertuanya. Apakah cara bersikapnya bisa di terima keluarga ini. Apa nanti ia bisa membaur dan mengambil hati kedua mertuanya. Bagiamanapun ini kehidupan barunya, keluarga barunya dan mungkin juga ada kebiasaan baru juga untuk harinya.
Seorang membukakan pintu untuk pasangan pengantin baru ini. Nolan langsung memeluk wanita paruh bayah yang menyambutnya sendiri masuk ke rumahnya.
"Assalamu'alaikum Ma," Nesya ikut mencium punggung tangan dan memeluk ibu mertua.
"Bagaimana bulan madu kalian?" tanya Mama Mitha mengandeng Nesya masuk ke dalam rumah.
"Alhamdulillah menyenangkan Ma," jawab Nesya.
Kini ketiganya duduk di sofa ruang santai. Mama Mitha begitu bahagia dengan kedatangan anak yang usai berbulan madu ini
"Mudahan sebentar lagi Nolan juga bisa nimang bayi seperti Davin." Mama Mitha tersenyum ceria penuh harap.
Nesya memaksa senyum karena merasa bersalah. Sama halnya mama mertua yang lain, Mama Mitha pasti menginginkan cucu pada menantunya. Mungkin suaminya tidak memberi tahu orang tuanya kalau keduanya sepakat akan menunda kehamilanya dulu.
"Amin Ma," jawab Nolan berwajah semeringah karena tak ingin Mama tercintanya kecewa.
"Pasangan pengantin kita sudah pulang," suara Pak Hendrawan dari arah tangga.
Nolan dan Nesya menghampiri dan mencium punggung tangan pria berumur itu. Tak lama berselang, Davin dan Abel juga turun karena mendengar keributan dari lantai bawah.
"No, gimana-gimana menurut kalian, seru kan tempatnya," tanya Davin.
"Seru Bang," jawab Nesya. Sedangkan Nolan malah langsung merebut Arzen si mungil dari tangan Kakaknya.
Keluarga ini berkumpul di ruang tengah, pengalaman pertama untuk Nesya berkumpul di tengah keluarga inti suaminya. Nesya memperhatikan Abel yang begitu akrab dengan papa mertuanya. Sedangkan Papanya belum sama sekali mengajaknya bicara atau sekedar bertanya tentang bulan madunya. Bang Davin dan Mama Mitha yang malah lebih sering menggodanya.
"Sebaiknya kalian istirahat dulu, pengantin baru harus sering-sering di kamar biar mama cepat punya cucu," goda Mama Mitha. Nesya membalas senyum bersalah, lagi-lagi masalah anak.
"Bener kata Mama, Nolan kayaknya udah pengen banget punya anak sendiri," sahut Davin menunjuk adiknya.
Nolan hanya tersenyum tak menjawab sambil sibuk menimang Arzen.
"Ya udah kita istirahat dulu," sahut Nolan. Ia tak ingin Nesya tertekan karena bahasan keluarganya masalah anak.
Setelah berpamitan, Nolan dan Nesya menaiki tangga menuju kamar Nolan. Nesya mengedarkan pandangannya, karena baru pertama kali ia masuk lebih dalam rumah keluarga suaminya. Dengan konsep klasik, mewah, besar, ini jauh lebih besar dari rumah orang tuanya.
Nolan membuka pintu warna putih, ia mengandeng Nesya memasuki kamarnya ketika masih bujangan.
"Nes, sementara kita tidak tinggal di rumah ini ya. Setelah rumah kita jadi, kita pindah," ucap Nolan.
"Iya," balas Nesya. Ia berkeliling melihat panjangan foto-foto di kamar suaminya. Cukup besar dan tertata dengan rapi untuk ukuran kamar pria. Sangat manly sekali kamar suaminya, Nesya pasti bosan suasana yang hitam putih seperti foto jadul. Mungkin beberapa hari ke depan Nesya akan menambah unsur ferminim di kamar manly ini. Mulai dari menganti tirai kamar, atau sprei tempat tidur dengan nuansa pink. Mudahan suaminya tidak keberatan.
"Kamu nggak usah ambil hati soal mama yang minta cucu." Nolan merangkul pundak Nesya.
"Aku jadi merasa bersalah sama mereka Bang, kalau mereka tahu aku memang sengaja nunda untuk punya anak mereka pasti kecewa."
"Nggak apa-apa, kalau diberi pengertian yang baik mereka pasti ngerti."
Nesya menarik tangan suaminya agar melingkar diperutnya. "Bang No, masih nggak keberatan dengan keputusan aku?"
"Aku selalu dukung keputusan kamu. Tidur yuk Nes." Elak Nolan tak ingin membahas masalah ini lagi.
"Udah ngantuk?" tanya Nesya.
"Nggak juga, katanya kamu besok masuk ke rumah sakit pagi-pagi?"
Nesya menepuk jidatnya, besok hari pertama masuk setelah libur panjang. Ia di beri jadwal sampai di rumah sakit setelah subuh.
"Boboin dulu dong," Nolan mengerat pelukannya.
"Ih ... kalau ada maunya, one round," Nesya mendorong malu-malu dada suaminya. Nolan langsung mengangkat tubuh Nesya dan membaringkan di ranjang, kedua manusia yang berbalut gairah ini melakukan hak dan kewajiban suami istri sebelum bobo cantik.
...****************...
Suara kumandang adzan subuh terdengar nyaring di luar kamar. Nolan membuka matanya samar-samar. Ia meraih ponselnya yang terus membunyikan alarm pertanda waktu sholat. Ia melirik ke samping di dapati istrinya yang sudah tidak ada. Oh ya, Nesya harus pergi pagi-pagi karena ini hari pertama masuk ke rumah sakit. Nampak sobekan kertas di atas tempat Nesya tidur. Ia meraih dan membacanya.
Morning My hot husband. Jangan lupa mandi dan sholat. Setelah itu telepon istri yang sedang bertugas ini.
Nolan hanya tertawa kecil membaca pesan istrinya. Ia bangun dan melakukan apa yang di tulis istrinya.
Ia mendapati baju Kokoh lengkap dengan perlengkapan yang lain di sofa dekat lemari. Lagi-lagi ia menemukan kertas note.
Selamat menunaikan sholat subuh suamiku. menyambut matahari pagi yang cerah, secerah cintamu yang selalu menyinari hariku. Udah pinter gombal belum?
Ia juga melihat ke samping, ada baju stela kaos berkerah abu-abu dan celana jeans slim sudah di siapkan Nesya. Ternyata begini rasanya punya istri, ada yang menyiapkan, merasa seperti diperhatikan. Nolan membaca lagi note dari istrinya.
Maaf hari ini aku nggak bisa masak dan sarapan bareng, Abang tetap jangan lupa sarapan biar siap menghadapi kenyataan.
Ada-ada saja tingkah istrinya. Nolan segera melaksanakan kewajibannya sebelum matahari pagi bersinar. Dan pasti ia segera menghubungi istrinya.
"Tadi nggak pamit?" tanya Nolan mendengar suara istrinya dari layar ponsel.
"Ya, aku nggak tega mau bangunin wajah lelahmu. Tadi udah aku ciumi kok sebelum pergi."
Nolan tertawa kecil. "Ini sibuk nggak?"
"Sebentar lagi aku ikut operasi pertama aku?"
"Kamu ikut operasi? Kenapa nggak cerita!"
"Aku juga baru dikasih tahu tadi, ini lagi tunggu dokter Rakha. Oh ya bang sekarang aku di pindah ke poli bedah bantuin dokter Rakha."
"Dokter yang suka ngodain kamu?" Nolan mendadak kesal.
"Nggak usah marah! dia suka godain semua orang kok!"
"Ya, jaga diri kamu. Kalau ada yang macam-macam kamu langsung hubungi aku!"
"Ya ampun, iya suamiku sayang. Ya ada aku yang mau macam-macamin orang, siap aku bedah."
"Ya udah. Aku tutup dulu. Selamat berkerja Sayang."
Nolan menutup telepon, ia mendadak tidak tenang mendengar Nesya yang pindah ke poli bedah. Apa ia terlalu cemburu berlebihan?
Sudahlah, nggak usah mikir aneh-aneh tentang istri. Ia pun bersiap juga bekerja menjemput rezeki pertamanya setelah menikah.
.
.
.
.
.
TBC......
Moon maap Ei baru bisa up, harusnya kemaren? tapi ada masalah RL yang nggak bisa Ei tinggalkan 🙏🙏