Dear Nolan

Dear Nolan
Kode



Nesya mengambil kaca kecil dari sling bagnya. Ia mengabsen tatanan giginya dari kaca. Nesya mengantisipasi kalau ada sisa cabe sarapan paginya yang masih menempel. Ok, semunya sempurna dan terlihat cantik. Saatnya melenggang menuju karpet aspal ke bengkel.


Montir yang mengenal Nesya langsung bergegas menghampirinya dengan senang, ia berharap akan mendapatkan tip lagi dari wanita itu.


"Hai Mbak, mobilnya udah beres tuh." Montir menunjukkan mobil Nesya yang usai di servis.


"Udah tahu Mas," ucap Neysa.


"Mau langsung cabut atau test drive dulu nih," tanya Montir.


"Ehmm, si Bos ada nggak?" tanya Nesya.


"Si bos disana." Montir menunjuk Nolan yang mengotak-atik mobil sedan mit*subishi l*nser.


Nesya merapikan lagi roknya yang sudah licin.


"Mas, test drive mobil aku, kalau bisa lama-lamain sekalian aja muter keliling kota ngukur jalan," ucap Nesya.


"Ada uang bensinnya nggak Mbak, soalnya kantor nggak kasih ongkos test drive," kata si montir penuh harapan.


"Modus aja nih, nih ambil. Untung aku lagi bahagia." Nesya menyerahkan selembar uang seratus ribu.


Dengan cepat montir mengambil rejeki dadakan untuknya. "Makasih Mbak, sebentar saya panggilkan si Bos."


Montir menuju ke arah Nolan. Keduanya nampak berbicara. Nolan memperhatikan Nesya yang sedikit jauh posisinya sekarang. Nesya berdadah manja ke ketika Nolan melihatnya. Nolan mengelap tangannya dengan kain lalu mencuci tangan. Nolan perlahan mendekati Nesya. Mendadak Nesya menjadi berdebar.


Tolong ya jantung dikondisikan, kenapa deg deg kan gini.


Nolan selalu terlihat tampan di mata Nesya, dengan kaos oblong hitam dan celana pendek selutut.


"Mobil kamu di test drive ya?" tanya Nolan.


"Iya Bang No, bisa nanya-nanya tentang mobil nggak," ucap Neysa menemukan alasan.


"Boleh, kesitu aja yuk," Nolan menunjuk ruangan berAc yang berisi sofa.


Nesya mengangguk kemudian berjalan mengikuti langkah Nolam. Nolan membuka pintu kaca. Ruangan ini ruangan khusus untuk Nolan ketika bertemu pelanggan yang berkonsultasi untuk modifikasi mobilnya. Sangat nyaman, dingin dan seru karena terdapat gambar-gambar mobil hasil modifikasi.


"Minum apa?" Nolan yang membuka kulkas yang berisi minuman kemasan dalam ruangan ini


"Apa aja yang penting jangan teh," ucap Nesya.


Nolan memberikan minuman isotonik pada Nesya. Kemudian ia duduk di sofa yang berhadapan dengan Neysa.


"Bang Nolan kayaknya lagi sibuk ya?" tanya Nesya.


"Nggak juga, lagi cek Mobil yang mau ikut lomba!" jawab Nolan.


"Karyawan Bang Nolan banyak juga ya?"


"Sekitar 24 orang termasuk administrasi," jawab Nolan.


"Wah lumayan ya, Punya sekertaris juga dong," usut Nesya lagi.


Nolan mengukirkan senyum di bibirnya, "Untuk apa, palingan butuh admin sama keuangan untuk ngurusi pajak."'


Aman berati pekerja cewek cuma dua Manusia.


"Tadi kamu mau nanya apa?"


"Hmmm, Kakak aku mau modifikasi mobil ayah, keluaran tahun sembilan puluhan gitu," ucap Nesya asal, untung ayahnya memang punya mobil yang dia maksud.


"Bawa sini aja mobilnya, biar sekalian bisa Konsul."


"Ya Bang No," ujar Nesya.


"Kamu udah makan?" tanya Nolan.


Dengan seketika wajah Nesya berseri-seri. mulai perhatian, ayo Bang No kita makan siang manja. Nesya menggelengkan kepalanya menandakan dia belum makan siang.


"Kamu makan dulu disini ya, ada sisa nasi bungkus. ada montir yang puasa, mubazir nggak ada yang makan." Nolan beranjak keluar ruangan tanpa menanyakan Neysa setuju atau tidak.


Gubraakkkkk


Tulang Neysa langsung lemas mendengar ucapan Nolan. Bisa nggak sih Bang Nolan romantis atau modus-modus dikit.


Makan siang seperti harapan Nesya, di cafe dengan diiringi obrolan manja meguap seketika. Ya, makan siang manja yang diharapkan Nesya diganti dengan bungkusan kertas nasi yang di sodorkan Nolan padanya.


Nolan memperhatikan Nesya yang hanya memperhatikan bungkusan nasi di atas piring tanpa membukanya.


"Nes, ayo makan ini ayam bakarnya enak," ucap Nolan.


"Iya," jawab Nesya memaksa bahagia.


Ia langsung membuka bungkusan nasi di depannya. Ia memperhatikan Nolan yang sangat lahap menikmati makanannya dengan mengunakan tangan.


Low profil banget sih Bang No, pasti nggak ada yang percaya kalau dia anak keluarga Adiguna.


Nesya kembali berpikir apakah dia akan makan menggunakan tangan juga? ia membolak-balik tangan cantiknya. Jujur, Nesya tidak pernah makan dengan tangan karena kebiasaan keluarganya. Selain itu, menurut Nesya itu sama sekali tidak elegan. Tapi itu tidak berlaku untuk Nolan, bagi Neysa Bang No tetep kelihatan cool meskipun makan menggunakan tangan.


"Nesya, cuci tangan dulu. Baru makan! nasi kamu keburu dingin," kata Nolan pada Neysa yang hanya diam saja.


"Yang Bang No."


"Makan pakai tangan sunah nabi loh," ujar Nolan.


Nesya langsung melenggang keluar untuk mencuci tangannya.


Keduanya mulai menikmati nasi bungkus yang ada di hadapannya. Meskipun Nesya masih terlihat kaku menggunakan tangan. Ia harus tetap makan dengan cantik agar tidak belepotan menodai dandanannya. Tapi ia menikmati, yang penting judulnya makan siang bersama.


"Makan siang beli terus ya?" tanya Neysa.


"Ya, kalau sudah punya istri mungkin istri yang masak," jawab Nolan. Entah kenapa? Nolan merasa nyaman ngobrol dengan Nesya.


Aduh Bang No, ini kode bukan sih? Nesya mendadak malu-malu kelinci.


.


.


.


.


TBC


Nanti lanjut dear 😍