
Setelah malam panjang dan melelahkan, Nesya dan Nolan kembali ke kamar hotel yang ia tempati tadi siang.
Tadi, ketika menjelang acara usai. Nolan mengabulkan keinginan Nesya untuk berdmasa. Meskipun masih ada beberapa orang yang hanya anggota keluarga.
"Nes, aku nggak bisa dansa." Nolan berbisik di telinga Nesya. Keduanya kini ada di podium lantai bulat yang ada di depan pelaminan.
"Memang Bang No pikir aku bisa! kita dansa ala-ala aja yang penting ada dokumentasi kita dansa," balas Nesya.
"Ya ampun Sayang! terus kita ngapain di sini, peluk-pelukan depan banyak orang! mending di kamar."
"Ya ampun suamiku mereka kan keluarga kita, romantis dikit sekali ini aja, udah sekarang goyang kiri kanan ikuti musik, lihat aku dalam-dalam." Nesya menarik tangan suaminya agar lebih erat melingkarkan di pinggangnya. Sedangkan Nesya mengalungkan tangannya di leher suaminya.
Detak kaki mereka sama - sama mulai seimbang mengikuti ritme musik. Keduanya mulai menikmati berpelukan dengan mengayunkan tubuh mereka untuk berdansa.
Nesya menatap suaminya yang sekarang begitu dekat dengannya. Senyum suaminya yang terhias di bibir sosor-able itu seperti punya sihir sendiri untuknya. Ia benar-benar jadi Cinderella malam ini. Bedanya ia tak perlu meninggalkan pengerannya setelah lonceng jam dua belas, justru dia harus keluarkan jurus - jurus jitu untuk mendekati pangerannya. Ia juga tak perlu meninggalkan sepatu kaca, karena pengerannya akan mengenali wajah imutnya sampai kapanpun.
Hanya satu lagu dan cukup membuat Nesya puas, keduanya mengakhiri pamer kemesraan di podium yang membuat jiwa para jomblo berteriak.
Malam yang semakin larut WO dan keluarga pun mengizinkan kedua pengantin yang kelelahan kembali ke kamar.
"No tunggu!" teriak Davin yang mengema di lorong hotel. Nolan menoleh dan menghampiri kakaknya. Nesya menunggu didepan pintu.
Davin menyelipkan sesuatu di kantung celana adiknya.
"Apaan ini Bang," tanya Nolan pada Davin.
"Biar tahan sampai pagi," bisik Davin sambil tertawa renyah.
"Apaan sih Bang, ada-ada aja." Nolan tidak menyangka punya Abangnya tambah mesum, untung Abel yang jadi istrinya.
"Have fun No, sana istrimu sudah nunggu." Davin menepuk pundak Nolan dan melambaikan tangan meninggalkan adiknya itu.
Nolan memasuki lagi kamar superior dengan ruangan yang kembali di tata ulang dengan hiasan untuk pengantin. Masih bernuansa ungu dan banyak kelopak mawar di lantai. Tentu saja, pernikahan Nolan dan Nesya menjadi pernikahan termewah tahun ini di kota ini. pasti kamar pengantinnya nggak kaleng-kaleng.
Tak terlalu memperhatikan yang lain, Nesya langsung berlari ke arah ranjang yang melambai-lambai memamerkan keempukannya. Nesya segera meluruskan kakinya yang rasanya seperti mau patah.
Sama halnya dengan Nesya, Nolan menyusul Nesya, langsung membanting diri ambruk di ranjang, tubuhnya merusak satu dari tiga kelopak mawar berbentuk hati yang sudah susah payah di hias petugas hotel di atas ranjang.
Selang beberapa detik meluruskan kaki, suasana menjadi hening. Nolan baru menyadari ia satu ranjang dengan wanita yang tak lain adalah istrinya sekarang. Dadanya mendadak berdebar kencang, bukan kah ini waktunya untuk Nana Nini untuk orang yang sudah halal.
Dengan cepat ia bangun tak ingin terlibat lemah di depan Nesya. Malam ini adalah malam pembuktian ke perkasaanya kan. Ia meraba botol mini pemberian kakaknya untuk menambah kepercayaan dirinya. Tapi dirasa itu tidak perlu, kekuatan dari dalam diri itu yang terpenting.
Tapi semangatnya yang terkumpul mendadak padam, melihat Nesya yang masih terbaring lesu tak jauh dari tempatnya. Ya, ranjangnya sangat luas seperti ranjang king size CEO - CeO di novel, hingga keduanya terpisah sekitar setengah meter.
Nolan menyingkirkan dan menendang ke bawah dua angsa kain yang sedang berciuman karena menghalangi tangannya. Tangan hangat yang menjamah pundak Nesya mulai menyadarkannya yang linglung karena kelelahan. Nesya baru menyadari malam ini dirinya akan tidur satu ranjang dengan laki-laki pujaan hatinya yang sekarang jadi suaminya.
Nesya langsung membulatkan mata, rasa kelelahan yang menderahnya tadi, berubah jadi debaran jantung yang sedang bergendan.
Bedua! di kamar! Ia bahkan akan bisa meretakan tanah kalau menginjak lantai karena saking gugupnya dia sekarang.
"Nes, kamu capek ya?" tanya Nolan.
Nolan membelai pipi Nesya. Tiba-tiba secara alami desiran hangat menyelinap di tubuhnya. Nesya menjadi salah tingkah sekarang.
"Aku lepasin sepatu kamu." Nolan meraih kaki Nesya dan melepas high heelnya. Nolan bisa melihat ujung kaki Nesya yang merah karena berdiri terlalu lama.
"Bang No, kayaknya aku butuh mandi," ucap Nesya. Pasti salah tingkah kalau sudah berdua begini
"Tapi ini udah malam," ucap Nolan cemas.
"Mandi air hangat, aku benar-benar lengket." Nesya tidak percaya diri sekarang jika kondisi seperti ini di dekat suaminya. Nesya mulai membongkar kerudung, untungnya tidak terlalu susah.
"Ya udah aku bantu buka baju kamu!" Nolan menarik reseleting di punggung Nesya. Nesya hanya memejamkan mata mendadak tengkuk lehernya dingin.
Kondisi seperti ini, kenapa detak jantung Nolan juga berdegup kencang. Apa ya ikut saja mandi bersama Nesya.
Jangan! Nesya mungkin masih butuh waktu untuk sendiri.
Nesya melepas gaunnya dan segera memakai bathrobe yang ada di ranjang. Meskipun suami istri Nesya masih malu polos di depan suaminya. Nolan hanya bisa menelan ludah melihat istrinya yang memakai pakaian dalam tadi. Harusnya langsung ia terkam saja. Tidak masih banyak waktu untuk bisa bersama, biarkan Nesya menyiapkan dirinya.
"Aku mandi dulu biar seger," ucap Nesya bergerak menuju kamar mandi. Nolak mengganguk.
Meskipun mandi tengah malam, bukan berarti ia mandi kembang seperti lagu dangdut. Ia cukup memakai aroma terapi vanilla untuk mengharumkan dan menenangkan tubuhnya. Ia ingin tampil sempurna di depan suaminya.
Sementara di luar kamar Nolan juga sudah selesai mengeringkan rambutnya. Ya, Nolan mandi di sebelah kamar mandi yang di gunakan Nesya. kebetulan hotelnya punya dua kamar mandi satu khusus shower, satu kamar mandi yang dipakai Nesya lengkap semua kebutuhan mandi.
Nolan melihat bayangan wajahnya di cermin, ya cukup tampan lah. Rambutnya sudah lemas segar karena basah, tidak sekaku tadi ketika resepsi karena memakai banyak Pomade. Ia mengangkat tangannya melihat bulu ketek yang sudah di basmi. Bulu halus di sekitar dada yang sudah ia singkirkan, tapi tidak dengan bulu di area tempur. Biarlah kawasan bawah di lindungi hutan rimba agar tetap aman. Hal ini ia lakukan agar Nesya tidak kegelian waktu membelai dada bidangnya. Ssrr ... membayangkan saja Nolan sudah merinding, ia melihat dari pintu kaca putih yang tertutup tirai di ujung kiri ruangan. Istrinya belum juga muncul dari balik pintu.
Kini ia malah jadi galau memakai boxer atau underware saja. Pakai boxer tanpa under ware sepertinya lebih praktis saat di buka. Nolan menepuk jidatnya, kenapa ia malah galau hanya karena hal konyol seperti ini. Akhirnya Nolan memakai kaos putih dan boxer yang di bawah ARTnya dari rumah. Ia tinggal rebahan di ranjang, mempersiapkan diri menunggu Nesya keluar dari kamar mandi.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
eya... eya ... yang lagi nungguin apa hayo😂😂😂
lanjutannya Ei usahakan malam ya