Dear Nolan

Dear Nolan
Mari Bercocok Tanam



Nesya menggerak-gerakkan badannya karena merasa berat. Terlebih lagi, ia susah untuk bangun karena tubuhnya rasanya remuk. Ia merasa tulang-tulang di persedian ngilu seperti selesai dihajar banteng. Bagian bawah tubuhnya juga terasa perih, ia butuh salep pereda nyeri sepertinya. Ia pelan-pelan membuka matanya yang masih ngantuk itu. Ia melihat tangan Nolan yang terus membelit tubuhnya erat. Entah sejak kapan posisi tidur suaminya berpindah di bawah lekukkan lehernya.


Nesya tersenyum ketika mengingat kejadian semalam. Ia tak menyangka pria kasar dan ceuk yang sekarang tidur bersamanya ternyata pria yang lembut ketika bercinta. Nesya mengingat dengan jelas, bagaimana suaminya memanjakan dengan halus permukaan kulitnya. Ia pun mengelus kepala suaminya yang masih tertidur di pundaknya. Ia jadi tak tega membangunkan Nolan untuk sedikit bergeser, karena ia merasa sesak nafas karena tangan besar suaminya itu memeluknya erat.


"Nes! Kamu udah bangun?" tanya Nolan setengah tersadar.


Nesya tersentak kaget, "Udah, tapi baru aja."


"Sekarang jam berapa?" tanya Nolan sambil mengusel-usel hidung di pundak Nesya.


Nesya melihat jam di dinding yang samar-samar karena lampu kamarnya pencahayaannya remang.


"Kayaknya jam lima," jawab Nesya.


Nolan langsung mendongak, ia menempelkan dahi di ke kening Istrinya.


"Sekali lagi yuk Nes sebelum subuhan," pinta Nolan.


"Bang No ah," rengek Nesya.


Tapi apa ia bisa menolak suaminya yang ingin menanam jagung? meskipun badannya terasa remuk semuanya, ladangnya pun masih butuh waktu istirahat untuk bisa bercocok tanam lagi.


"Nggah kok Sayang, apa masih sakit?" tanya Nolan cemas. Nesya mengangguk lemah.


"Maaf Ya Nes aku terlalu kasar ya semalam, apa perlu kita panggil dokter?" Lagi-lagi Nolan kepanikan sendiri.


Nesya menepuk jidatnya, "itu udah biasa Bang, malu-maluin dunia kedokteran kalau sakit karena di perawanin harus ke dokter. Semua wanita yang masih perawan akan mengalami robekan di selaput kewanitaannya karena terkena serangan benda tumpul. Kalau dia nggak sakit berarti patut dipertanyakan. selaputnya udah robek apa belum?" tutur Nesya.


"Ya Bu dokterku ... kita mandi aja yuk, sambil nunggu subuh." Nolan menyadari istrinya pasti masih kelelahan.


"Mandi berdua?" tanya Nesya kaget, karena meskipun sudah saling tahu satu sama lain, tetap saja masih malu.


"Iya Sayang, itu sunnah loh," ujar Nolan.


"Mandi aja kan?" Nesya memastikan.


"Iya, tapi nanti habis subuh kita ...." Nolan tidak meneruskan kalimatnya malah mencium pipi Nesya


"Bang No!" Nesya mendorong tubuh suaminya yang mulai mesum.


"Kita Mandi dulu," Nolan mengangkat tubuh Nesya tanpa permisi dan membawanya ke kamar mandi.


...**************...


Dari atas ketinggian gedung megah ini, Langit yang begitu cerah, dengan pancaran hangat sinar matahari Pagi. Pagi yang menyejukkan seperti suasana hangat di kamar Pengantin baru yang sedang menikmati sarapan ini.


"Enak Nes?" tanya Nolan ketika melihat Nesya melahap sup dan sandwich dengan lahap.


"Bukan enak, tapi aku lapar Bang," balas Nesya.


"Pelan-pelan makannya," ucap Nolan membersihkan sisa madu di ujung bibir Nesya.


"Ups sorry, coba punya aku," Nesya menyodorkan sandwich yang sudah di gigit ke arah suami yang ada di sebelahnya.


Nolan melahap sandwich yang di sodorkan Nesya, lalu menarik dalam pelukannya. Nesya pun membalas dengan mencium suaminya di pipi lalu di bibir. Pagi pertama menjadi pasangan suami-istri.


"Bawaannya mau pelukan terus ya!" ucap Nesya juga memeluk suaminya.


"Ya Nes, kayaknya setelah ini aku nggak bisa jauh-jauh dari kamu." Nolan mempererat pelukannya.


"Makan dulu yuk Bang, isi tenaga," ucap Nesya.


"Ya ampun, aku sampai lupa. Ayo kita makan dulu, setelah itu kita Nana Nini ya," balas Nolan malu sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi sudah terlanjur candu.


"Iya," balas Nesya merona malu. Rasa nyeri si antara kakinya sudah mulai membaik.


Keduanya menyelesaikan sarapan pagi untuk memulihkannya tenaganya setelah terkuras semalam.


"Oh ya Nes, tadi pemborong yang ngerjakan rumah kita telpon," ucap Nolan usai melekatkan cangkir teh.


"Ada masalah?" tanya Nesya yang juga usai meminum susu tegukan terakhirnya.


"Ada sedikit masalag? katanya tanah timbun yang di pakai untuk bangunan ternyata kurang dari prediksi. Mereka butuh waktu untuk pondasi yang benar-benar kuat karena lokasi tanah kita yang miring dan berbukit. Karena itu mereka butuh waktu tambahan dua sampai tiga bulan dari prediksi awal rumah kita jadi" Nolan menerangkan masalah rumahnya.


"Ya bagus, memang berapa lama lagi baru bisa di tempati kalau begitu."


"Kurang lebih enam-tujuh bulan si usahakan."


"Nggak apa-apa Bang, yang penting hasilnya memuaskan."


Nolan menghadap ke arah Nesya, ia mengengam kedua tangan Nesya. "Nes, untuk sementara, kita tinggal dulu di rumah Papa ya sampai rumah kita jadi."


Sebenarnya ia juga deg-degan bagaimana nanti tinggal di rumah mertuanya. Bagaimana nanti bersikap di rumah mertua. Tapi mereka kan orang kaya yang sibuk, pasti cuek-cuek lah sama urusan rumah tangga anaknya. Nesya berusaha berpikir positif.


"Nes, ayo lanjutkan kemarin malam," ucap Nolan berbisik di telinga Nesya.


"Ih ...." Nesya memalingkan muka malu, jujur sebenarnya ia juga ingin juga mengulangi lagi.


Nolan meraih wajah Nesya, di tatapnya dalam-dalam wajah istrinya yang cantik dan polos tanpa make up. Tangannya berpindah ke dagu, ia mulai menempelkan bibirnya ke bibir istrinya. Di sesap lembut penuh cinta dan nafsu kali ini. Nesya maju dan sekarang duduk di paha suaminya, ia mulai membalas setiap ciuman suaminya yang semakin dalam.


Nolan berdiri dari sofa sambil mengangkat tubuh Nesya. Kaki Nesya melingkar di pinggang suaminya sambil terangkat oleh suaminya.


Nolan menjatuhkan tubuh istrinya di ranjang yang menjadi saksi pergulatan semalam. Ia menin-dih tubuh istrinya. Bibir Keduanya tak pernah lepas untuk saling melu-mat. Nolan membuka kaosnya karena merasa hawa panas di tubuhnya.


Nolan juga sudah bersiap menyingkap baju Istrinya.


Tok ... tok ... tok


Bunyi gedoran dan bel pintu membuyarkan konsentrasi keduanya. Ya, mereka memang belum keluar kamar menemui keluarga sejak pagi.


"Buka dulu," pinta Nesya, ia sebenarnya juga kesal acara menanam jagungnya tertunda.


Nolan meraih kaosnya dan bergegas menuju pintu. Nesya juga secepat kilat membenahi pakaiannya dan menutup tubuhnya dengan selimut.


"Udah siang! bangun!" goda Davin yang muncul di balik pintu.


"Apaan sih Bang!"


"Nesya udah pakai baju belum? Abang mau masuk sebentar aja, nggak enak ngomong di depan pintu."


Bang Davin aneh-aneh aja mau masuk kamar pengantin. Nggak sopan tahu


Nolan panik menengok ke dalam, seingat Nolan terakhir melihat istirnya, ia sudah membuka baju atasnya. Davin hanya tertawa kecil melihat adiknya itu.


"Bercanda No, kita bicara di kamar Abang!"


Nolan akan menutup pintu, ia melihat keadaan Nesya yang masih tertutup selimut. Nolan pun mengikuti langkah Kakaknya menuju kamarnya.


Di dalam kamar hotel yang ditempati Davin. Nolan melihat Abel yang sedang mengendong Arzen yang terlelap.


"Cieh cieh Uncle No," goda Abel melihat kedatangan Nolan. Nolan hanya membalas dengan tersenyum manis.


Keduanya kini duduk di Sofa, Davin menyerahkan sejenis kartu pada Nolan.


"No, sore ini kamu berangkat, Abang sudah sewa pulaunya selama seminggu kalau kamu belum puas kamu bisa nambah. Di sana dijamin tenang, teduh, indah Nesya pasti suka. Kamu have fun disana."


"Mendadak banget Bang," ucap Nolan.


"Namanya juga kejutan! Mudahan pulang madu kamu kasih kabar gembira, bisa kasih teman buat Arzen." Goda Davin.


"Ya Amin. Makasih Bang, aku mau kasih tahu Nesya." Nolan berdiri hendak kembali ke kamarnya.


Davin menepuk pundak Nolan, ikut bahagia melihat adiknya yang sekarang banyak berubah setelah beberapa jam menikah.


"Maaf Bang udah ngerepotin," ujar Nolan sebelum pergi meninggalkan kamar Davin.


"Sama sekali nggak No, selalu bahagia No, kalau sudah begini Abang bisa tenang."


Davin memeluk adiknya itu. Tidak ada yang perlu ia kuatirkan lagi, Nesya lah sekarang wanita yang ada dalam hati adiknya.


Nolan bergegas ke kamar setelah berpelukan dengan kalanya. Ia masih punya waktu satu - dua jam ke depan untuk bermesraan dengan Nesya.


Setelah sampai kamar, Nolan langsung lemas melihat Nesya yang tertidur pulas. Ia tak tega harus membangunkan Nesya hanya untuk menanam jagung. Nolan harus bersabar kali ini masih banyak waktu untuk bercocok tanam ketika berbulan madu. Nolan berharap menggarap ladang yang subur, bisa membuahkan hasil satu sampai dua bulan hasil bercocok tanam.


.


.


.


.


.


.


TBC ....


Ei Nemu istilah baru .... tunggu honeymoonya, Ei mau ngintip lagi nanti....Eh canda ngintip 🙈