
Tak jauh berbeda dengan Pak Bima Raharja lelaki itu begitu terkejut akan bertemu manik mata coklat itu di sini. Kebetulan yang sangat ia dambakan. Ia memang mencari dan ingin bertemu wanita seusianya itu beberapa tahun lalu. Tidak ada yang berubah ia sangat mengenali wanita yang ada di hadapannya meskipun tak pernah bertatap muka lagi selama 20an tahun.
Bunda serena mengatur nafasnya yang mendadak sesak, ia pun seperti di hadapkan kembali pada masa lalunya. Masa lalu yang dengan susah payah ia kubur dalam-dalam.
Pak Bimantara menyambut uluran tangan Pak Doni, sementara giliran akan menyambut uluran tangan Bunda Serena, tangannya mendadak gementar, ada ribuan pertanyaan yang ingin ia ungkapkan pada wanita yang tetap terlihat cantik walaupun mulai termakan usia.
Bunda Serena mengangkat tangan dengan gemetar, ia sungguh tidak sudi meskipun hanya dipegang ujung kukunya saja. Sesak di dadanya semakin tak bisa ia kontrol, belum sempat menyambut tangan Pria itu, pandangan mendadak kabur dan kepala berat.
Bruuk
"BUNDA!" Teriak Nesya yang melihat Serena ambruk dalam dekapan Pak Raharja.
"Bunda!" Nolan dengan sigap meraih tubuh bunda Serena.
"Biar saya angkat bunda Pak," Nolan hendak meraih tubuh bunda Serena yang tak sadarkan diri dalam dekapan Pak Bimantara.
"Tak perlu, biarkan saya saja yang mengangkat!" bantah Pak Bimantar tanpa memperdulikan siapa yang pingsan adalah Istri orang lain. Ia langsung membawa masuk Serena tanpa persetujuan tuan rumah.
Mama Mitha yang sudah terlanjur panik, tidak memperdulikan lagi moralitas. Ia hanya menurut mengarahkan ketika Pak Bima Raharja meminta kamar untuk merebahkan tubuh yang di bawahnya.
Semua orang masuk ke kamar tamu, Pak Doni dengan sigap menyingkirkan tangan Pak Bimantara yang berdiri di dekat istrinya. Ia tidak mengerti kenapa pria yang seusia putranya ini begitu peduli pada Istrinya.
"Tenang! Sebentar lagi dokter keluarga kita akan datang," ucap Pak Hendrawan memecah kepanikan semua orang.
Nesya kini duduk di sisi sebelah Bunda Serena.
Pak Raharja pun batal membicarakan masalah bisnis karena bersikeras ingin melihat keadaan Serena. Sebagai rekan bisnis yang memenuhi keinginan rekannya. Pak Hendra menurut saja keinginan koleganya itu.
Dokter keluarga Adiguna datang tepat waktu. Dokter Danu langsung menuju tempat tidur menemui pasien dari keluarga Adiguna. Ia menyiapkan oksigen portale untuk di hidupkan pada Bunda Serena. Entah beberapa hari terakhir keluhan keluarga Adiguna adalah pingsan, biasa ia di panggil untuk memeriksakan kolesterol, gula darah. Begitulah yang ada di pikiran dokter itu.
"Jangan! Jangan Bim! Aku nggak salah Bim!" igauan bunda Serena setelah setengah sadar.
Semua kembali berkerumun melihat Bunda Serena yang sudah mulai sadar.
"Sepertinya hanya gejala syok attack, tidak ada yang saya serius. Semuanya normal, saya pamit." seru dokter Danu beranjak dari tempatnya. Mama Mitha mengantar keluar dokter itu.
"Alhamdulillah bunda sudah sadar," Nesya memeluk bunda Serena yang bangun dari tempat tidur.
"Maaf Pak Hendra dan Bu Mitha, sebaiknya saya dan suami ijin pulang karena mendadak saya kurang sehat." Pinta Bunda Serena.
"Ya Bu Serena, kita mengerti." Jawab Pak Hendrawan.
"Kenapa terburu-buru Bu Serena, tinggallah sebentar," ucap seseorang kembali membuat terkejut.
"Maaf Pak Raharja, bukan urusan Anda menyuruh kami untuk tetap.tinggal," ujar Pak Doni yang dari awal sudah kesal dengan pria dewasa itu.
"Pak Doni, mungkin maksud Pak Raharja, Bu Serena biar tenang sejenak. Bukan begitu Pak Bima."
"Maaf kami tidak mengenal Anda dan Anda tak berhak bertanya apapun kepada istri saya, Kami akan permisi," seru sopan Pak Doni.
"Serena mengenal saya Pak! Dia harus menjawab sesuatu, jika ingin hidupnya tenang tanpa gangguan di luar nalar dari seseorang Bimantara Raharja," ucap Pria itu lagi.
"Sekali lagi Pak Bimantara Raharja, Anda tak berhak menyuruh istri saya untuk bicara. Kenapa Anda malah mengancam!" Pak Doni mulai sedikit emosi.
"Maaf Saya menyela Pak Bimantara, sebaiknya kita biarkan bunda Serena tenang dulu," Nolan menyela.
"Saya harus menanyakan hal ini sekarang!" bantah Pak Bimantara.
"Apa Bim! Apa yang mau kamu tanyakan, setelah itu jangan libatkan keluargaku lagi." Serena akhirnya bangun angkat bicara karena tak tahan dengan perdebatan pria itu.
"Hanya beberapa pertanyaan ringan. Apa benar Nesya anak adopsi?" tanyanya.
"Ia! Nesya anak yang kami adopsi! sudah cukup pentanyaannya Pak Bimantara," sahut Pak Doni.
"Saya bertanya Pada Serena Pak," ujarnya melihat tajam Pak Doni.
"Ya, Nesya anak yang aku adopsi!" jawab Serena.
"Apa Kau yakin dia anak adopsi! Jika kau tidak keberatan, aku ingin meminta izin mengambil sampel darah Nesya untuk tes DNA."
Semua orang terperangah kaget, terutama Pak Hendrawan dan Mama Mitha yang tak tahu menahu masalah ini.
"Pak Bimo, sebenarnya apa ini, Tes DNA dengan Nesya. Apa Anda sedang kurang sehat juga sehingga ngelantur. Nesya anak yang di adopsi keluarga pak Doni," sela Pak Hendarawan.
Pak Bimantara hanya melirik sekilas Pak Hendarawan. "Tes DNA, hal itu akan menjawab semuanya!" ucap Pak Bimantara lagi.
"Pak Bimantara, sebaiknya jangan terlalu menekan bunda saya!" sela Nesya sambil mengusap punggung bundanya yang sangat tegang.
"Kamu ingin kebenaran! Aku akan bicara kebenaran sekarang." Bunda Serena berucap lirih merasa menyerah. Ia sangat tahu berurusan dengan orang seperti Bimo, pasti bisa berakibat buruk untuk orang di sekitarnya.
.
.
.
.
.
.
TBC .....