Dear Nolan

Dear Nolan
Jangan Rusak



Nesya sudah berpakaian rapi usai membilas tubuhnya dari aktivitas berenang menyenangkan bersama suami tercinta.


Ia hanya perlu memakai riasan tipis sambil menunggu suaminya yang belum keluar dari kamar mandi.


Baru beberapa tahap mengoles wajahnya dengan cream pelembab wajah, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Nesya meraih kerudung langsung pakai, antisipasi kalau orang di balik pintu adalah pelayan laki-laki.


Nesya memutar kunci dan membuka pintu kamarnya. Ternyata dugaannya salah, bukan pelayan yang ada di balik pintu, tapi Mama Mertua dengan wajah sanggar yang tak bersahabat sama sekali.


**A**palagi salah dan dosaku sama Mama mertua. Baru aja kemarin disayang-sayang.


"Ada Ma?" tanya Nesya dengan wajah yang dihiasi senyum lembut.


"Mama mau bicara sama kalian berdua tentang obat ini!" Mama Mitha menunjukkan layar ponselnya.


Nesya langsung membulatkan mata, itu obat kesuburan suaminya? Mama mertua tahu? Nesya langsung keluar dari kamar dan menutup pintu.


"Ma, bisa kita bicara berdua dulu!" Nesya mengandeng lengan Mama Mitha agar menjauh dari pintu kamar.


"Memang kenapa Nes, mama juga mau bicara sama Nolan," ucap Mama Mitha keberatan dengan sikap menantunya.


"Tolong Ma, demi kebaikan Bang Nolan, kita bicara berdua dulu." Nesya merengek dengan harapan mama mertua tidak keras kepala mau mendengarkannya.


"Ya udah, kita ke kamar Mama," ucap Mama Mitha. Wanita dengan rambut bercepon itu melangkah terlebih dulu ke ruangan lain.


Mama Mitha menyuruh Nesya masuk. Pertama kali ia masuk ke kamar mertuanya, kurang lebih besarnya sama dengan kamarnya. Hanya desainnya lebih mewah dengan memilih gaya klasik dengan cat tembok bernama putih gading. Mama Mitha meminta Nesya duduk di sofa di hadapannya.


"Jelaskan sama Mama, kenapa Nolan meminum obat ini. Kata dokter keluarga, Ini obat penyubur untuk laki-laki!" Mama Mitha membuka topik pembicaraan dengan sedikit suara keras.


"Ma, tenang Ma. Nesya akan ceritakan semuanya." Nesya berusaha mendinginkan suasana.


"Nes, jangan bilang kalau Nolan tidak subur, keturunan Mama dan keluarga Adiguna tidak ada yang mandul," ucap Mama Mitha panik.


Nesya mendekati Mama Mitha, duduk di sampingnya. Ia mengusap punggung Mama Mitha yang terlihat begitu syok, padahal Nesya belum berkata apapun.


"Ma, menurut pemeriksaan ketidaksuburan Bang No karena masalah efek samping jangka panjang obat depresi, bukan karena faktor genetik. Mama harus yakin seperti Nesya. Hal itu bisa disembuhkan dengan terapi."


"Kenapa kamu nggak bilang dari awal Nes!" sentak Mama Mitha sambil menyeka air matanya.


"Ma, kita hanya ingin menyelesaikan dan menghadapi masalah kita berdua sebagai suami istri. Kita akan memberi tahu keluarga kalau memang kita sudah berhasil dan diberi amanah oleh Allah."


"Tapi Nes, pengobatan lokal tidak sebagus di luar negeri! Mama harus bicara dengan Nolan! Dia harus berobat di Singapura atau negara manapun yang canggih." Mama minta bangkit dari duduknya.


Nesya ikut bangkit dan buru-buru menahan lengan Mama Mitha.


"Ma, Nesya mohon. Jangan tambah lagi beban untuk Bang No. Jangan buat usaha Nesya beberapa minggu ini sia-sia." Nesya masih menghalangi Mama mertua yang akan menuju pintu.


"Nes, kamu minggir! Ini demi kebaikan kamu dan suamimu juga." Mama Mitha mencoba menepis tangan Nesya.


"Ma, Bang No hanya butuh terapi makanan sehat dan menjaga perasaan tetap bahagia. Berobat dimana pun kalau pikiran pasien stres dan tertekan, hasilnya pasti akan nihil." Nesya berusaha meyakinkan Mama mertua, ia tak mau mama mertua merusak usahanya selama ini, jika nanti Suaminya kembali merasa tertekan lagi karena mengecewakan keluarganya.


Nesya berhasil menghentikan langkah Mama Mitha, ia mulai memikirkan ucapan menantunya itu.


"Ma, yang dibutuhkan Bang No sekarang hanya doa dan dukungan keluarga. Nesya yakin sebentar lagi pasti Bang No sehat dan Nesya bisa memberi cucu untuk Mama dan Bunda."


Mama Mitha memeluk Nesya. "Ya udah Nes, kali ini Mama percayakan Nolan sama kamu."


Nesya membuang nafas lega. "Terima kasih atas pengertiannya Ma, doakan kita ya Ma supaya bisa segera bisa punya bayi lucu."


Mama Mitha melepaskan pelukannya, "Pasti Nes! Jangan kecewakan Mama ya." Nesya mengangguk.


Nesya keluar kamar mama mertua dengan perasaan lega. Akhirnya ia bisa menenangkan Mama mertua dan berharap Mama mertua bisa menahan diri setidaknya satu bulan saja. Ia tahu anak laki-laki selamanya milik ibunya, tapi masalah rumah tangga, ia dan suaminya harus bisa mencari penyelesaian dan melewati berdua. Bukan karena bujukan atau tekanan pihak manapun. Masalah Rejeki, jodoh, maut sudah ada yang mengaturNya. Ia hanya perlu tawakal, berdoa dan berusaha.


"Bang No! Udah selesai mandi? a-ku ... dari kamar Mama," jawab Nesya terbata.


"Aku cariin kemana-mana. Memang kamu ngapain dari kamar Mama?"


Nesya mengandeng lengan suaminya, "Biasa urusan perempuan. Ke kamar yuk Bang, kita berurusan suami istri," jawab Nesya menemukan alasan.


"Masih siang Nes," jawab Nolan.


Nesya memukul lengan suaminya. "Ih, pikiran omes deh, Kita ke kamar mau makan siang. Lapar!" seru Nesya.


Nolan pun terkekeh dan merangkul istrinya menuju kamar.


Siang ini keduanya memang memilih makan siang di kamar, karena setelahnya mereka ingin tidur siang melepas lelah.


Nesya memperhatikan suaminya yang memaksa memakan kerang yang di masak sup merah. Nesya tahu suaminya tidak terlalu suka seafood. Makanan kesukaan suaminya sate atau rendang, tapi kerang banyak mengandung zinc yang baik untuk kualitas spermatozoa pria. Selama program hamil Nesya menghindarikan suaminya memakan makanan yang mengandung Charcoal seperti sate.


"Enak nggak?" tanya Nesya.


"Apapun enak, asalkan kamu yang siapkan Sayang," balas Nolan.


Nesya jadi terharu kalau suaminya jadi penurut begini. Tentu! Ia tidak rela dong, karena kepanikannya Mama Mitha merusak usahanya.


"Sini aku suapin biar makannya lebih enak," seru Nesya mengambil mangkok sup suaminya.


Nolan menatap aneh ke arah Nesya, Nolan kembali meraih mangkok yang di bawah Nesya.


"Istriku Sayang, aku lagi nggak sakit, tanganku masih berfungsi normal. Aku bisa makan sendiri," jawab Nolan.


Nesya langsung cemberut, bisa nggak sih suami modus - modus dikit. Maksud hati Nesya ingin romantis - romantisan dengan acara suap menyuap, tapi lagi-lagi suami tercintanya nggak ada manis- manisnya sama sekali. Datar dan lempeng saja kayak kulit kerang. Padahal itu bagus untuk hormon testosteron.


"Ya udah! Kalau gitu aku yang mau di suapin," balas Nesya berpura merajuk.


"Ya ampun Sayang, kenapa sekarang jadi manja sih!" Nolan mencubit hidung Nesya.


"Biar seru, kita kayak di drama - drama gitu," rengek Nesya mengambil posisi membuka mulut siap untuk di suapi.


Nolan tertawa renyah dan menggelengkan kepalanya. Istrinya ini memang ajaib ada saja ulahnya yang buat ia geregetan dengan Nesya dan membuat suasana hatinya senang. Makan siang keduanya pun berlangsung dengan suap menyuap sesuai keinginan Nesya.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC ...


Nenes sama Bang No masih berjuang buat munculkan benih berkualitas ya dear😁.


jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘