Dear Nolan

Dear Nolan
Melepaskan



Nesya sudah menghabiskan makanan dengan lahap karena ia memang lapar. Suasana hati yang baik membuat dirinya jadi bernafsu makan dan bernafsu yang lain. Eh ....


Bertepatan menyelesaikan tegukan air terakhirnya, suaminya keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan rambut basah, handuknya juga masih melilit si pinggang. Jangan salah, meskipun sudah jadi suami istri, saat seperti ini masih saja mempengaruhi kerja jantung Nesya.


"Udh selesai makan?" tanya Nolan.


"Sudah," jawab Nesya menunjuk piring sisa makanannya.


Nolan menatap istrinya yang sudah berganti baju dengan pakaian tidur terusan berbahan satin yang cukup minim. Wajah pucat Nesya juga berubah menjadi glowing seketika. Entah apa yang dibubuhkan istrinya itu pada wajahnya.


Tentu saja Nesya berdandan kilat secantik mungkin, untuk merebut lagi hati suaminya. Ia ingin malam ini memberi yang terbaik untuk suaminya sebagai penganti kejadian fatal tadi siang.


Nolan mendekat ke arah Nesya yang duduk di sofa. Ia menatap istrinya yang terlihat begitu manis dengan senyumnya yang bisa mengoda iman. Bulu kuduk Nolan mulai meremang menahan sesuatu yang ingin keluar dari tempatnya.


"Sekarang ya Nes, kamu udah sholat isya kan," tanya Nolan. Nesya dengan malu mengangguk ketika suami tercinta sudah ada di hadapannya.


Nolan mulai membelai bibir Istrinya yang nampak basah, bibirnya mulai menyusuri permukaan kulit istrinya. Ia mencium aroma parfum Nesya yang begitu kuat di hidungnya. Ini tidak seperti wangi lavender yang di biasa dipakai istrinya. Entah berapa banyak parfum yang di gunakan Nesya. Jujur! Nolan malah pusing dengan baunya, ia lebih suka aroma alami istrinya.


"Nes, kamu bau!" seru Nolan.


Nesya yang sempat terbuai dan melayang dengan sentuhan suaminya, langsung membulatkan mata dan menghindar. Ia reflek mencium lengannya.


Sangat Harum. Aku yang cewek aja meleleh.


Bagaimana tidak, ia sudah berdandan maksimal lengkap dengan parfum termahal yang ia punya. Dengan entengnya suami tercinta bilang dia bau!


Untung ganteng dan baik, kalau nggak udah aku Pites tuh mulut suami.


"Bang No suamiku sayang, coba cium baik-baik nih." Nesya menyodorkan lengannya pada Nolan karena kesal. "Ini parfum asli Made in Paris. Sebelum melekat di tubuh ini. Parfum ini nyebrang melewati samudra Hindia, terus transit dulu ke Singapura. Nginap dulu di batam beberapa hari, di bawa lagi liburan ke Bali, sempat juga makan siang di Surabaya sambil ganti baju di sana. Sampai akhirnya dimasukan ke dalam truk di angkut ke kota kita.Terus mas-mas pakai jaket merah ketok pintu sambil bilang, paket untuk Mbak Nesya. Puas!" Ocehan panjang lebar Nesya lalu melipat tangannya ke dada.


Nolan malah terkekeh melihat istrinya yang sudah salah paham. Akhirnya Nesyanya yang ribut sudah kembali lagi.


Nolan menangkap wajah istrinya yang cemberut. "Sayang, aku kira kamu tadi ketumpaham parfum, aroma parfum kamu beda dari biasanya. Baunya menusuk banget di hidung."


"Parfum di buat dari bung- ...." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, bibir Nesya sudah di bungkam dengan bibir suaminya. Menyesap lembut semuan rasa disana. Nesya yang sempat kehilangan hasrat bercintanya kini kembali berkobar karena setuhan suaminya.


Nolan mengangkat tubuh Nesya dengan gaya bridal ke ranjang. Ditatapnya mata istrinya yang menginginkan dirinya sama seperti dirinya yang begitu menginginkannya.


Kedua sudah tak terbalut apapun kecuali selimut yang tersampir. Kedua pasangan suami istri ini larut dalam lautan gairah yang mereka ciptakan. Nolan memaksakan dirinya atas Nesya. Nesya menerima setiap hentakan cinta dari suaminya. Seolah melupakan masalah yang ada, keduanya saling menikmati bukti cinta satu sama lain. Menyatu dengan setiap hentakan. Beriringan mende-sah merasakan rasa nikmat yang tak bisa di jelaskan. Hingga setelah beberapa menit, Nesya terkejut bercampur nikmat, merasakan sesuatu yang hangat terasa dalam tubuhnya tanpa memberi tahukannya dulu seperti biasanya.


Nolan melepaskan benihnya ke dalam tubuh Nesya. Tanpa pengaman kali ini


"Bang No sengaja mau buat aku hamil," ucap Nesya di tega nafasnya yang terengah menikmati sisa percintaannya.


"Nggak Sayang, aku udah nggak bisa kontrol. Aku kelepasan, sorry!" Nolan merebahkan tubuhnya di samping Nesya karena tenaganya yang terkuras.


Nesya hanya bisa pasrah karena sekarang ia lelah. Ia akan memikirkan hal ini nanti, banyak cara untuk mencegah terjadi pembuahan.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC .......


Ei cambek ..... kasih double Nih biar kenyang...


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘 lop u selalu Dear