
Bunda Serena mengambil nafas panjang, semua orang menunggu pengakuannya karena paksaan pak Bimantara Raharja.
"Jangan Bunda," bisik Nesya menyeka air matanya yang tiba-tiba menetes. Ia hanya takut trauma sang bunda akan kejadian itu bisa mengguncang kesehatannya.
,
"Tidak apa-apa sayang," balas Serena.
Nesya pun menghormati keputusan bundanya. Terlepas apa yang akan terjadi nantinya.
Entah beginikah jalan yang pilih Tuhan untuk Serena. Ia harus membuka semuanya aibnya di depan semua orang. Rahasia yang ia pendam, bertahun-tahun haruskah terbuka dengan cara paksa seperti ini?
Bunda Serena tidak punya pilihan lain, mungkin saatnya semua orang tahu segalanya. Nesya juga berhak mendapat pengakuan dari ayah kandungnya.
"Bim, apa kamu yakin mau buka semuanya di depan Semua orang! Semua orang akan tahun keburukanmu di masa lalu," hardik Serena.
"Aku tidak peduli, dulu dan sekarang semua orang juga tahu siapa diriku," balas Bima.
"Kamu inget, Bim! 20 tahun lalu. Saat kamu hilang kendali!" Serena mulai terisak, suaranya serak. "Kamu memaksaku untuk melayani ...." Suara terputus mengingat kejadian kelam itu.
"Kamu pria brengsek Bim!" umpat Serena. Membuat semua orang semakin tegang menunggu kebenaran selanjutnya yang diungkapkan Serena.
Bunda Serena menyeka air matanya yang keluar. Mencoba menstabilkan suara seraknya. "Ya, Bim! Nesya memang anak kandungmu yang aku kandung setelah kamu merenggut kehormatanku!"
Bak di sambar petir, Pak Bima Raharja langsung membulatkan mata. Ternyata dugaannya memang benar, Nesya memanglah putrinya. Matanya sangat mirip dengan Serena, wajahnya begitu mirip dengan adiknya. Setiap melihat Nesya ada hal lain yang memang seperti misteri. Akhirnya terjawab semuanya, ia tak perlu melakukan tes DNA, dari awal memang ia sangat yakin ada sesuatu dalam diri Nesya yang berkaitan dengannya.
Mama Mitha menutup mulut begitu terkejut dibalik keanggunan Bu Serena, menyimpan kenangan yang kelam. Sedangkan Pak Hendrawan rasanya mau pingsan. Ia memegang jantungnya berharap baik - baik saja, ia masih menunggu reaksi pak Bimantara. Sepengetahuannya Pak Bimantara memang belum mempunyai anak meskipun sudah beberapa kali, menikah dan bercerai.
"Karena perbuatan iblismu Bim! Aku harus jadi ibu paling buruk di dunia karena meninggalkan Nesya di panti asuhan!"
"Aku menutupi indentitasnya dan menjadikan anakku merasa dirinya yatim piatu selama bertahun-tahun! Aku benci kamu Bim! Kamu bayangkan ibu seperti apa aku, karena kamu!"
Nesya mengusap punggung bundanya, ia berharap bundanya segera mengakhiri pengakuannya ini didepan banyak mata. Tubuh bundanya semakin bergetar, ia malah lebih takut terjadi sesuatu dengan bundanya.
"Seren! Bukan hanya kamu, aku juga hidup dalam rasa bersalah! Setelah kejadian itu, aku kembali ke kota ini dan mencari kamu! Tapi aku tidak menemukanmu karena menurut info yang aku dapat, kamu di luar Negeri! Aku juga cari kamu di luar negeri, tapi tak juga menemukan kamu!"
"Setiap malam aku selalu bermimpi mendengar tangisan bayi! Aku semakin yakin kamu mengandung anakku! Tapi sekeras apapun aku mencari, aku tak pernah bisa menemukan kamu!"
"Jika kamu berbicara karma! Aku juga di hukum Tuhan bertahun-tahun! Aku sudah menikah dua kali, tapi belum juga mempunyai anak!"
"Semua orang melihat hidupku sempurna, tapi aku hanyalah orang yang hidup dalam rasa bersalah!" ungkap Pak Bimantara.
"Seren, aku tidak harus seperti apa untuk menebus kesalahanku. Aku benar-benar menyesali semuanya."
"Semuanya sudah terlambat dan berlaku Bim!"
"Seren, maafkan aku. Aku akan melakukan apapun agar mendapatkan maaf darimu. Dan mohon sekarang atas ijinmu, bolehkan aku memeluk putrimu." Pak Bimantara tak bisa lagi menahan kebahagiaan mengetahui Nesya adalah putrinya.
"Tolong, aku ingin memeluk putriku," pintanya lagi memelas.
Bunda Serena tidak menyangka orang keras dan arogan seperti Bimantara Raharja bisa menjadi lemah seperti sekarang karena mengetahui kebenaran. Tidak ada yang salah memberi Nesya kesempatan merasakan kasih sayang ayah kandungnya.
Serena menoleh ke arah suaminya, Pak Doni mengangguk mengijinkan. Ia melihat penyesalan yang tulus dari Pak Bimantara Raharja.
Bunda Serena mengengam tangan Nesya. "Dia ayah kandungmu Nak, terlepas dari semua kenangan kelam di masa lalu, dia tetaplah ayah kandungmu. Sambutlah dengan hati yang lapang, temui dia sebagai seorang ayah," pinta Bu Serena. Nesya menggangguk mendengar perintah bundanya. Nolan juga mengangguk ketika Nesya melihat kearahnya meminta pendapat.
Nesya mengengam tangan Nolan. Ia melangkah bersama mendekat menemui Pak Raharja.
Kini ayah dan anak yang baru terkuak jati dirinya saling bertatapan. Meskipun hatinya masih berkecamuk, ia meraih tangan ayah kandungnya itu sebagai bakti pertama.
Tanpa menunggu jeda, Pak Bimantara langsung meraih tubuh Nesya dan mendekapnya penuh kasih sayang dan penyesalan. Air matanya pun pecah tak peduli orang di sekelilingnya. Ia terlalu bahagia menerima kenyataan bahwa ia memang punya seorang anak.
"Maafkan ayahmu ini Nak. Apapun akan aku lakukan untuk menembus kesalahanku di masa lalu."
Nesya tak bisa berkata apa-apa lagi, meskipun sedikit canggung, tapi ia membalas memeluk tubuh pria yang sekarang tahu dirinya adalah anak kandungannya. Akhirnya selama bertahun-tahun ia bisa merasakan langsung pelukan dari ayah kandungnya.
Pak Bimantara melepaskan pelukannya, ia memegangi kedua pipi Nesya.
"Pak Rahar ...."
"Tolong panggil aku Ayah nak, aku memang ayahmu kan," sela Pak Bimantara dengan derain air mata yang masih merembes.
"A-yah, setiap orang pasti punya masa lalu yang baik atau pun buruk. Dengan ayah meminta maaf penuh penyesalan, bagiku itu cukup. Tidak perlu memperpanjang masalah ini lagi," ucap Nesya, Allah saja mau mengampuni hamba-Nya yang bertobat. Kenapa dia manusia yang diciptakan dari setetes air hina tidak bisa memaafkan ayah kandungnya.
"Terimakasih Nak, pasti ibumu yang mengajarkanmu jadi anak berhati emas seperti ini."
"No, kemari," Pak Bimantara juga ikut memeluk Nolan. "Jaga Nesya dengan baik No, aku sangat yakin kamu suami yang baik dan bertanggung jawab."
"Pasti Pak, terima kasih juga sudah membuat Nesyaku yang unik ada di dunia ini," balas Nolan.
Mama Mitha menghapus air matanya, ia tak menyangka akan menyaksikan kejadian dramatis ini di rumahnya. Seorang anak yang akhirnya menemukannya ayah kandungnya.
"Pa, papa kenapa?" tanya Mama Mitha melihat pak Hendrawan yang melonggo tak berkedip.
Pak Hendrawan bangun dari terperangahny. "Ma, kita nggak lagi mimpi kan, Nesya anak kandung dari Pak Bimantara Raharja. Anak satu-satunya. Suruh pelayan ambil obat jantung Papa Ma," ucap Pak Hendrawan.
"Iya Pa, iya!" Mama Mitha panik segera membisikkan pada pelayan perintah suaminya.
"Pak Hendra," Pak Bimantara memeluk Nesya menghampiri Pak Hendrawan.
"Ya Pak Bimo," jawab Pak Hendrawan.
"Terimakasih sudah mengajukan permintaan investor ke perusahaan saya. Hingga saya bisa menemukan kebahagiaan sebesar ini bertemu dengan anak saya."
"Sama-sama Pak Raharja, Nesya menantu kesayangan saya, dari pertama saya sudah menganggap Nesya seperti anak saya sendiri, benar kan Nak," Seru Pak Hendrawan melirik ke arah Nesya, berharap Nesya membenarkan perkataannya.
Nesya tersenyum dan mengangguk mengiyakan saja ucapan Papa mertua yang mungkin sedikit melenceng dari fakta.
"Terimakasih sudah menjadi mertua yang baik untuk putri saya, Saya pastikan investasi di perusahaan Adiguna tidak perlu pertimbangan lagi."
"Terima Kasih Pak Bimo," jawab Pak Hendrawan merasa untung sekaligus malu pada Nesya.
"Maaf saya menyela, sungguh ini hari yang mendebarkan sekaligus mengejutkan kita semua. Terutama untuk Nesya, ibu Serena dan juga Pak Bima. Jika semuanya sudab tenang, apa tidak lebih baik kita makan terlebih dulu, saya mengkhawatirkan keadaan Nesya dan bayinya jika terlalu tegang." Sela Mama Mitga yang lebih mencemaskan keadaan Nesya.
Pak Bimantara melihat kearah Nesya, mencari pembenaran ucapan Mama Mitha.
"Ya Yah, aku hamil, anak kembar," seru Nesya.
Pak Bimantara memeluk Nesya lagi merasa kebahagiaan bertambah dua kali lipat.
"Ini pasti dari keturunan ayah, Kakek kamu juga kembar," balas Pak Bimantara menjawab rasa penasaran Nesya silsilah bayi kembarnya.
Suasana kembali tenang dan kondusif, semua sudah saling menerima satu sama lain. Mama Mitha membimbing semua orang menuju meja maka untuk makan malam. Semua menurut demi Nesya dan juga bayinya.
.
.
.
.
.
.
.
TBC ......
Udah puajang ya dear .....