Dear Nolan

Dear Nolan
Ada Apa?



Kenapa? kenapa aku nggak bisa membuat orang yang aku cintai bahagia!" lanjut Nolan masih dengan nada keras.


Nesya mengelus dadanya kaget, melihat suaminya yang berubah setelah tahu hasil pemeriksaan lab. Ternyata hal itu cukup menguncang batin suaminya. Nesya akan berusaha menenangkan suaminya dan memberi pengertian.


Nesya mengenggam tangan suaminya yang memegang setir. "Bang, kata siapa Abang tidak bisa membuat orang yang Abang cintai bahagia. Justru ini saatnya kita bersyukur. Abang sendiri kan yang bilang sama aku, kalau kita diberi ujian, itu artinya Allah masih sayang sama kita. Mungkin Allah menguji kesabaran kita." Nesya berusaha berkata bijak. Tapi Nolan tidak berhenti meluap kekecewaannya, ia masih menumpuhkan kepalanya di atas setir.


"Bang," Nesya memberanikan diri menyentuh dagu suaminya agar mendongakkan kepala melihat dirinya.


"Abang, kita harus bersyukur, yang ada masalah kesuburan itu suami. Bayangkan kalau yang dapat masalah kesuburan itu aku, istri."


"Apa bedanya Nes! Tetap saja aku nggak bisa membuat kamu hamil kan," jawab Nolan dengan emosi.


"Jelas beda Bang, kalau yang kena masalah kesuburan itu Istri. Pengobatan yang dibutuhkan akan lebih sulit dan lama. Misal terkena kista atau miom aja, wanita itu harus menjalanani berbagai tindakan medis untuk bisa hamil. Istri harus operasi, pemulihan rahim, penebalan dinding rahim, penguat rahim, dan banyak terapi lain. Sedangkan Abang! Hanya masalah kesuburan karena efek samping obat, IsyaAllah tidak perlu tindakan medis yang rumit. Hanya perlu terapi obat kesuburan dan kesabaran hati. InsyaAllah, nggak akan lama lagi Abang bisa kembali normal. Apalagi Abang rajin olahraga dan menjaga pola makan. Aku yakin sebentar lagi kita pasti lihat perut aku buncit." Nesya menceramahi suaminya sambil memegangi perutnya, setidaknya ia berusaha mengurangi rasa bersalah suaminya.


Nesya bisa merasakan suaminya bisa sedikit melemaskan wajah. Nolan menatap wajah istrinya yang memegangi pipinya.


Nolan tersenyum sinis. Ia berpikir, apakah istrinya hanya mencoba menghibur dirinya saja?


"Aku tahu Nes, kamu hanya mau coba hibur aku aja kan dengan penjelasan kamu," ucap Nolan.


"No! Aku dokter bang Bukan dukun tebak. Aku bicara berdasarkan riset dan fakta yang aku temui di lapangan, masih nggak percaya," bantah Nesya meyakinkan suaminya.


Nolan mulai melepaskan senyum, ia meraih kepala Nesya dan mencium dengan lembut kening istrinya.


"Ya Nes, makasih udah jadi istriku Nes," ucap Nolan. Entah kenapa, setiap perkataan Nesya seperti penganti obat penenang yang membuatnya menjadi rileks.


"Udahan yuk acara mogok di pinggir jalannya, kita pulang. Nanti kita di kira mesum senja - senja begini," seru Nesya. Perasaan Nesya lega karena suaminya mulai melembut dan senyum tak lepas dari bibirnya.


Nolan menarik tuas transmisi, "Ayo kita pulang."


Mobil mereka pun masuk kembali di jalanan aspal.


...****************...


Nolan dan Nesya masuk bergandengan tangan ke dalam rumah. Bertepatan dengan itu, mama mertua berjalan menuju meja makan.


"Baru pulang," tanya Mama Mitha ketika berpas-pasan dengan menantu dan putranya.


"Ya Ma," jawab Nesya meraih punggung tangan Mama mertua.


"Udah sholat kan, ayo kita makan dulu," ucap Mama Mitha.


Nesya mengangguk, Mama Mitha mengajak dua orang itu ke meja makan.


Entah apa yang terjadi pada Mama mertua. Apa di korban sinetron azab atau apalah itu. Sejak hari-hari kemarin. Beliau tak pernah lagi membahas masalah anak, biasanya ketemu mata dengan Nesya saja Mama mertua langsung meluap-luap ingin punya cucu darinya. Sekarang malah sebaliknya, melihat Nesya mama mertua kembali jadi ibu peri untuk menantunya seperti dulu. Meskipun tidak sebaik dulu sih, tapi setidaknya Mama Mitha tidak bicara kata yang menusuk sanubari Nesya yang gampang melempem seperti kerupuk.


Nesya pun bisa tenang sekarang, dengan begitu Mama mertua tak perlu tahu keadaan Bang Nolan yang kesuburannya kurang baik. Hal itu bisa membuat suaminya semakin tertekan karena mengecewakan Mama tercintanya.


Tugas tambahan Nesya sekarang menjaga mood baik suaminya dan membantu terapi suaminya agar kepercayaan diri suaminya kembali pulih.


Semua nampak tenang dengan suasana makan malam ini, Bang Davin dan Abel sudah kembali ke ibukota, papa mertua juga tidak ada. Meja makan besar ini jadi terasa longgar untuk tiga orang.


"Belum pulang, katanya lagi ada urusan di kantor, Papa mau buka kerjasama lagi sama investor baru."


"Oh, Papa udah tua Ma, jangan terlalu di porsir untuk kerja, kan banyak orang bawahan Papa yang bisa di andalkan."


"Namanya juga Papa, dia paling nggak bisa rugi, kamu tahu sendiri kan akhir-akhir ini perusahaan kita mengalami sedikit kerugian. Untung ada Davin yang bisa ambil alih masalah ini."


"Alhamdulillah kalau kayak gitu Ma," jawab Nolan.


"Makanya Mama berharap nanti kamu dan Davin bisa punya anak yang banyak. Biar nanti anak-anak kalian saja yang jadi penerus perusahaan keluarga, perusahaan yang udah di didirikan kakek dengan susah payah," ucap Mama Mitha.


"InsyaAllah Ma," jawab Nesya karena Nolan mendadak diam. Nesya tahu suaminya pasti langsung kepikiran masalah tadi.


Mama Mitha yang Mendadak kesal karena Nesya yang menjawab pertanyaannya. Dalam pikiran Mama Mitha bukannya Nesya yang tidak mau hamil, kenapa sekarang ia malah menjawab begitu semangat tapi memberi harapan kosong.


"Tapi kan kamu nggak mau hamil Nes, harapan Mama untuk punya cucu dari Nolan sia-sia." Mama Mitha kembali terpancing emosinya.


"Ma, udah Ma," seru Nolan melihat Mamanya mulai naik darah lagi.


"Mama bicara kenyataan No, memang istriku seperti itu, kalau bukan karena kamu Mama tuh udah omelin tiap hari," ucap Mama Mitha.


"Nesya sudah memutuskan untuk mau hamil Ma, tapi malah aku yang nggak bisa buat dia hamil!" Nolan berkata keras dan meletakan sendoknya. Ia berdiri dan meninggalkan meja makan ke lantai atas.


"Apa maksud kamu No!" Mama Mitha meneriaki Nolan yang menaiki tangga.


Nesya merasa ketenangan berapa menit lalu sia-sia. Kini suaminya pasti merasa tertekan lagi karena Mama Mitha.


Mama Mitha memegang lengan Nesya. "Nesya, sebenarnya apa yang terjadi!"


"Tidak apa-apa Ma, Mama nggak perlu kuatir, Nesya mau susul bang No ke atas." Nesya mengelap mulutnya dengan tisu dan segera berdiri agar tidak di berondong pertanyaan oleh mama mertua.


Nesya merasa belum siap memberi tahu Mama mertua, ia tak ingin suaminya semakin sedih karena rasa iba dari Mamanya.


.


.


.


.


.


.


.


TBC ......


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘