Dear Nolan

Dear Nolan
Jet Pribadi



Ruang UGD masih sibuk dengan kegiatan penanpgangan pertama pasien yang berdatangan. Tak semua dalam ruangan ini adalah pasien dengan kondisi berat. Kadang juga pasien yang mengalami gegala ringan. Seperti sekarang, Nesya usai menyuntikkan pasiennya dengan pereda keluhan lambung.


"Tunggu sampai satu jam ya, kalau keluhannya reda sudah boleh pulang." Nesya berpesan pada pasien, diikuti agukan mengiyakan dari pasien.


Nesya meninggalkan bilik pasien menuju mejanya. Lagi-lagi ia memikirkan kejadian tadi pagi. Jika ditanya siapa yang paling tidak tahan untuk berdiam-diaman. Jawaban adalah Nesya, Ia mengetuk-ngetuk pulpen di meja. Ia tak tahan rasanya ingin melihat ponsel, melihat reaksi Nolan. Apakah ia kesal padanya karena tadi ia berdebat pagi-pagi. Nesya hanya berbicara fakta kalau Bang Davin, Kakak Nolan memang tampan.


Tapi Bang Nolannya juga nggak kalah ganteng malah lebih ganteng cowok aku. Batin Nesya mengangumi kekasihnya.


Mereka dua bersaudara yang tampan. Harusnya Nesya berkata seperti itu pada Nolan biar adil.


Nesya menunggu waktu pulang yang terasa lama. Ia tak sabar lagi harus menunggu makan siang, ia harus menghubungi Nolan dan mengakhiri diam mendiamkan seperti ini. Nesya mengirim pesan pada Nolan.


Nesya


Udah ah diam diamnya sama ambek-ambekannya😍


Nesya masih mengetuk ponselnya berharap mendapat balasan secepat kilat dari Nolan seperti biasanya. Tapi waktu berlalu sudah hampir sepuluh menit tidak ada balasan. Bahkan Nesya sempat memeriksa satu pasien. Padahal Nesya yakin jam segini kekasihnya itu pasti bersantai di ruangan.


Ok fine, kamu ngambek aku juga ngambek.


Nesya meletakan ponselnya lagi ke dalam Tas. Belum sempat menutup resleting tasnya, bunyi nada dering telepon terdengar. Nesya dengan sigap langsung membongkar kembali tasnya.


Bang No milikku


Calling ....


Nesya langsung secepat kilat menekan tombol deal, ia lupa kalau kekasihnya itu malas membaca chat.


"kenapa?"


Hedeh ada yang amnesia mendadak atau aku yang terlalu pede. " Masih marah, kenapa nggak ada kabar seharian."


"Siapa yang marah? dan marah karena apa?"


Tuh kan pura-pura lupa. "Tadi pagi Bang Davin."


"Kan udah aku bilang enggak usah dibahas! aku nggak suka, kamu muji-muji laki-laki lain di depan aku."


"Ya ... Ya, aku nggak akan usut lagi. Kenapa seharian nggak ada kabar?"


"Bengkel rame awal bulan. Sebentar lagi aku jemput!"


Sambungan telepon pun terputus. Setidaknya kesalahan pahaman kecil berhasil di lewati Nesya. Ternyata nggak mudah memahami pasangan, mungkin itu untungnya kita mencoba saling memahami karakter masing-masing.


Bagaimana serunya nanti kita berumah tangga, dua hati yang berbeda menyatu dalam janji sakral. Pasti banyak kekurangan dan kita saling melengkapi. Oh ... manis banget jadi nggak sabar pengen cepat kawin. Hush ... maksudnya nikah. Nesya menepuk jidatnya. Menyadari jam sudah sore, ia bersiap berkemas sebelum sopir kesayangan menjemput.


...****************...


Tak terasa hari demi hari berganti. Nolan berhasil menang lomba, meskipun menjadi runner-up lomba modifikasi mobil se-provinsi yang di selenggarakan produsen rokok. Ia berhak mendapatkan hadiah 50 juta rupiah. Ya, meskipun jumlah hadiah yang di dapat tidak sebanding dengan hasil memodifikasi yang menghabiskan dana hingga ratusan juta, tapi itu tidak masalah bagi pencinta otomotif seperti dirinya.


Menurut Nolan itu sudah sangat lumayan, untuk tambahan modal nikah tutur Nesya. Bukan masalah uangnya, tapi ada kebanggaan tersendiri menjadi runner-up dari ribuan mobil yang dilombakan. Terlebih Nolan akan membuka cabang bengkel mobilnya yang sudah mulai tahap renovasi. Tentunya itu sangat bermanfaat untuk ajang promosi dan mengaet para pengunjung untuk datang ke bengkel barunya kedepannya.


Meskipun di acara lomba sempat ada perdebatan antara Nesya dengan SPG yang menunggu mobil Nolan. Bukanya apa, Nesya kesal melihat tiga wanita yang berprofesi sebagai SPG itu mendekati Nolan dan memegang-megang lengannya. Itu hal wajar, karena Nesya melihat perserta lain juga di dampingi SPG.


"Bang No, kenapa mau di pegang-pegang!" seru Nesya ketika perjalanan pulang.


"Ya Ampun Nesya, aku kan di potret karena pegang Giant cek, itu juga instruksi fotografer." Penjelasan Nolan.


"Bagi nanti hadiahnya," canda Nesya.


"Simpan buat tambah-tambahan modal nikah," canda Nolan.


"Bilang aja pelit," ujar Nesya.


"Nggak Nes, apapun yang kamu mau pasti aku turuti selama aku mampu."


"Ya, aku pegang nih kata-kata Bang No," ucap Nesya.


Nolan hanya tersenyum melihat Nesya. "Asal jangan minta jet pribadi, aku nggak bakalan mampu beli," canda Nolan lagi.


"Hedeh baru mau minta itu, tapi aku cukup terbang kesana kemari dan mendarat di hati Bang No aja nggak perlu jet pribadi." Gombal Nesya menggelayut di lengan Nolan.


"Nes, jangan begini ah ... aku lagi nyetir bahaya. Lagi pula jangan terlalu sering pegang-pegangan, nanti kita puasin kalau sudah halal."


"Ih ... tadi sama SPG pakai bikini di biarin aja pegang-pegangan." Nesya mengerucutkan bibirnya.


"Mereka pake baju Nesya hanya minim, lagi pula aku dipegang-pegang waktu terima giant cek." Nolan mengelus sekilas pipi Nesya.


"Ya ... alasan senang juga kan." Nesya masih merajuk.


"Aku sukanya yang terbungkus kayak kamu Nes, biar nanti kalau halal hanya aku yang lihat kamu seutuhnya."


Nesya jadi berpipi merah, ucapan yang keluar dari mulut Nolan selalu saja membuatnya tulang dan persendian lemah.


"Ya udah fokus nyetir, lampu merah tuh depan," ucap Nesya mengalihkan pembicaraan karena malu - malu meong.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC......


sambungannya sebentar lagi 😍