
Malam ini, siapapun pasti tidak ada yang bisa tidur dengan nyenyak, mengingat esok hari adalah hari paling bersejarah dalam hidup. Tanpa terasa hari-hari begitu cepat berlalu, besok adalah hari pernikahan Nolan dan Nesya.
Malan ini Nolan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Serangakaian acara sebelum pernikahan di rumahnya membuatnya lelah. Padahal dulu waktu kakaknya menikah tidak seheboh pernikahannya sekarang. Hampir seharian ia tidak melihat ponselnya. Ia merindukan calon istrinya. Sedang apa dia sekarang? apa di juga merindukannya seperti dirinya kini? walaupun keduanya tak bertemu cuma satu Minggu.
Tapi besok ia akan bersama Nesya sampai kapanpun. Refleks bibir manisnya tersungging mengingat Nesya. Ia melihat sebelah ranjangnya yang kosong. Apa besok ia akan tidur bersama Nesya? bisa memeluknya, bisa merasakan hangatnya setiap dekapannya. Pikiran Nolan bergerilya membayangkan saat indah bersama Nesya. Ia jadikan guling pelampiasan sementaranya. Seandainya guling bisa bicara, benda tabung itu pasti akan meronta karena di hujani dengan ciuman. Ternyata benar kata orang jatuh cinta bikin orang gila.
Ia jadi gemas sendiri dan ingin malam segera berlalu. Ia ingin segera bertemu Nesya, dan besok ia juga akan jadi orang yang paling bahagia bisa bersatu dengan orang yang di cintainya.
Nolan kesal karena belum mendapatkan balasan dari Nesya. Sejak siang pesan yang terkirim sudah tak terhitung. Nolan maklum saja mungkin smaa, di rumah Nesya juga sesibuk di rumahnya. Tapi sekarang ia sangat merindukan calon istrinya itu, ia ingin video call atau hanya sekedar mendengarkan suaranya saja.
Kangen Nes kangen, Nolan terus memaki ponselnya yang tak bersalah.
Jam menunjukkan pukul sepuluh itu artinya tinggal hitungan jam ia akan memiliki Nesya seutuhnya. Lagi-lagi Nolan tidak bisa memejamkan matanya. Rasa kangen, canggung, gugup menyeruak menjadi satu. Apa ini yang di rasakan setiap orang yang akan menikah. Ia sudah sangat hapal lafal ijab qobul, entah besok ia bisa mengucapkannya dengan lancar atau nggak?
Ting ....
Bunyi pesan yang masuk dari ponselnya, langsung membuat Nolan dengan cepat meraih ponselnya di atas nakas.
Nesya Nabilla
Di rumah lagi rame, banyak acara. Baru sempat cek hape.
Nolan langsung saja menekan tombol dial, ia lebih suka langsung melakukan panggilan video daripada berbalas pesan. Tak lama wajah Nesya terlihat di layar ponselnya.
"Ya Bang, aku baru bisa Istirahat. Kangen ya!"
"Kok kamu tahu sih?"
"Ya, aku punya kontak batin kita kan satu hati."
Nolan tertawa kecil. "Kamu kangen nggak."
"Kangen dong, malahan pengen cepat pagi terus kita ketemu dan ... jadi malu."
Nolan tersenyum sendiri mendengar ocehan Nesya. "Ya udah kalau kamu istirahat."
"Lah ... cuma gitu doang, serius aku belum ngantuk!"
"Ya, Pak Adiguna. Yakin nggak mau ngobrol tentang apa gitu. Misal malamnya mau ngapain habis nikah."
"Kita istirahat aja ya, aku udah lega denger suara kamu. Sebentar lagi aku bakalan terus denger suara kamu setiap bangun pagi."
"Ih ... ya udah sampai ketemu besok, hapalin ijab Qabulnya jangan bikin malu."
"Udah di luar kepala, kamu istirahat besok biar fit."
"Oke, I love you calon suamiku."
Nolan hanya tersenyum lalu menutup teleponnya. Ia bernafas lega setelah mendengar suara Nesya. Ia segera menarik selimutnya, berharap bisa tidur malam ini dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk hari bahagianya esok.
...****************...
Di tempat yang berbeda, Nesya sedikit kecewa karena calon suaminya itu hanya menelpon sebentar dan membicarakan hal yang tidak terlalu penting. Kode-kode yang di berikan Nesya pun tak mempan. Padahal dia ingin sekali membahas, bagaimana nanti menjelang malam pertama yang akan menjadi pengalaman pertamanya. Mau langsung tancap gas, atau nunggu waktu bulan madu. Nesya mengigit sprei batal, membayangkan besok pagi terutama malamnya.
Ia melepas kerudung dan gaun yang di pakai pengajian pernikahan tadi. Ia segera merebahkan diri di tempat tidur, berharap malam ini segera berlalu berganti pagi. Dan esok ia akan berubah status dari lajang menjadi Nona Adiguna.
"I love you Bang No, kita lihat besok malam, siapa yang jadi garang." Nesya berbicara pada guling beruang yang besok akan pensiun menemani tidurnya. Nesya punya boneka beruang hidup yang lebih hangat besok.
.
.
.
.
.
.
TBC.....
nggak sabar 😘😘😘